Untuk Gadis Pecinta Kopi, Cerpen Karya Arisyanto Arnoldus Ukung

Foto: Dok.Pribadi
Aku terbangun dari tidurku yang lelap, entah karena apa aku tak tahu. Diluar tampak masih gelap, suara binatang malam bersahutan membentuk nyanyian pada malam yang sunyi, aku duduk menyingkap selimut. Entah bagaimana aku tak dapat memejamkan mata lagi, aku mendengar suara-suara manusia kelelahan masih terlelap  dalam buaian mimpi.

Aku terdiam, tak ada suara, sepi mencekam. Aku keluar dari kos, duduk pada sebuah kursi tua menikmati udara yang masih dingin seorang diri. Secangkir kopi, dan sebatang rokok kuhisap pengsusir jenuh. Kembali kisah tentangnya teringang. Dia yang begitu menyatuh dalam jiwaku.

Aku tak tahu, bagaimana aku bisa mengingat kisah itu lagi, kisah dia yang hanya separuh ku jalani. Dia yang menjadi sumber inspirasi, kini menjadi sumber kepedihan. Hatiku bagai ditusuk belati saat mengingat wajahnya, senyumnya, manjanya dan semua cerita tentang dia. Dia yang membuat aku tahu artinya cinta, namun dia pula yang memberitahuku bagaimana rasanya jatuh karena rasa cinta.

Dari situlah kisahku terpuruk tergerus oleh luka yang tak pernah pulih. Kucoba mencari jejaknya ditengah kota tua ini, namun sedikitpun cerita tentang dia tak membekas. Dia meninggalkanku ditengah kasih melanda hatiku, ditengah cinta yang kurajut menjadi sebuah pengharapan. Ditengah semua mimpi kurakit, namun semua hanya tinggal kenangan, tinggal mimpi semu yang harus kuterima dengan ketulusan.

Aku harus bisa menerima bahwa ia telah pergi, meninggalkan cinta yang masih utuh dalam bhatinku, dia berlalu tanpa permisi, dia melangkah tanpa kompromi, dia pergi dan enggan menoleh dan tak pernah tahu masih ada sesuatu yang ia tinggalkan, bahwa ada separuh hati disini yang  masih mencintainya dan mengharapkannya tuk kembali.

Kembali tuk menjalin kisah dan merajut cerita yang pernah terjeda karena waktu. Kucoba melawan kenyataan, karena mungkin untuk kesekian kalinya aku tak pernah merelakan kepergiannya. Kucoba melawan rasa, mengelak waktu, namun nyatanya aku terlihat seperti egois. Yah, aku memang egois, karena sampai saat ini aku tak akan pernah merelakan dia pergi, dan tak akan pernah.

Dan sampai saat ini, tak pernah ada yang bisa menandingi dirinya dalam hatiku, karena tak ada lagi ruang setelah kepergiannya. Tak ada lagi tempat untuk mengisi ruang kosong dalam hatiku yang menghampa, semua ruang dalam hati ini hanya dia yang mampu menempatinya. Sampai saat ini hanya kau, dan selalu kau, tak ada yang lain. Ku mohon mengertilah

**********
Masih terngiang dalam ingatanku, memasuki semester ganjil kelas 2 SMA kelas kami mendapati siswa baru, dia duduk 2 bangku di depanku. Rambutku  sebahu dibiarkan tergerai dengan lembut, kulitku kuning langsat ditambah senyumnya yang menggoda.

Entah  magic apa yang ia gunakan. Saat menatap dan berhadapan dengannya hatiku luluh tak karuan, aku tak berdaya didepan gadis nuca lale ini. Tutur katanya yang lembut membuat aku tak mampu berpaling darinya, ia sungguh membuat hariku berbeda.
Aku yang dulu tak suka melirik gadis manapun disekolah ini, ekspetasi ku tentang cinta hanyalah sebuah ilusi semata.

Namun tidak untuk yang satu ini, rasa itu kian kurasa saat  berhadapan dengan gadis yang satu ini. Dia  mampu mencairkan kebekuan dalam hatiku, dia yang mampu meramaikan hatiku yang sunyi. Dia yang mampu mewarnai hariku dengan senyumnya yang lembut. Tak ada kata selain kata cinta untuknya.

Yah,  kata cinta pas untuk mengungkap rasa yang kian menggebuh ini. Aku terlalu larut mencintainya dalam bisu dan diam, namun riuh dalam doa dan harapan. Aku berharap rasaku tak bertepuk sebelah tangan, kuharap dia memiliki rasa yang sama.

Pagi yang cerah saat kota masih diselimuti hawa dingin yang mencekam, saat embun masih belum tersingkap oleh cahaya matahari. Pagi-pagi aku sudah siap disekolah, menyiapkan kata-kata terindah untuk mengungkapkan rasa yang tak dapat kubendung lagi.

Rista adalah siswa yang teladan, ia selalu datang pagi-pagi sebelum anak-anak yang lain datang. Gadis itu juga murah senyum kepada siapa saja, itulah yang membuat banyak orang menyukainya.

Dia juga rekor pertama yang selalu menampikan karya-karya sastranya di mading sekolah. Tak pernah ada satu hari yang dilewatinya tanpa membuat puisi dan karya tulis lainnya. ia merupakan salah satu siswa yang smart di sekolah ini.

Aku cukup bimbang mengungkapkan rasaku padanya, akankah ia mau menerimaku, seorang laki-laki yang terlihat biasa-biasa saja, namun cintanya yang luar biasa, hehehe. Semua aktivitas dari gadis ini tak ada yang terluput dari pandangaku, semuanya terekam tanpa terkecuali, yah kurasa begitulah. Ketika kita mencintai seseorang, apapun yang akan kita lakukan dan semua terasa wajar hanya untuk sang pujaan.

Dari semua kegiatan yang dia lakukan hanya ada satu hal ku tahu dan menjadi cirri khas bagi gadisku ini, yang kutahu dia adalah pecinta kopi. Seorang gadis yang elegen menyukai secangkir kopi hitam pekat, kurasa ia begitu akrab dengan sebuatan si gadis kopi.

Saat mengingatnya kopi juga tak terlepas dari ingatanku, dia dan kopinya begitu menyatuh menjadi satu. Dia sering menikmati kopinya dipaling pojok kantin sekolah, ia menyeruput kopi sambil bernapas dalam-dalam dan menghembuskannya.

Aku selalu memperhatikannya dari arah yang cukup jauh agar ia tak curiga, ia menutup matanya membiarkan uapan kopi panasnya menjelajahi wajahnya, rambutnya teruarai dihempas perlahan oleh angin. Dari hati yang paling dalam kuingin menikmati kopi bersamanya, duduk berhadapan memandangi matanya yang indah dan aku tenggelam bersama tatapannya yang memabukkan.

Ia masuk, ruang kelas masih tampak lengang tanpa suara, hanya ada aku, dia dan kursi-kursi kosong yang belum terisi. Ia tersenyum padaku, dan menyapa.

“Hai, selamat pagi,” ia tersenyum, membuatku tak berdaya.

“Selamat pagi juga,” aku membalasnya dengan senyum simpul, sebenarnya aku ingin membalas sapaannya dengan beribu pertanyaan.

 “Hai Rista selamat pagi juga, apakah hari ini kau bahagia? Bagaimana tidurmu, apakah kau mimpi indah? Apakah kau,,,,ah sudahlah, aku memang selalu kalah saat mengekspresikan rasa,” gumanku dalam hati.

Namun pagi ini, kubulatkan tekad untuk menceritakan isi hatiku yang sebenarnya, aku tak ingin kehilangan momen ini, saat keberanianku sampai pada puncaknya.

Aku tak ingin dia dimiliki yang lain. Pagi itulah yang menjadi saksi, saat aku mengungkapkan perasaan ku pada si gadis pecinta kopi itu. Saat angin berhembus lembut menyentuh kaca-kaca kelas, saat dingin mulai diganti dengan hangatnya mentari pagi. Begitu pula, hatiku yang dingin, kini telah dihangati cinta Rista.

Rasa yang tak bertepuk sebelah tangan, ia membiarkan ku menjadi orang terdekatnya, ia membiarkan aku mengenalnya lebih dekat. Aku bahagia, sungguh aku bahagia.

Hari-hari berikutnya, aku dan rista bagai magnet, kami selalu menjalani hari bersama, dimana ada dia disitu juga pasti ada aku. Kami belajar banyak hal, dari dia aku bisa mencintai dunia sastra, aku mencintai kopi, puisi dan segala sesuatu yang ia cintai akupun ikut mencintainya. Begitupun sebaliknya, ia mencintai apa yang kucintai.

Rista membuatku memahami, mengerti arti sebuah rasa, arti mencintai perbedaan dan menjadikannya suatu kesamaan. Aku belajar banyak hal dari gadisku ini. Setiap hari ia menghujani ku dengan kalimat-kalimat puitisnya. Aku sungguh terjerat dalam kisah yang ia berikan, dan aku mungkin tak dapat menemukan dunia yang lebih indah selain dunianya.

Sampai pada hari yang kelam itu tiba
Tak seperti biasanya, Hari itu aku tak menemukan lagi bingkai kata-kata yang terpapang dimading sekolah, aku tak melihat sosok gadis yang menikmati kopi disudut kantin, tak kutemukan gadis yang memanggilku dengan lembut. Aku sungguh sepi dibalut curiga, dimana dia, gadisku. Kelas terasa sunyi tanpanya, sekolah begitu tak bernyawa tanpa hadirnya.

Hari itu aku memutuskan untuk pulang dan pergi kerumahnya, hatiku tak tenang tanpa mengetahui kabarnya. Namun aku mengurungkan niatku karena jam terakhir akan ada ulangan. Menit serasa enggan berlalu, kertas itu tampak masih bersih belum ada jawaban. Aku sungguh buntuh tanpa dia. Kemana dia? Apakah terjadi sesuatu dengannya? Yang bisa kulakukan hanya menebak dan menebak.

Saat aku masih dengan rasa lelah, melewati jalan yang berdebu itu, seorang gadis menghampiriku, dari jauh aku bisa tebak, dia adalah Meti anak bahasa sahabatnya Rista, aku melihatnya tak mengenakan pakaian seragam. Ia juga tak masuk hari ini. Aku semakin khawatir, sebelum Meti bicara padaku aku sudah menyambarnya duluan

“Dimana Rista? Kenapa dia tak masuk hari ini, dia tak mengabariku dari tadi malam, HP nya tidak aktif, apakah dia sakit?” suaraku datar, tak mampu menyembunyikan rasa takutku.

Lama Meti tak menjawab, membuatku semakin cemas. Dia menatapku, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.

“Tadi malam Rista dan Ayahnya mengalami kecelakaan, mereka ditabrak mobil,” kalimat itu, begitu menusuk hatiku, entah bagaimana kondisi hatiku saat itu, entalah, aku sendiri tak mampu menggambarkannya.

“Bagaimana keadaannya Ti,” air mataku jatuh tak dapat ku tahan lagi, sungguh jika cerita tentang gadisku aku menjadi mahluk yang begitu lemah dan tak berdaya, jika bercerita tentang Dia aku tak begitu kuat. Hanya dia yang mampu menguatkanku.

“Rista meninggal dunia, nyawanya tak tertolong, sedangkan Ayahnya masih koma."

Kalimat itu adalah kalimat terburuk yang pernah ku dengar. Aku tak tahu apakah aku masih berpijak atau tidak, semua terasa mengambang. Hampa, sunyi, sepi, sedih, terluka begitu parah.

Aku berlari sekencang kencangnya agar cepat sampai rumah, itu adalah lariku yang tercepat yang pernah kualami, ketakutan yang begitu luar biasa di dalam benak, aku buntuh. Perjalanan kerumah sakit terasa begitu jauh, jalan-jalan seakan memanas, langit seakan menghitam meratapi cintaku yang hanya sepenggal. Aku terpuruk dalam luka, begitu menyedihkan.

Lama aku menatapi tubuh itu, dia sudah kaku, penuh perban. Ia tak lagi tersenyum mentapku, tak ada lagi suara yang menyapa. Tubuhnya disitu namun ku tahu ia sudah di dunia yang lain, dunia yang berbeda dariku. Kehidupan yang begitu jauh, yang tak pernah terbayangi olehku, dan bahkan olehnya. Aku masih belum menggubris, kubiarkan air mata ini tumpah ruah diantara tembok-tembok putih yang telah ternodai oleh kepergiannya.

Aku tak mampu sayang, sungguh aku tak sanggup. Aku sungguh berharap bahwa itu hanyalah sebuah mimpi, mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan.

Aku memeluk tubuh yang kaku itu dengan erat, memanggil namanya tanpa ada jawaban, tubuhnya dingin sedingin hatiku, tak lagi kutemukan hangat dalam napasnya, yang ada hanya ketiadaan yang menghampa, meraung-raung tanpa henti. aku sendiri begitu menyepi, dunia seakan sedang menghakimiku. Aku linglung dalam cerita ini, sungguh aku tak tahu bagaimana kau bisa mengakhirinya.

******
Seminggu setelah kepergiannya, aku masih belum terbiasa tanpa hadirnya, kepergiannya merupakan kepergian separuh jiwaku. Aku begitu asing dengan sendiri, baying-bayangnya msih kuat dalam ingatanku, aku tak mampu menghapusnya dan tak akan pernah.

Setelah lulus. Aku memutuskan untuk keluar kota, menempuh pendidikan di daerah yang berbedah, berusaha berdamai dengan kenyataan. Berusaha memahami bahwa dia benar telah pergi dan tak akan kembali padaku. Aku mencoba meninggalkan kota ini, untuk melupakannya, mematikan rasa yang selalu menyiksa. Aku masih dengan perasaan yang sama pada sang gadis yang telah direnggut oleh sang waktu.

*******
Setahun aku berada di kota ini, yang berbeda disini hanya orang-orang dan aktivitasnya, soal rasa yang kumiiki tak akan pernah ada yang menggantikannya. Bahkan aku masih mengharapkan bahwa dia akan kembali, walau itu hanya menjadi mimpi yang tak akan pernah terjadi.

Untukmu gadisku yang mencintai kopi hitam, bahkan sampai saat ini rasa kopi itu masih sama seperti tahun lalu. Seperti kau pertama kali kau masuk sebagai murid baru. Puisi mu masih saja indah dengan majasnya yang begitu syahdu. Dia puitis seperti biasanya, tulisanmu tak pernah berubah walau 2 tahun telah berlalu. Di kota tua ini, kucoba tepiskan rasa, namun sungguh aku masih terjerat dengan kisah kita.

Darimu aku belajar bahwa rasa manis dan pahit itu bisa dinikmati secara bersamaan, rasa yang berbeda dijadikan satu. Aku sungguh rindu, pada sosok yang bersandar di kantin paling pojok. Aku sungguh rindu pada aroma kopi yang sama.

Akankah kita dapat menikamati secangkir kopi berdua kembali? Lalu bagimana dengan kau, apakah kau masih ingat padaku, seorang pria yang masih meratapi kepergianmu, cerita kita belum lengkap. Apakah kau terlalu sibuk di sana dengan dunia barumu, hingga mampir di alam mimpi saja kau enggan.

Aku hanya ingin kau tahu, aku masih rindu dengan secangkir kopi yang sama, dengan rasa yang sama dan pada orang yang sama. Gadisku.


Oleh: Arisyanto Arnoldus Ukung

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Untuk Gadis Pecinta Kopi, Cerpen Karya Arisyanto Arnoldus Ukung
Untuk Gadis Pecinta Kopi, Cerpen Karya Arisyanto Arnoldus Ukung
https://3.bp.blogspot.com/-noX72sz4PTo/W8Y6jy40bsI/AAAAAAAADIQ/dMr6WSLXqW8xu9tZr8I88NCU_AmzpkMwgCLcBGAs/s320/20181017_032216_0001.png
https://3.bp.blogspot.com/-noX72sz4PTo/W8Y6jy40bsI/AAAAAAAADIQ/dMr6WSLXqW8xu9tZr8I88NCU_AmzpkMwgCLcBGAs/s72-c/20181017_032216_0001.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/untuk-gadis-pecinta-kopi-cerpen-karya.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/untuk-gadis-pecinta-kopi-cerpen-karya.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy