Sesosok Gadis Berbau Mawar, Cerpen Karya Charlito Duhar
Cari Berita

Sesosok Gadis Berbau Mawar, Cerpen Karya Charlito Duhar

MARJIN NEWS
3 October 2018

Foto: Ilustrasi
Desa itu penuh dengan alam yang indah, bunga yang beranekaragam, burung-burung yang bervariasi modelnya, juga udaranya yang sejuk. Tidak ditemukan seorangpun yang meninggal usia muda di sini.

Penghuninya sejahtera dan tidak ditemukan seorang pun yang duduk bersantai sambil menghisap sebatang rokok. Mereka menyebut kampung mereka, kampung warna-warni. Siapa saja yang ke sini pasti merasa betah dan ingin terus untuk berwisata ke tempat ini.

​Dari puncak bukit terlihat panorama alam yang begitu indah, di balik bunga itu, Rino seorang wisatawan melihat sebuah bunga yang lebih indah dari bunga-bunga yang lain. Tidak pernah ditemukan bunga secantik itu di kota tempat dia tinggal. Penuh dengan penasaran Rino beranjak turun mencari gadis itu, namun dia tidak menemukannya.

***

​"Apakah mataku yang salah melihat? Ataukah dia yang kulihat sesosok makhluk halus yang cantik yang hanya muncul tiba-tiba?" Seru Rino dalam hati.

Dia kecewa gadis itu tidak di temukannya. Serentak kemudian, angin sejuk menghempas tubuhnya, dari tengah angin itu terdengar suara nyanyian yang begitu indah. Bukan didenggungkan, bukan juga di daraskan tetapi nyanyian yang indah yang sulit dilukiskan. "Inilah kebahagiaan," katanya.

​Penuh penasaran dia mencari sumber suara itu, dalam hatinya bermuara sejuta pertanyaan. Kenapa di desa ini aku baru melihat wanita secantik ini dan juga suara semerdu ini? Adakah segala sumber keindahan berasal dari desa ini.

***

​Malam yang indah, langit penuh dengan bintang-bintang yang indah pula. Dari tengah bintang itu terlihat sebuah bintang yang berada sendirian. Rino yang terus terhanyut pada ingatannya akan sesosok bunga cantik dan suara merdu menatap bintang itu penuh keingintahuan.

Bintang itu jatuh dari tatapannya, Rino sejenak ingat akan nasihat mamanya.

"Nak, apabila ada bintang yang jatuh ungkapkan harapanmu, nanti akan terkabulkan"

"Masa sih ma," bantah Rino.

"Ia nak" jawab mamanya.

"Mama dulu sebelum menikah dengan bapakmu..."

Mamanya terdiam sejenak.

"Yerus ma.." Nada Rino yang tergesa-gesa memperhatikan mamanya.

​Rino berlutut memandang bintang sembari mengungkapkan isi hatinya. Perlahan-lahan bintang itu hilang dari hadapannya. Ah, yang penting aku sudah mengungkapkan isi hatiku. Entah yang diceritakan mama benar atau tidak itu urusan kedua.

***

​"Kenapa sesosok wanita itu terus hadir, tadi malam aku juga bermimpu bertemu dengannya" seru Rino dengan nada kecewa.

"Siapakah gadis itu?"

Tujuan Rino untuk berwisata kini terganggu dengan sosok si gadis. Dia kembali teringat akan kisah cintanya saat SMA, ketika dia jatuh cinta pada seorang gadis, nama gadis itu, Siska.

Sejak menganal gadis itu hidupnya sungguh-sungguh berubah. Dari seorang anak yang bergabung dalam sebuah geng, sering minum-minuman keras, rokok dan berkeluluran di malam hari bagaikan kelalawar, berubah.

Mengenal Siska membuat dia rajin belajar, rajin ke gereja dan pendiam. Namun kini kisah itu hanya meninggalkan kenangan pahit bagi Rino. Siska pergi begitu cepat, meninggalkan karena sakit hepatitis.

"Ah sudahlah,"katanya sembari meneteskan air mata.

***
​Rino pun berjalan tanpa arah, langkahnya menuntun dia menuju sebuah bukit yang indah. Dari bukit itu seluruh pelosok wilayah di daerah itu dapat di tinjau. Dalam perjalanan menuju bukit itu, Rino mendengar lagi suara seorang gadis yang membuat dia penuh dengan penasaran.

Di depannya dia melihat seorang gadis, namun dia tidak mampu bersuara untuk memanggil gadis itu. Rino layaknya seorang bisu yang hanya memandang tanpa berkata.
​Aroma gadis itu sangat harum di tambah lagi hembusan angin sejuk yang menyegarkan tubuh, oh betapa indahnya alam ini.

Andai aku dapat membangun rumahku tempat ini aku pasti hidup bahagia dan tersenyum untuk selamanya. Beban akan hilang yang ada aku pasti terus menari dan bernyanyi! Ah, dimana gadis itu, aku kehilangan jejaknya, aku terlalu terhanyut dalam khayalanku, sial! Tetapi aromanya masih tercim olehnya.

***

​Rino terus berjalan, meskipun tubuhnya sudah lelah, haus dan lapar. Rasa penasarannya akan sosok seorang gadis dan puncak gunung mendorong dia untuk bersemangat.

Dari kejauhan Rino melihat burung-burung merpati putih seperti menari dan bernyanyi di atas puncak gunung itu. Aku harus bisa sampai ke atas itu!

​Burung-burung itu mengingatkan Rino, ketika dia bersama Siska berdoa di gereja. Siska yang adalah sang kekasihnya begitu terpesona dengan burung-burung merpati milik pastor.

Siska ingin sekali menangkap satu dari burung-burung itu, namun tidak dapat. Burung itu sepertinya menginginkan agar Siska terus bermain bersamanya.

Akan tetapi, Rino masih ingat apa yang disampaikan Siska, yaitu ketika kamu melihat lagi burung-burung seperti ini nanti. Engkau pasti mengerti betapa indahnya hidup di dekat gereja.

***
​Betapa kagetnya Rino ketika sampai di atas puncak gunung. Ketika yang berada di hadapannya sesuatu yang tidak terpikirkannya ada di tempat itu. Gua maria yang begitu indah, di agas gua burung-burung merpati menari-nari, aroma mawar semakin kuat tercium dan suara selama ini yang membuat dia penasaran terdengar jelas oleh Rino. Sekarng dia seperti hidup di surga.

​Pipi Rino penuh dengan air mata, suara itu menuntunnya untuk menjadi seorang gembala. Rino tak mampu menepis suara itu. Apa yang dikatakan Siska dulu sekarang Rino mengerti. Ternyata gadis yang membuat dia penasaran itu adalah Bunda Maria. akhirnya Rino menemukan cinta sejatinya untuk selama-lamanya.

Oleh: Charlito Duhar