Yofani, Izinkan Aku Mengecup Desembermu

Foto: Ilustrasi. Heldiana

Hujan kembali turun, basahi hati yang hampir kering tak tergenang asmara. Dedaunan menari ria menyambut setiap tetesannya. Bunga pun ikut bermekaran di tengah taman. Kala itu, tepatnya di penghujung September, semua harapan terasa majal. Suasana hati tak karuan dalam melahap percikan rasa dan asa yang menampar langkah.

Jeritan rindu dari palung hati tak mampu dibendung.  Pelbagai cara di seduh dengan tulus. Sayang, rupanya waktu belum saatnya berdering untuk memanggil aku memetik buah dari proses yang berlangsung panjang.

Pagi itu, aku hampir lupa menikmati mentari pagi. sebab tetesan embun yang membening dengan manja derai pipi.  Gemuruh angin datang mencekam mendahaga langkah yang kerap tertatih dalam menerkam sosok gadis fenomenal.

Segenggam harapan tersaji meyambut pagi dan secangkir kopi di diamkan karena rasa yang membelenggu jiwa kian menyiksa. Sejenak terdiam, seraya memikirkan hidup yang penuh tanya. Hidup ini misteri.

Separas mawar terpantul dalam lembayung senja. Dan dia berhasil ku lukis dalam kertas tua yang kusam menanti kisah bersajak rindu. Dia adalah Bunga dari jutawan rasa yang telah dirajut oleh puing-puing rindu. Sosok yang sederhana, jauh dari pencitraan asmara yang ingin mengusap cela di hadapan pujangganya. Sebut saja namanya Yofani.

Dia baik, cerdas dan suka menulis, salah satu yang telah dituliskannya adalah menulis namaku di dinding facebooknya hingga di banjiri ribuan jempol dari facebokers. Mungkin, jika sosoknya dibukukan, akan menjadi best seller dari edisi asmara seperti yang di giati oleh penulis handal di belahan bumi ini.

Tetapi sudahlah, biarkan aku memuja dan mencintainya dari sudut yang berbeda. Cukup lampirkan nama dan fotonya pada cover undangan nanti. Eh, undangan nikah tentunya. Ini jauh lebih istimewah dari segalanya.

Bidan Yofani, begitu ia disapa oleh keluarga dan sahabatnya. Pertama kali mengenalnya saat aku sakit. Tentunya tidak lain, yaitu sakit hati dengan dunia yang begitu kejam membiarkan aku di landa sepi.

Tempo itu sebenarnya cukup parah, karena ditangani oleh orang yang tepat, sehingga penawarnya adalah cukup dengan melihat dan mencicipi senyumannya yang menyejukan hati. Hingga berujung hatiku jatuh padanya. Bahkan tersesat dengan pesonanya yang begitu menawan.

Yofani, ia pantangkan aku untuk melihat dia saat merawat pasien lain, terutama laki-laki. Saya yang telah di rasuki oleh high of curiosity merasa tertantang dengan laranganya. Sontak setelah itu, ada pasien yang hendak membutuhkan perawatan darinya. Aku memang keras kepala karena tak sudi melihat ia berbagi kasih dengan yang lain, meskipun aku sadar bahwa itu adalah bagian dari profesinya.

Alhasil, saya kambuh seketika melihat ia mengobati luka dari pasien itu. Sakit hati yang cukup menyiksa.  Gila! Ternyata mencintai Yofani sama halnya dengan menghisap sebatang rokok. Jelas- jelas labelnya bertuliskan, “Merokok Membunuhmu” tapi nyatanya tanpanya aku hampa. Demikian pula mencintai Opang. Jadi candu dengannya.

Suatu senja, ia mengajak aku ke rumahnya. Setibanya di sana, ia menyapaku dengan senyum khasnya. Benar-benar meramu sensasi, hingga terasa seperti di rumah sendiri. Bahkan atmosfirnya yang ia ciptakan membuat aku betah ada di sampingnya. Dua Cangkir kopi yang di suguhkannya mengajak aku untuk lebih memaknai polanya, terutama soal aku dan dia yang tengah bernaung sunyi pada rumahnya.

“ Orang rumah pada kemana?” Tanyaku dengan sengaja, sesekali memastikan sang waktu agar bisa berbagi rasa dengannya. Secangkir kopi tak cukup lihai melumat bibirku yang tiba-tiba mengering di hadapannya.

Hanya saja inspirasi yang dilahirkan bersama tegukannya juga makin lama membuat hatiku kelam terbawa suasana.

“Bapa dan Mama ada ke rumah paman seminggu yang lalu”, jawabnya seraya memadu senyum yang begitu romatis.

“Sayang, jika senyumannya itu di diamkan. Sepertinya kita harus berperang rasa,” gumamku dalam diam.

Tak terasa, senja hampir lenyap di ufuk barat. Aku kembali menatap bibir cangkir yang menguping kami dari tepi meja itu. Sedikit demi sedikit, lama-lama inspirasi hadir bak air mengalir. Yofani menatapku penuh tanya, entah apa yang tengah di pikirkannya. Kedua tanganku membelai wajahnya yang terlihat polos dan lugu untuk di santap dengan cinta dan kasih.

Sehelai rambut yang sedikit menutup kelopak mata mungilnya di jadikan senjata untuk mencuri pandang padaku. Kerap kali ku coba mengalihkan perhatiannya dengan menepuk bahunya, dengan maksud ia menaggapi dan melakukan hal serupa. Tak sekatapun ia merespon itu.

Tubuhnya mulai membujur setengah diameter, hingga kami saling menatap penuh ragu. Bola matanya berputar seakan menanti dekapan manja dariku.

Setelah beberapa saat kemudian, Handphone yang ia letakan di atas meja Tv berdering. Saat di cek, ternyata pesan itu dari bapanya yang ingin memastikan keberadaan Yofani, lantaran sudah lama ditinggal sendiri di rumah. Dengan suara yang lembut nan syahdu ia memberi tahu aku soal isi pesan itu. Mungkin saja mereka cemas dengan Yofani anak gadisnya. Sesungguhnya kami saat itu sedang menata masa depan. Karena sms itu,  jadi lupa dengan skenario yang telah kami lakoni.

Sang purnama yang mulai bertengger di bawah cakrawala dan bintang di langit yang seakan mengelilingi kami rupanya dininabobokan dengan cuplikan singkat itu. Buktinya keindahan malam saat itu enggan untuk kembali pada sarangnya.

Ketika saya mencoba untuk megecup keningnya, seakan irama alunan musik “Elegi Esok Pagi ” menyemat kami dalam kecemasan. Kami benar-benar terhypnotis oleh melodinya. Bahkan memacu aku untuk terus bermain peran. Di tengah adegan, ia membisikan telingaku dengan suara terbantah-bantah.

”Ka..mu adalah orang pertama yang menghinggapkan bibir pada keningku."

Tatapannya begitu menawan dan dibaluti dengan senyum khasnya. Kedua tangannya merangkul pada pundakku.

“Welleh, ini terlalu sempurna sayang,  terima kasih cinta, terima kasih untuk kado indah ini,” tutup aku sembari beranjak dari hadapannya.

***
Bebrapa bulan kemudian, relasi yang kami bagun terasa makin erat dan asyik untuk dilahap dengan kasih. Meskipun saya orang ketiga dalam hidupnya setelah jarak. Tetapi perhatiannya makin hari makin terasa, apalagi soal pola hidup sehat, dia adalah agennya.

“Jangan ragu punya pacar seorang bidan, orang yang tak kenal saja dilayani dengan tulus, apalagi pasangannya” ini adalah salah satu kutipan yang ia kirimkan via SMS saat aku di rundung pilu. Aku yang tidak tahu apa-apa pun membalasnya, “Merasa beruntung punya pacar sepertimu.

Tetapi ketahuilah, jangan sesekali ragu denganku, Anak orang saja di didik dengan baik, apalagi anak kita nanti.

Nada rindu tak kunjung usai menggema hati, menanti Desember untuk kembali bersua dan memadu rasa. Telah ku siapkan segudang sajak untuk memikatmu dalam radius rindu. Sekiranya proses yang telah kita sulam sejak lama  tidak mengkhianati rasa dan niat baik ku. Yofani, aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu. Nantikan aku hingga Desember.
#Sekian

Oleh: Dhony Djematu

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,117,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,167,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,181,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,567,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,20,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,36,Ekonomi,6,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,61,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,277,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,157,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,52,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,118,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,61,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,290,Natal,20,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,254,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,414,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,19,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,90,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,perdagangan,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1128,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,36,Polisi,25,politik,91,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,2,Pristiwa,32,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,19,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,66,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,46,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Yofani, Izinkan Aku Mengecup Desembermu
Yofani, Izinkan Aku Mengecup Desembermu
https://4.bp.blogspot.com/-7pRsVNOMpzc/W8XvPWeHbVI/AAAAAAAADHs/M_Z46kkMI3Mz-pGjMVMMFyCdO6CCMqJ3ACLcBGAs/s320/20181016_220039_0001.png
https://4.bp.blogspot.com/-7pRsVNOMpzc/W8XvPWeHbVI/AAAAAAAADHs/M_Z46kkMI3Mz-pGjMVMMFyCdO6CCMqJ3ACLcBGAs/s72-c/20181016_220039_0001.png
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/10/yofani-izinkan-aku-mengecup-desembermu.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/yofani-izinkan-aku-mengecup-desembermu.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close