24 WNI Ditangkap di Kepri, Minim Lapangan Kerja Jadi Alasan Utama Mereka Nekat Jadi TKI
Cari Berita

24 WNI Ditangkap di Kepri, Minim Lapangan Kerja Jadi Alasan Utama Mereka Nekat Jadi TKI

MARJIN NEWS
21 November 2018

Foto: Istimewa
BATAM, marjinnews.com - Upaya pencegahan pengiriman TKI ilegal ke Malaysia oleh Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Kepulauan Riau sudah dilakukan, namun belum bisa membendung peningkatan jumlah aliran masuknya TKI ke Malaysia di perbatasan. Selain itu, beberapa kasus belakangan soal maraknya penganiayaan TKI oleh majikan dan beberapa kasus kecelakaan kapal TKI ilegal bahkan tidak lantas menyurutkan niat TKI untuk pergi mencari nafkah di Malaysia.

Kasus terakhir, Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Kepri mengamankan 24 TKI ilegal yang akan berangkat ke Malaysia melalui jalur ilegal. Mereka diamankan pada Rabu (14/11/2018) pekan lalu.  Para TKI ilegal ini menumpang kapal yang dinahkodai OA dengan ABK berinisial Y. Keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Kepri menjemput para TKI ilegal tersebut dengan Kapal Baladewa.  Direktur Ditpolairud Polda Kepri Kombes Pol Benyamin Sapta mengatakan keberhasilan untuk mengaggalkan penyelundupan TKI ilegal ini berkat adanya informasi dari masyarakat. Saat ini 24 TKI ilegal tersebut sudah diserahkan ke Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (P4TKI) Batam untuk dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing.

 "Untuk Y dan OA sudah kami tetapkan sebagai tersangka," kata Banyamin, Senin (19/11/2018) lalu.

Dari hasil pemeriksaan terhadap 24 TKI ilegal tersebut, Benyamin mengaku rata-rata mereka nekat bekerja ke luar negeri lantaran berbagai alasan. Pertama, mereka tergiur besarnya penghasilan yang dijanjikan di Malaysia. Kedua, kenekatan mereka juga dikarenakan minimnya lapangan pekerjaan di daerah mereka masing-masing.

"Rata-rata mengaku akibat minimnya lapangan pakerjaan di Indonesia. Makanya mereka nekat ke luar negeri meski tahu tahu perlakuan di Malaysia sangat kasar," ungkap Benyamin seperti dilansir kompas.com.

Para TKI ilegal tersebut mengaku mereka tidak lagi memiliki pilihan. Sementara kebutuhan hidup terus mengalami peningkatan.

"Kalaupun ada lapangan pekerjaan di Indonesia, penghasilannya jauh dibawa standar dan tidak seimbang dengan harga pangan yang dijual di pasaran," jelas Benyamin, menirukan salah satu pengakuan TKI ilegal.

Harus bayar uang transportasi Sementara itu Kabid Humas Polda Kepri Kombes Erlangga mengatakan saat melakukan penangkapan. Posisi kapal speed boat sudah akan berangkat menuju Malaysia.

"Dari 24 TKI, diantaranya terdapat dua orang perempuan yang berasal dari daerah Lombok," jelas Erlangga.

Untuk tiba di Malaysia melalui jalur gelap ini, masing-masing TKI ilegal ini harus membayar uang transportasi mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta rupiah. Modus yang digunakan juga masih terbilang sama. Para TKI ini diiming-imingi penghasilan yang tinggi di Malaysia.

"Atas perbuatan kedua tersangka, kami jerat pasal 81 jo 69 undang-undang nomor 18 tahun 2017 tentang perlindungan imigran dengan ancaman 10 tahun penjara dan denda sebesar Rp 15 miliar," pungkas Erlangga. (EC/MN)