Takdir yang Bergurau, Kumpulan Sajak Maria Oktaviani
Cari Berita

Takdir yang Bergurau, Kumpulan Sajak Maria Oktaviani

MARJIN NEWS
17 October 2018

Foto: Dok.Pribadi

Dia hadir...

Yah, dia sungguh-sungguh hadir saat itu tepatnya 6 tahun yang lalu.

Dia menawarkan cinta disaat aku sedang menikmati pedihnya luka.

Yang disuguhkan khusus oleh seseorang untuk kunikmati sendiri.

Pernah saat itu ketika mata dan hati seakan ingin mati selamanya.

Sebuah bayangan yang hitam nan pekat seakan melaju dengan kuatnya.

Dimana dia?

Dia pergi menghilang dari pandanganku.

Jauh, jauh.

Sejak saat itu aku mulai merasakan takut yang begitu mencekam seberat rasa ketika orang yang kita cintai dan bersuah selama 6 tahun lamanya harus pergi.

Yah, aku harus merelakan dia berbahagia dengan pilihannya.

Besar dan perihnya luka tak bisa terbayangkan lagi.

Aku mau mati, kataku dalam hati.

Semuanya sirna.

Harapan kami berdua sudah tak terbacakan lagi.

Air mata yang menghapusnya.

Satu hari, minggu, bulan dan tahun berlalu.

Ceritanya tetap sama ingin menjauh.

Tetapi hati kami tetap saling berkomunikasi.

Yah, aku tahu pasti itu.

Rindu yang pekat tanpa polesan.
Hati nuraniku semakin tak mau diajak bersahabat.

Dia ingin pergi, dia pergi mencari dia yang hilang.

Dan untung saja aku bisa melepasnya dalam doaku yang aku haturkan dengn rangkaian kata-kata yang indah.

Teapi aku tahu Tuhanku pasti melihat betapa banyaknya air mata yang tak terhitung saat malamku.

Setelah setahun berlalu aku pernah mengambil sebuah keputusan yang menurutku bisa membuatku bahagia.

Dengan kondisi hati yang seakan kapasitasnya tidak cukup untuk menampung perihnya luka itu.

Aku berusaha Move on.

Yah aku benar-benar move on dari cerita lama yang setahun bersarang dalam hidupku.

Dan aku tahu takdirku mengajaku bercanda.

 Surat Ijin untuk Cinta.

Aku mulai berniat untuk memulai kehidupan yang baru tanpa sesosok adam yang melindungi.

Karena sepertinya bagiku definisinya tetap sama.

Jangan tanya kenapa!

Sebuah alasan pasti yang mungkin sebagiannya tidak setuju akan perspective ini.

Tapi yah begitulah yang terjdadi!

Bahagia Tanpa Syarat

Sebuah kebahagiaan dan penderitaan dalam hidup adalah dua hal yang berbeda dengan porsi yang sama.

Kita tidak harus bahagia sepanjang hidup tetapi juga tidak akan menderita sepanjang kehidupan.

Kebahagian akan sama besarnya dengan penderitaan itu.

Hematnya, kita tidak harus berpasangan untuk menjadi bahagia.

Tetapi dengan menghargai waktu untuk mulai peka pada situasi disekitar.

Teman,  kenalan, sahabat dan keluarga adalah salah satu sumber kebahagian yang utuh tanpa manipulasi rasa.

Tetapi kali ini aku mau mengajak-Nya kemari dan berjanji didepan altarMu.

Saatnya kuberharap lebih pada-Mu.

Karena aku sudah bercerita banyak pada-Mu tentang dia yang aku pilih. Sebagai perisai kehidupanku.

Tapi jika boleh aku meminta
Jaga dia untukku

Mulai menyukai Senja.

Senja bagiku adalah sinar Kehidupan yang sempurna.

Dia tidak hanya mampu menyenangkanku dengan eloknya.

Tetapi mampu mengembalikan setengah porsi kebahagian.

Dia memberikan pelajaran yang berharga padaku.

Yang setia hadir walaupun hanya ingin menyimpan kenangan indah untuk aku bawahkan pada malam dan menjadi bunga tidurku.

Dia juga mengajarkanku bahwa cinta itu Abadi, abadi di Bumi dan di Surga.

Tak ada yang lebih indah dari sebuah hubungan yang utuh.

Yang tahu akan kekurangan tapi tetap ingin bersama.

Yang  bukan lagi dia yang indah tampangnya, tapi dia yang mau menjaga hati pasangannya.

Seperti senja yang tidak akan pernah memilah kepada siapa dia akan bersinar.

Oleh: Maria Oktaviani