Ada Sehelai Rambutmu, Kumpulan Puisi Melkisedek Deni
Cari Berita

Ada Sehelai Rambutmu, Kumpulan Puisi Melkisedek Deni

MARJIN NEWS
15 November 2018

Gambar: Ilustrasi
Ada Sehelai Rambutmu

Di sini dikau pernah menempel tubuh itu,
Bercerita tentang suratan terakhir ayahmu,
Sebelum direnggut nabi maut.
Masih bernafas dengan tatapan teduh merayu.
Memeluk di dada sebatang tangan ini.
"Peluklah aku seumur hidupku. "
Di sini masih dan 'kan abadi.
Dikau menjadi mangsa maut sebelum siang.
Ini aku memelukmu setiap waktu.
"Peluklah aku seumur keabadianmu, " pintaku padamu.
Di sini, masih ada sehelai rambutmu,
Tuk ku buktikan akulah pemelukmu di sudut bibir pantai.


Jangan Bunuh Heningku

Rasa yang terpahat pada dinding biara,
Menelan gairah dari tubuh elok dedaunan kering.
Heningku ialah aku yang manusia menenun tenda surga.
Bunga di tepi jalan menawar nikmat di ruang biru,
Dengan seonggok daging yang berliang kumal,
Tempat hunian para penopeng berhidung belang.
Hening ini diaborsi amat tragis-brutal secepat itu.
Kini rahim heningku serentak pingsan kerut-merut.
"Bunga, jangan bunuh heningku."
Heningku ialah mazmur terkhusuk tuk kembalikan bunga ke umur lima tahun.
Lima tahunmu menjadi Aminku nan abadi.


Menari di Langit

Tapak-tapak penenun waktu,
Menginjak duri-duri tajam nan panas
Meski tubuh menguning layu,
Tapi langit tetap menggebu pun mendesak kalbu

Kejarlah waktu dengan memikul seonggok asa.
Bertempur dengan detik tuk hancurkan batu batu karang yang menantang.
Tebaskan pisau congkak hati,
Menganyam iman,
tuk bisa menaklukkan liarnya dunia.
Langkahku terus berlaju, tuk tebarkan pesona mata,

Ku tabrak peliknya cacat-cacat hidup.
Ku tak mau bertoleh pun berem sesaat,
tuk menuai buah yang unggul.
Teruslah maju imajinasi,  di langit itu, menari ria.


Bertopeng di Dunia Telanjang

Aku terlempar dari dunia akhir,
Ke keabadian dunia awal nan liar,
Yang selalu 'bermain' dengan harapan akhir.

Aku bertubuh telanjang menari ria penuh gairah,
Ternyata diselimuti mata para cermin yang telanjang,
Mencabik-cabik topeng-topeng dustaku,
Ternyata aku sedang telanjang di dunia telanjang.

Aku berlari telanjang dari bibir pantai munafik,
Memikul lalim, aku sendiri hamili bertahun-tahun yang lalu,
Tuk diaborsi dengan tragis di negeri seberang.

Aku berteduh di terminal rintih-resah,
Berpeluk kesal sayat, aku makin kerdil kerontang,
Yang ingin segera dijemput martir kebakaan.

Oleh: Melkisedek Deni
Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero Maumere, pernah menulis puisi di Pos Kupang, Flores Pos, Florespost.co dan Floresmuda.com.