Sabda Hak Bela Negara dan Elektabilitas

Foto: Dok.Pribadi
Fenomena akhir-akhir ini publik selalu dipertontonkan kepada imoralitas dalam praktik berdemokrasi. Semangat keberagaman dalam negara demokratis yang dibingkai dalam format kesatuan itu nampaknya tidak dipahami secara akal sehat, sehingga dampaknya masyarakat terbelah karena soal kepentingan, ego, curiga dan saling tuduh-menuduh.

Bagaimana tidak? Senyatanya beberapa kelompok dalam struktur masyarakat saat ini merasa paling gagah-gagahan, dalam kata lain merasa paling berkuasa, dalam kata lain merasa paling ber-hak dan dalam kata lain merasa paling “gue yang benar dan loe yang tidak benar”.

Narasi tersebut selalu digaungkan di seluruh plosok negeri sehingga tidak terlewat dengan praktik-praktik pumbubaran, intimidasi dan bahkan persekusi yang jelas-jelas praktik tersebut tidak dibenarkan dalam negara hukum yang demokratis.

Dalam situasi seperti ini saya mengamati pola (tingkah) yang dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat, dan termasuk yang dilakukan oleh para kelompok yang berkepentingan di pesta demokrasi tahun depan. Dalam bahasa popular kali ini adalah antara “Si Cebong dan Si Kampret”.

Publik merasakan seakan-akan negara ini milik mereka berdua, tidak di dunia maya maupun di dunia nyata, publik sangat merasakan atas kecerewetan dan kegaduhan mereka semua. Bahkan informasi isu demi isu yang strategis seperti lingkungan hidup, HAM dan perlindungan kaum minoritas tertelan oleh opini yang bernuansa kepentingan politik antara #2019gantipresiden dan #2019jokowi2periode.

Saya tidak antipati dengan politik, bagi saya hal itu wajar dalam mendewasakan negara demokrasi, namun sangat disayangkan jika keberagaman menjadi terbelah karena tidak saling mengindahkan aturan main dalam negara demokrasi Pancasila.

HTI dan PKI
​Nyanyian yang ingin dibangun dalam mendulang elektabilitas di tahun politik yang akan mendatang adalah antara “siapa yang pro kepada HTI dan PKI”. Bagi sejarah kita mencatat kedua partai tersebut membahayakan terhadap eksistensi kedaulatan bangsa. PKI dengan ideologinya Komunisme, Marxisme-Leninisme yang kemudian dibubarkan oleh rezim Soeharto dengan Keputusan Presiden Nomor 1/3/1996 perihal pembubaran PKI disangka akan melakukan kudeta G 30 S dan berujung pembantaian tujuh jenderal senior, dan dalam sepenggal sejarah sebelum  peristiwa 65 terdapat peristiwa pemeberontakan PKI tahun 1926 dan 1948 dimadiun dan pada akhirnya pun PKI juga menjadi korban pembantaian terhadap operasi anggota dan partisipan PKI.

Begitu pula HTI dengan misinya ingin mendirikan negara islam “ Khilafah”  yang kemudian dibubarkan oleh rezim Jokowi pada 19 Juli 2017 melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-30.AH.01.08 tahun 2017 pembubaran tersebut kerena diduga kegiatan yang dilaksanakan HTI terindikasi kuat telah bertentangan dengan tujuan, asas dan ciri berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan aktivitas HTI dinilai telah menimbulkan benturan di masyarakat yang dapat mengancam kemanan dan ketertiban masyarakat.

Isu HTI dan PKI telah berhasil dimainkan oleh kedua kubu yang berkepentingan di tahun politik. Bagi saya, eks HTI dan PKI adalah sama-sama bagian dari korban sejarah. Stigma yang menyebar di kuping masyarakat menjadikan wabah diskriminasi dan darurat HAM.

Kita melihat isu yang dibangun bagi siapapun yang pro HTI dan pro PKI adalah mereka yang tidak loyal kepada negara, keberadaan eks PKI dan HTI dalam sebagian masyarakat sampai hari ini masih dalam kumparan stigma-stigma negatif.

Atas asumsi tersebut masyarakat pun mengantisipasi dengan dasar prasangka-prasangka agar kedua partai tersebut tidak boleh bangkit kembali. Sehingga bagi yang tidak termasuk dalam kedua partai sebut sampai tertekan ketika ingin melakukan gerakan aspirasi.

Satu sisi ingin mengadakan kegiatan pengajian dan aksi dengan kostum bertsorban putih ada orang yang berteriak mengatakan HTI telah menungganginya, kemudian lawan kelompoknya membubarkannya dengan dalih bela negara.

Begitu juga dari sisi lain ketika melakukan aksi kemanusiaan dengan menyuarakan HAM masal lalu dan memakai kostum bewarna hitam lawan politiknya bersorak PKI, bubarkan PKI.

​Praktik pembubaran, intimidasi, dan persekusi hadir karena didorong oleh hasrat kekuasaan. Orang menjadi pongah karena menghamba kepada kekuasaan. Semua berdalih atas premis menduga-duga untuk mengamankan kedaulatan dari kebangkitan PKI dan HTI, maka mereka membuat konkulasi dengan ayat-ayat konstitusi.

Misal demi menagantisipasi kebangkitan PKI dan HTI maka pasal 30 UUD 1945 dijadikan sebagai senjata tanpa mempertimbangkan bukti dan fakta, bahwa dalam pasal tersebut menyatakan Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara…”.

Kemudian diperkuat dengan pasal 28 J UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara…”

​Pada akhirnya kita sering melihat narasi yang dibangun oleh beberapa kelompok bahwa praktik yang dilakukan adalah ancaman makar, mengganggu ketertiban dan tidak konstitusional serta masih banyak sabda lain yang digaungkan.

Jika kita baca logika dalam ayat-ayat konstitusi tersebut diatas maka kita dapat bertanya dimana unsur melanggar hak dan ketertiban orang lain? Hak tersebut dapat dikatakan melanggar manakala praktik yang dilakukan bertentangan dengan hak orang lain yang keluar dari koredor hukum positif.

Jika kita lihat, Justru yang melanggar hak orang lain adalah bagi mereka yang membubarkan hak orang yang sedang berkumpul, berserikat, dan menyampaikan pendapat. Karena aksi damai, berkumpul diruang-ruang diskusi selama tidak bertentangan dengan hukum merupakan hak yang dbolehkan dalam negara demokratis

Netralitas Kepolisian
Kepolisian Negara RI sebagai alat negara yang menjaga keamanan, dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakan hukum. Berkaca pada fenomena praktik pembubaran massa aksi nampak terlihat ketidakcakapan aparat kepolisian dalam melindungi, menertibkan dan menegakan hukum yang fair, sadar atau tidak justru aparat dengan mempertontonkan kepada ketidak netralitasan kepolisian sebagai lembaga independen, maka masyarakat enggan untuk mempercayainya, sehingga berefek pada kesenjangan sosial; orang saling main hakim sendiri, tentu hal ini sangat membahayakan kepada negara hukum.

Penegakan hukum yang beraroma standar ganda dalam menangani aksi massa selalu di perlihatkan oleh aparat kepolisian. Jika aparat cakap dalam membaca fenomena maka yang melakukan intimidasi, persekusi dan pembubaran tanpa fakta yang jelas tersebut bisa langsung ditangkap, karena yang mereka lakukan bukan lagi delik aduan, aparat wajib untuk melakukan tindakan kepada orang yang menganggu hak orang lain dalam berorasi maupun berkumpul.

Namun ironi, justru kebalik aparat acap kali ikut menertibkan dan bahkan membubarkan aksi demokratis dengan bahasa-bahasa yang diplomatis.

Sebagai lembaga yang berwibawa seharusnya menjaga penegakan hukum yang adil dan berintegritas, Jangan sampai kemudian lembaga independen terseret kepada arus kepentingan praktis. Aparat tidak boleh jadi alat kekuasaan yang digunakan untuk mempertahankan atau meningkatkan elektabilitas. Tugas aparat adalah untuk menegakan hukum.

Oleh: Taufiqurochim
Pengurus Cabang IMM Surabaya

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,163,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,180,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,567,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,36,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,61,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,277,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,52,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,117,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,61,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,288,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,250,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,414,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,19,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1123,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,36,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,87,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,19,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,64,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,46,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Sabda Hak Bela Negara dan Elektabilitas
Sabda Hak Bela Negara dan Elektabilitas
https://3.bp.blogspot.com/-UYDr072QLGg/W7hhLcaNGmI/AAAAAAAAC-U/QM5x-fRCnn8wuGvJf6IgHKt8GuA138d7QCLcBGAs/s320/IMG-20181006-WA0042.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-UYDr072QLGg/W7hhLcaNGmI/AAAAAAAAC-U/QM5x-fRCnn8wuGvJf6IgHKt8GuA138d7QCLcBGAs/s72-c/IMG-20181006-WA0042.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/10/sabda-hak-bela-negara-dan-elektabilitas.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/sabda-hak-bela-negara-dan-elektabilitas.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close