Seni, Estetika dan Peradaban

Foto: Dok. Pribadi
“Seni itu hidup dari pemaknaan yang berbeda dari pelakon seni itu sendiri.”  Ungkapan klasik ini secara kontekstual barangkali dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Planton dan Aristoteles misalnya masing-masing mempunyai cara pandang tersendiri dalam melihat seni, terutama mengenai posisi estetika di dalam seni.

Platon mengencam seni karena mendukung kecendrungan yang hanya berkutat pada jasmani, dan indrawi. Baginya seni membatasi diri untuk memproduksi nada, warna dan bentuk yang indah dan dengan demikian menimbulkan kesan seolah-olah keindahan yang indrawi itu adalah yang sesungguhnya, seolah-olah tak ada yang lebih mulia.(Hauskeller, Seni-Apa itu? Posisi Etetika dari Platon sampai Danto:14). Bantahan terhadap penilaian Platon muncul tidak lama kemudian dari Aristoteles.

Baginya, dunia jasmani-indrawi bukan hanya sebuah cerminan- yang cepat berlalu dan sebab itu kurang padat eksistensinya- dari dunia idea yang terpisah dan berdiri sendiri. Idea yaitu bentuk-bentuk kenyataan, dan tidak memiliki realitas transendensi apa pun. Seperti tidak ada materi yang tak berbentuk, tidak ada bentuk-bentuk yang terpisah dari materi. Semua yang ada merupakan satu-kesatuan antara materi dan bentuk, yang dapat diuraikan melalui pemikiran, tetapi tidak secara kenyataan.

Oleh karena itu, bagi Aristoteles tidak masuk akal jika dikatakan bahwa dunia penampakan kurang mengada berbanding dengan bentuk-bentuk tadi dan hanya merupakan tiruan yang tidak sempurna. Aristoteles mempertegas bahwa tugas penyair bukanlah menyampaikan apa yang terjadi secara nyata, melainkan apa yang mungkin dapat terjadi. Hal tersebut disampaikan sebagai respon atas gagasan Platon yang menggolongkan penyair sebagai peniru (mimesis). Baginya penyair, pelukis menjauhkan diri dari kebenaran.

Secara konteks dan peradaban, Platon maupun Aristoteles hidup pada abad yang sama. Realitanya pemaknaan akan seni dan estetika setiap individu termasuk Platon dan Aristoles selalu berbeda.  Setiap abad, seni selalu dimaknai, didefinisikan atau ditafsirkan secara berbeda. Secara definitif barangkali perbedaannya tidak begitu mencolok. Sebab pendefinisian terhadap seni maupun estetika hampir tidak terlepas dari keindahan.

Akan tetapi pada tataran proses pengeksplorasinya kita dapat menyaksikan betapa seni menghidupkan, bahkan terlampau jauh dari hakikat seni yang didefinitifkan. Pada titik inilah kita mungkin perlu bertanya sejenak, apakah para seniman kebablasan dalam mengekplorasikan kebolehannya dibidang seni? Atau kemampuan mendefinisikan seni para pecinta seni terdahulu yang terlalu sempit dalam mengejawantakan hakikat seni? 

Bagi penulis pertanyaan pertama cukup relevan dengan kritik Platon terkait seni yang hanya berkutat pada jasmani, dan indrawi, sehingga menimbulkan kebablasan pemaknaan, karena para seniman tidak bisa lepas dari jebakan peradaban yang berorientasi pada hal-hal yang bersifat materil, serta  terjebak pada wahana eksistensialisme. Akibatnya para seniman seolah membatasi seni pada sesuatu yang bersifat materil sehingga seorang memilih menjadi seniman hanya untuk kepentingan eksistensinya.

 Hal ini tentu merisaukan, sebab akan berpengaruh pada berkurangnya unsur moral dan etika dari seni sebagai ilmu dan akan berdampak pada menurunnya posisi tawar  seni sebagai ilmu yang dapat dikatakan fleksibel, elegan dalam kehidupan yang akan datang. Jika hal ini terjadi, hemat penulis akan berdampak pada cacatnya moralitas kehidupan.

Sedangkan pertanyaan kedua merangsang kita semua tentunya untuk kembali bersama-sama menganalisa esensi atas pembelaan Aristoteles terhadap kritik Platon.  Baginya, dunia jasmani-indrawi bukan hanya sebuah cerminan- yang cepat berlalu dan sebab itu kurang padat eksistensinya-dari dunia idea yang terpisah dan berdiri sendiri. Hemat penulis apabila kita mengomparasikan pembelaan  Aristoteles dan Dua seniman besar Abad Renaissance (Leonardo da Vinci dan Leon Baptista Alberti) yang mengatakan bahwa “gurunya seniman ialah pengalaman” maka pembelaan Aristoteles sangat logis dan masuk akal. Artinya bahwa realitas perlu dibawah masuk dalam ruang lingkup permenungan hakikat seni.

Realitas yang dimaksud penulis ialah “yang terlihat, yang dirasakan, dan yang didengarkan oleh seniman, atau bahasa yang digunakan Aristoteles ialah jasmani dan indrawi. Lebih jauh Aristoteles berpendapat bahwa idea yaitu bentuk-bentuk kenyataan, dan tidak memiliki realitas transendensi apa pun. Seperti tidak ada materi yang tak berbentuk, tidak ada bentuk-bentuk yang terpisah dari materi. Semua yang ada merupakan satu-kesatuan antara materi dan bentuk, yang dapat diuraikan melalui pemikiran, tetapi tidak secara kenyataan.

Oleh karena itu, bagi Aristoteles tidak masuk akal jika dikatakan bahwa dunia penampakan kurang mengada berbanding dengan bentuk-bentuk tadi dan hanya merupakan tiruan yang tidak sempurna. Narasi Aristoteles ini bahkan dapat dikatan sangat realistis bagi sekelas filosof. Terlepas sepakat atau tidak sepakat, setuju atau tidak setuju, namun akal sehat kita tentu bisa menerima argumentasi ini sebagai argumentasi yang masuk akal.

Dalam hal ini, penulis menemukan kekuatan kebenaran di dalam dua dalil berbeda di atas. Kritik Platon bagi penulis bukan pada persoalan tidak ada materi yang tak berbentuk, tetapi lebih kepada bagaimana seorang seniman dalam melihat seni dan memposisikan estetika tidak terjebak pada wujud dari materi tersebut. Contoh, keindahan patung bukan hanya terletak pada bentuk, model dan ukuran patung yang bisa dilihat, dan dipegang oleh indra tetapi lebih pada esensi, makna, substansi dan nilai-nilai yang terkandung pada patung itu sendiri.

Platon tidak menyangkal akan satu-kesatuan antara bentuk dan materi. Tetapi porsi  pemaknaan dari keduanya yang oleh Plato kritisi. Bahwa keindahan materi bukan hanya dilihat dari apa yang dilihat dan dirasakan (jasmani-indrawi). Pertanyaannya ialah apakah seni tidak bersentuhan langsung dengan sesuatu yang karakternya dan sifatnya realistis dan yang berbenturan langsung dengan jasmani dan indrawi?

Secara terpisah penulis memaknai apa yang dimaksudkan Aristoteles dalam melihat seni terutama posisi estetika itu sendiri. Bagi Aristoteles hemat penulis lebih menekankan sesuatu yang realistis. Artinya keindahan bentuk, model, dan ukuran atau dalam bahasanya jasmani dan indrawi  menjadi elemen terpenting untuk merumuskan dan menghasilkan konklusi mengenai seni dan posisi estetika tersebut tanpa mengabaikan bentuk idea dari keindahan itu sendiri seperti substansi dan makna. Jika yang dimaksud Aristoteles seperti ini, penulis menjadikan dalil di atas untuk mempertanyakan dalil lanjutan dari Platon yang beranggapan bahwa “yang indah dari keindahan ialah bentuk idea dari keindahan itu sendiri.”

Dalam konteks seni, ketika yang indah dari keindahan ialah bentuk idea dari keindahan itu sendiri, lalu darimana kita menghasilkan “ idea dari keindahan” tersebut? Rangsangan apa yang menghasilkan idea dari keindahan tersebut, seandainya tidak bersumber dari jasmani dan indrawi? Lebih dalam lagi, apakah yang “idea” itu muncul dari yang ada (dilihat, dirasa atau didengar) atau “idea” telah ada sebelum yang dilihat, dirasakan dan yang didengar sudah ada?

Jika mengacu pada keyakinan dua seniman besar abad Renaissance yakni Leon Baptista Alberti (1404-1472) dan Leonardo da Vinci (1452-1519)” yang meyakini  bahwa “gurunya seniman ialah pengalaman”, maka logis apabila yang”idea” itu muncul dari yang indrawi- jasmani, jika pengalaman yang dimaksud  itu ialah hal-hal yang sifatnya rill terjadi dan dilihat secara kasatmata. Atau dengan kata lain, pengindraan langsung akan realitas yang dialami (dirasakan, dilihat, didengar) oleh seniman. Tetapi pengalaman tidak sesempit itu. pengalaman rohani melalui permenungan, kontemplasi, refleksi dan sejenisnya misalnya.

Artinya seorang hanya berkutat dengan hati nurani, pikiran dan perasaanya dengan keaadan mata tertutup, menepi dari keramaian dan menyendiri, kemudian dijadikan pijakan untuk melihat dan memaknai seni. Dalam hal ini tentu seorang seniman tidak berkutat dengan yang indrawi-jasmani, bahkan melebur dalam dunia ideanya.

Jika pengalaman yang dimaksud keduanya itu sifatnya menyeluruh, maka dalil ini dapat dikakatakan logis. Tetapi sekaligus mematahkan anggapan bahwa “idea” itu muncul dari yang ada. Lalu, apakah dengan demikian dalil yang dihasilkan Platon tentang “yang indah dari keindahan ialah bentuk idea dari keindahan itu sendiri” dapat diterima? Jika demikian, kita seolah mengamini bahwa yang “idea” itu ada sebelum yang ada itu ada. Jika demikian konklusinya, timbul pertanyaan baru yang coba penulis ajukan bagi kita bahwa, apakah yang idea itu ada dengan sendirinya atau ada “sesuatu” yang merangsangnya untuk ada?

Sebelum terlalu jauh, mari kita terlebih dahulu mendalami apa esensi dari keyakinan dua seniman besar abad Renaissance tersebut. Berangkat dari realita sepanjang abad pertengahan dimana seni muaranya lebih kepada “melayani agama, yang mana tugasnya ialah menunjukkan wujud dan peristiwa duniawi sebagai tanda-tanda ilahi.

Hal ini berubah di abad ke 15 ketika seni Italia membebaskan diri dari pengaruh agama ditambah dengan makin tumbuhnya kepercayaan pada kemampuan sendiri, yang membuat orang mulai menekuni seluruh tumpah ruahnya gejala-gejala alami dan berusaha untuk menghadirkannya dengan tepat. Dari sanalah Leon Baptista Alberti dan Leonardo da Vinci, dua tokoh dengan bakat yang paling beragam di zaman itu mulai menyadarinya.

Bahwa kemudian bagi mereka pengalaman seyogianya menjadi guru utama seni, harus diartikan secara harafiah: melalui pengalaman seniman belajar untuk mengerti hukum yang mendasari penampakan. Agar dapat menggambarkan benda mana pun sedemikian rupa hingga sesuai dengan benda itu, dibutuhkan satu pemahaman yang jernih mengenai hakekatnya (Hauskeller, Seni-Apa itu? Posisi estetika dari Platon sampai Danto:28-29).

Pijakan penulis dalam mendalami esensi keyakinan dua seniman tersebut ialah arti harafiah dari pernyataan di atas. Artinya seniman harus mampu memahami pola, hakekat, bentuk, nada, warna dan lain-lain dari seni itu sendiri melalui keterlibatan secara total untuk menghasilkan sesuatu yang murni, rill dan tidak mengada-ada. Supaya unsur kemurnian dan kebenaran dari benda yang akan digambarkan, dilukiskan tidak dimanipulasikan. 

Seniman tidak hanya dituntut untuk kreatif, inovatif dan produktif. Lebih dari itu seniman bertugas mempertahankan yang telah ada, melanjutkan proses penciptaan pada tingkat lebih tinggi. Memaknai perkataan Leonardo da Vinci seniman ialah penemu dan penerjema antara alam dan manusia, di mana seniman diharapkan mampu menjembatani dua pekerjaan sekaligus untuk dapat menyatuhkan alam dan manusia.

Hakikatnya alam selalu memulai, namun tidak selalu dapat terwujud, karenanya seniman harus mampu menyempurnakan. Meminjam ucapan Hauskeller, “alam itu indah, namun lebih indah lagi seni ciptaan manusia karena merupakan terapan bebas pemahaman, yakni pemahaman tentang hakikat keteraturan alam yang digambarkannya secara murni dan tanpa kepalsuan.”

Artinya, alam karakternya sudah indah, tetapi dapat dibuat lebih indah oleh seniman karena sejatinya seni ciptaan manusia mengandung keindahan yang lebih manakala hakikat keteraturan alam dapat digambarkan secara murni tanpa ada sedikit pun kepalsuan. Sejauh ini, pertanyaan yang muncul dari benak penulis ialah sesempit inikah ruang lingkup seni dan estetika setiap abadnya?

Platon mengajarkan penulis mengenai hakikat seni itu bukan hanya terbatas pada yang jasmani-indrawi. Sejauh yang dapat penulis pahami dari cara Platon memposisikan estetika dalam seni dan hakikat seni itu sendiri ialah bahwa seni juga mencakup prilaku manusia, cara berpikir dan cara memahami. Hal tersebut tidak penulis temukan dalam diri seniman pasca Platon. Hal ini kemudian terwariskan secara terus menerus sehingga kritik Platon, oleh penulis kembali diucapkan dengan dasar argumen yang sama dengan yang diutarakan Platon di zamannya.

Penulis mengakui akan kreatifitas, inovatif, dan produktifitas para seniman saat ini pada umumnya, Indonesia khususnya. Di Indonesia misalnya banyak karya-karya yang dihasilkan para seniman tanah air yang tentu saja patut diapresiasi dipublikasikan ke publik. Pada titik ini seniman harusnya bersyukur karena negara menyadari akan pentingnya peran seni dalam hidup berbangsa.

Namun, hemat penulis ada yang dilupakan oleh seniman tanah air tentang hakikat seni terutama yang dikritik Platon. Bahwa seni itu hakekatnya indah. Dan keindahan tidak hanya terjebak pada yang indrawi-jasmani. Bukan hanya pada hal-hal yang bersifat materil. Tetapi lebih dari itu, keindahan juga mencakup yang  “idea.” Disinilah poin yang mungkin perlu dikritisi. Bahwa pola pikir seniman kita pun masih dijajah oleh dunia jasmani-indrawi, yang dominan bersifat materialistik yang berujung pada kalkulasi untung rugi.

Prilaku dan pola pikir seniman kita tidak mencerminkan hakikat seni yang indah. Sehingga untuk menciptakan keindahan yang harapkan Aristoteles dan Platon sangat jauh. Disatu sisi seniman kita disuguhi oleh tampilan publik yang buruk, akan tetapi ujian bagi seniman sesungguhnya ialah ketika dihadapkan dengan realita yang demikian (jelek). Kembali lagi apa yang dimulai oleh alam tidak selalu dapat sepenuhnya terwujud dan tugas dari seniman ialah menyempurnakan itu.

Peradaban merupakan proses yang harus dilalui. Hemat penulis, peradaban selalu memberi warna, seni dan keindahan tersendiri. Karenanya, agak tidak relevan ketika seorang seniman memposisikan peradaban sebagai faktor penyebab mundurnya kadar eksistensi seni dan estetika. Barangkali pemaknaan para seniman terdahulu yang belum tuntas atau prilaku dan pola pikir seniman masa kini yang tidak mampu memaknai dan menafsirkan secara jernih terkait hakikat seni dan estetika itu sendiri.

Atau ada hal lain yang menjadi penyebanya? Pada titik ini, penulis sangat yakin dengan dua penyebab di atas. Bahwa ketidaktuntasan para seniman dan keterbatasan pola pikir seniman saat ini adalah dua sisi mata uang yang perlu diasah layaknya gergaji.

Akhirnya ungkapan klasik yang mengatakan bahwa “seni itu hidup dari pemaknaan yang berbeda dari pelakon seni itu sendiri”, akan menjadi simpulan sekaligus penutup dari penulis. Tentu pemaknaan yang diharapkan penulis ialah sebagaimana yang diutarakan Hauskeller yaitu secara murni dan tanpa kepalsuan”, sebab hakikatnya alam itu indah dan peradaban bagian dari fenomena alam.

Oleh: Bastian Waru
Pemerhati Budaya    

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Seni, Estetika dan Peradaban
Seni, Estetika dan Peradaban
“Seni itu hidup dari pemaknaan yang berbeda dari pelakon seni itu sendiri.” Ungkapan klasik ini secara kontekstual barangkali dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
https://2.bp.blogspot.com/-ueZXCPGU-lA/W9MmqhkTFFI/AAAAAAAAB6Q/e9tQeLPMicUK_Pl8HdDLEBvPlf5GLRCLACLcBGAs/s320/Bastian%2BWaru.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-ueZXCPGU-lA/W9MmqhkTFFI/AAAAAAAAB6Q/e9tQeLPMicUK_Pl8HdDLEBvPlf5GLRCLACLcBGAs/s72-c/Bastian%2BWaru.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/seni-estetika-dan-peradaban.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/seni-estetika-dan-peradaban.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy