Sensitivitas Kaum Muda Sebagai Garda Perubahan Bangsa
Cari Berita

Sensitivitas Kaum Muda Sebagai Garda Perubahan Bangsa

MARJIN NEWS
28 October 2018

Foto: Ilustrasi

Pertama

Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah 
Indonesia…..


Kedoea



Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa 

Indonesia……


Ketiga



Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa 

Indonesia…..

Sembilan puluh tahun silam terjadi peristiwa yang sangat bersejarah dalam konteks kemerdekaan bangsa Indonesia. Dimana semangat persatuan para pemuda menjadi fondasi utama,dalam sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia dan sangat penting sekali untuk direfleksikan bersama oleh para pemuda saat ini.

Lahirnya sumpah pemuda bukan hanya semata-mata dari kepentingan suatu kelompok atau golongan,akan tetapi murni dari semangat persatuan, nasionalisme dan semangat untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Sebuah momentum yang tidak boleh dilupakan oleh kaum muda-mudi Indonesia setiap tanggal 28 Oktober yang di peringati sebagai hari Sumpah Pemuda. Sebuah hari yang diperingati dalam rangka memupuk semangat kepemudaan Indonesia bahwa pemuda adalah harapan bangsa “generasi” penerus cita-cita Indonesia.

Dalam sejarah bangsa ini, Pemuda selalu menjadi penggerak kebangkitan bangsa.
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah contoh nyata. Selain itu, peristiwa lain yang menunjukkan betapa pentingnya peran pemuda adalah Peristiwa Rengasdengklok, 16 Agustus 1945. Para Pemuda pada saat itu yang dipimpin Soekarni, Wikana, serta Chairul Saleh menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dengan satu tujuan yakni, mendesak mereka agar mempercepat proklamasi Indonesia. 

Upaya ini akhirnya berhasil, esok harinya, 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sekali lagi pemuda memainkan peran penting bagi bangsa.
Peran pemuda dalam sejarah bangsa terus berlanjut, gerakan mahasiswa 1966 adalah kisah lainnya. Dilatarbelakangi kondisi pemerintahan saat itu, gerakan mahasiswa pada 1966 menjadi awal kebangkitan mahasiswa secara nasional. Mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ini memunculkan Tri Tura (Tiga tuntutan rakyat), yakni: Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya, perombakkan Kabinet Lamira, dan turunkan harga sembako. 

Serangkaian demonstrasi yang dilakukan akhirnya berujung pada Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang menandai akhirnya Orde Lama dan membuka Orde Baru. Perlu kita ketahui bersama bahwa, pemuda merupakan garda terdepan dalam proses perjuangan, pembaruan, dan pembangunan bangsa. Segala potensi yang ada pada pemuda menjadi barometer penentu kualitas bangsa di masa depan. Menyadari

pentingnya peran dan fungsi yang melekat pada pemuda, maka pemerintah Indonesia diharapkan untuk berusaha mengembangkan segenap potensi yang ada melalui penyadaran, pemberdayaan, pengembangan kepemudaan di segala bidang, sebagai bagian dari pembangunan nasional. 

Seperti kata Presiden Soekarno, ‘‘berikan aku 10 pemuda maka akan aku goncangkan dunia’’. Sedikitpun jumlahnya, pemuda diyakini dapat mengguncang dunia, apalagi bila jumlahnya banyak.

Tetapi disamping itupulah perluh kita ketahui bahwa, pemuda hari ini khususnya di Indonesia masih terlalu banyak berbicara konsep dan gagasan serta kritikan, sementara yang penting sebenarnya adalah konsep dan karya yang rill (nyata).

Pemuda Indonesia sudah diakui terbilang cerdas dan cakap dalam menyusun berbagai konsep dan gagasan yang sanga hebat, akan tetapi bisa di katakan dari beberapa konsep dan gagasan tersebut hanya berhenti pada ruang diskusi saja, ini terlihat jelas dari tingkat produktifitas karya anak bangsa dalam bidang riset pendidikan atau karya ilmiah. Kita masih tertinggal jauh dari Negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura yang mempunyai tingkat karya dalam bentuk karya (jurnal).

Sadar atau tidak sadar ini merupakan cambuk bagi kita sebagai seorang pemuda Indonesia untuk menumbuhkan semangat terus berkarya, lebih produktif sehingga konsep yang kita ciptakan tidak hanya menjadi “bumbu” dalam ruang diskusi di warung warung kopi saja. Saat ini kita sebagai seorang pemuda harus mampu melihat apa yang manjadi “power” kita dalam meningkatkan pruduktifitas dalam bernegara. 

Sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 oktober setiap tahunnya jangan sampai hanya menjadi kegiatan seremoni tanpa ada sebuah pesan dan reflekleksi untuk meramu kembali apa yang menjadi cita-cita bangsa kita. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah perubahan yang lebih baik, karena pemuda Indonesia terlahir untuk menjadi agen perubahan bangsa.

Pemuda masa kini, diharapkan harus mampu melihat peluang dan tantangan bangsa hari ini, jika hanya duduk diam melihat keadaan, itu artinya pemuda pesimis, saatnya menjadi pemuda yang optimis dengan menghasilkan “karya” serta mengambil peran penting dalam berbagai bidang kehidupan sehingga perubahan semakin baik dan berdampak dalam kehidupan masyarakat. 

Dalam mewujudkan pemuda yang optimis dan peka terhadap situasi bangsa, semuanya harus dimulai dari pribadi seseorang sebab perbaikan suatu umat tidak akan terwujud kecuali dengan perbaikan individu yang mumpuni dengan Sumber Daya Manusia(SDM) yang bersaing, ini berarti pemuda harus sadar pentingnya pendidikan dalam rangka mewujudkan pemuda-pemudi yang cerdas, inovatif dan kreatif sesuai cita dan harapan bangsa Indonesia kedepan. 

Disamping itupula, kita harus menyadari persaingan global saat ini tidak membutuhkan gerakan militansi untuk menghancurkan suatu bangsa, tidak lagi harus melalui perang konvensional yang menghabiskan anggaran biaya yang cukup besar, tetapi cukup dengan cara-cara perang baru yang lebih kasat mata, sehingga sering kali kondisi ini sukar sekali untuk kita pahami dan kenali secara jelas dan nyata, namun efek yang dihasilkan bisa melebihi dari metode perang konvensional pada umumnya. 

Perang asimetris, perang hibrida dan perang proxy adalah trend perang yang terjadi saat ini, perang ini bisa saja masuk dari berbagai lini dan kondisi daerah maupun Negara, yang mungkin diantaranya melalui investasi besar-besasran agar dapat melakukan
eksploitasi serta menguasasi sumber daya alamnya, membuat berbagai fakta
perdangan guna menekan dan mengintervensi hasil pertanian, kemudian memberikan kondisi nyaman agar kita terus terlena menjadi bangsa yang konsumtif, menghancurkan generasi mudah dengan budaya konsumtif itu sendiri dan kemudahan untuk melakukan hal-hal negatif menggunakan internet dan smartphone.

Kondisi ini dapat menjadikan mereka ingin mengambil bagian-bagian penting dari bangsa kita, membeli dan menguasi media massa untuk melakukan pembentukan opini, merekayasa kondisi sosial, serta memicu terjadinya konflik antar masyarakat juga merupakan tujuan nyata dari perang-perang yang saya sampaikan diatas. 

Hal diatas dapat berubah menjadi kebangkitan dan kemajuan asalkan pemuda mau dan harus terus berada dibarisan terdepan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam segala kondisi sosial-politik, ekonomi dan budaya disetiap daerah dan bangsa secara keseluruhan, pemuda harus kembali bangkit menjadi pendorong terciptanya perubahan nyata dalam berbangsa dan bernegara seperti halnya dorongan pemuda untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini dengan berani mengambil keputusan mengasingkan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdenklok, seperti ini juga halnya kita kedepan mendorong pemimpin disetiap lini untuk terus memberikan kontribusi nyata terhadap perubahan-perubahan serta kemajuan Bangsa dan Negara menuju kesejahteraan sipil sosialistis, menuju kesejahteraan masyarakat dalam bingkai Pancasila.

Oleh: Mario Yosryandi Sara
Anggota Muda PMKRI 55