Tanpa Judul, Cerpen Karya Elisabeth Yunita Enggok

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Tanpa Judul, Cerpen Karya Elisabeth Yunita Enggok

MARJIN NEWS
29 October 2018

Foto: dok. Pribadi

Ketika aku berumur lima tahun, tak pernah terlintas di benakku akan kisah-kisah yang akan terjadi di hari esok dan seperti apa itu takdir.

Sampai aku pun tak pernah bermimpi untuk bertemu denganmu, tak pernah bermimpi untuk diberi waktu berjalan bersamamu, bahkan tak pernah terpikirkan olehku bahwa aku akan memberi hati padamu.

Sampai suatu ketika aku menjadi seorang remaja yang kecil, lucu, dan berlagak seperti orang yang ingin mengenal cinta, entah apa alasan dunia untuk mempertemukan kita dalam suatu masa yang sangat indah, pada masa itu aku dan kau saling kenal, kita membuat cerita pertemanan kita seromatis mungkin, tiga tahun lamanya kita bercerita bersama, mengukir kehidupan bersama, hingga di tahun yang keempat kita sama-sama menggenggam rasa yang hanya aku, kau dan Tuhan yang tau.

Rasa itu pun sempat membuatku seperti seorang gadis kecil yang gila dan bodoh kaupun sebaliknya, dan rasa itu pun terbalaskan oleh ungkapan cinta dan sayang, serta kepedulian antara kita sampai rasa itu berubah menjadi suatu kenyamanan, yang membuatku enggan untuk mengganti rasa.

Di masa selanjutnya kita pun memutuskan untuk merajut sesuatu yang indah, berarti dan katanya akan memiliki suatu tujuan yang jelas, sejak masa itu kita pun serasa satu dan ketika itu hati ini membatu dengan hal-hal unik diluar sana.

Waktu terus berlalu, hari terus berganti, bahkan tahun terus bepindah, dunia pun semakin berubah tak pernah terfikirkan oleh kita akan suatu hal-hal buruk yang menghampiri perjalanan indah kita.

Pada suatu masa, tiga tahun tepatnya kita merajut kisah, kita dikagetkan oleh keunikan dunia yang membuat kita memilih jalan yang bebeda, hingga kita lupa akan kisah-kisah kita.

Entah kenapa semuanya begitu asing? Hingga dunia membalikan fikiran kita untuk mengingat kisah-kisah tentang kita, dan kita pun kembali dipertemukan di satu persimpangan. Terlalu banyak cairan yang mengalir dari mata ini untuk mengagungkan keindahan dunia.

Sejak saat itu kita melanjutkan perjalanan yang indah itu, namun sayangnnya aku sadar semuanya hanyalah drama yang nantinya memiliki cerita akhir, hingga aku memilih untuk tidak menggegamkan rasa itu lagi.

Sampai akhirnya kita tiba pada suatu titik dimana hati ini benar adanya seperti debu yang terhanyut di bawa angin.

Engkau memberiku suatu pengalaman yang sangat tak bermakana dan berarti, seakan aku diantarkan pada suatu jalan yang buntu hingga aku tersesat disana dan au memilih untuk pergi dan mencari jalan yang lebih indah katamu. Hingga akhirnya cerita kita pun Tanpa Judul.


Oleh: Elisabet Yunita Enggok
Mahasiswi Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja (Undiksha)