STKIP St.Paulus Ruteng Diharapkan Jangan Memproduksi Mahasiswa Asal Lulus
Cari Berita

STKIP St.Paulus Ruteng Diharapkan Jangan Memproduksi Mahasiswa Asal Lulus

MARJIN NEWS
8 October 2018

Foto: Istimewa
Saat ini banyak Perguruan Tinggi dikelola sebagai toko kelontong dan Perguruan Tinggi bagaikan pabrik yang memproduksi barang massal. STKIP St.Paulus Ruteng sebagai lembaga pendidikan tinggi tidak sekadar memproduksi mahasiswa alias asal lulus. Yang lebih penting dari semua itu bagaimana mengantisipasi kebutuhan lapangan kerja. Lapangan kerja di Manggarai sangat terbatas, apalagi saat ini terjadi disruptive innovation. Oleh karena itu saya kwatir lulusannya menjadi pengganggur. Dunia kerja kita saat ini berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk mengisi pekerjaan2  yang bisa berkompetitif.

Futurolog, Daniel Bell menggambarkan pada saat ini terjadi pergeseran konsentrasi sumber investasi dalam proses industrialisasi; di negara-negara pra-industri  konsentrasi sumber investasinya terletak pada tanah-tanah pertanian, di negara-negara industri terletak pada mesin, dan di negara-negara pasca industri terletak pada pengetahuan.
Saat ini banyak terjadi pergeseran lapangan pekerjaan dan pergeseran disiplin ketrampilan dalam proses industrialisasi itu sendiri.

Negara-negara pra-industri yang memasuki industri akan mengalami pergeseran ketrampilan pertanian ke ketrampilan permesinan, sedangkan negara-negara industri yang memasuki pasca industri akan mengalami pergaseran kertrampilan permesinan  ke ketrampilan pengetahuan (informasi).  Pergeseran disiplin ketrampilan inilah yang kemudian menimbulkan masalah ketenagakerjaan (baca: pengangguran) yang makin kompleks.

Dalam posisi tersebut  sistem pendidikan yang diaplikasikan di Indonesia seringkali menjadi lontaran ketidakpuasan seolah-olah sistem pendidikan kita kurang sanggup mengantisipasi problematika ketenagakerjaan yang bakal muncul. Ini semua memang bukan tanpa alasan sama sekali karena di negara-negara manapun masyarakatnya senantiasa mempunyai harapan yang besar, agar sistem pendidikan sanggup menjawab tantangan ketenagakerjaan, meski hal itu tidak dapat diartikan bahwa satu-satunya tugas yang diemban lembaga pendidikan adalah menjawab masalah itu.

Problematika ketenagakerjaan yang dihadapi oleh Indonesia   pada umumnya bergerak pada tiga ekstremitas, yakni ekstremitas kuantitas, ekstremitas kualitas, ekstremitas relevansitas. Ekstermitas yang pertama, kuantitas, pada umumnya berkisar pada kelebihan proporsi tenaga kerja dengan kualifikasi tidak terampil (unskilled), sedangkan proporsi tenaga kerja dengan kualifikasi trampil (skilled) mengalami kekurangan.
     
Ekstremitas yang kedua, kualitas, pada umumnya berkisar pada belum siapnya tenaga kerja dalam menghadapi tuntutan ketrampilan baru sebagai bagian dari kompleksitas industrialisasi; sementara itu ekstremitas ketiga, relevansitas, bergerak pada masih banyaknya tenaga kerja yang bekerja pada bidang yang tak relevan dengan disiplin ketrampilan.
     
Sebagai akibat dari ketiga ekstremitas problematika ketenagakerjaan tersebut munculnya berbagai kasus pengangguran dan berdampak pada rendahnya produktivitas nasional.
     
Dalam beberapa tahun terakhir ini proses industrialisasi di Indonesia berjalan pelan-pelan tapi pasti. Bersama dengan jalannya proses industrialisasi di Indonesia maka di sana-sini terjadi berbagai pergeseran ketrampilan, dari ketrampilan pertanian yang semula menjadi "trade mark" kelompok mayoritas masyarakat, menuju terciptanya ketrampilan permesinan yang menjadi "kebanggaan baru".
     
Pada berbagai sektor pembangunan maka peran ketrampilan pertanian menjadi makin menipis dan digantikan dengan semakin berperannya ketrampilan permesinan.
   
Pabrik-pabrik dan industri-industri baru bermunculan di sana-sini, mesin-mesin pengolah sumber alam semakin bertambah banyak, perusahaan-perusahaan dan pasar-pasar besar tumbuh bak cendawan di musim penghujan; dan itu semua memerlukan ketrampilan baru yang makin spesifik dan makin tak "terkejar" oleh dunia pendidikan.
     
Keadaan tersebut di atas menimbulkan kesenjangan yang makin besar antara ketrampilan yang dituntut oleh industri perusahaan dan pasar-pasar "besar" di satu pihak dengan ketrampilan "konvensional" yang masih dimiliki oleh lembaga pendidikan kita di tanah air. Terjadilah kesenjangan antara "demand" dengan "supply" dan akhirnya berjangkitlah penyakit sosio-ketenagakerjaan yang sangat ditakuti oleh setiap orang, pengangguran, menjadi sulit atau bahkan tidak dapat dibendung . Oleh karena itu sebuah solusi dini yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan ialah melakukan perubahan paradigma pengembangan pendidikan, agar sesuai dengan tuntutan kebutuhan tenaga kerja.

Penulis: Bens Senang Galus