Riuhnya Pilihan dan Krisis Pemikiran
Cari Berita

Riuhnya Pilihan dan Krisis Pemikiran

MARJIN NEWS
8 October 2018

Foto: Dok.Pribadi
Fenomena riuh menjelang pesta demokrasi lima tahunan di indonesia memang selalu menjadi perhatian tersendiri, dua pasangan capres dan cawapres telah siap berlaga merebutkan tahta RI satu. Tidak hanya partai politik yang riweh mempersiapkan pesta tersebut, atas nama masa reformasi dengan corak demokrasi yang semakin cair dan dinamis, kita juga melihat berbagai golongan masyarakat telah mengambil posisi, memanfaatkan moment agar turut terhitung pembagian jatah kue-kue hasil pemilu. Barbagai alasan yang terdapat, ada yang memilih karena konsistensi ideologi, ada yang memilih karena kalkulasi pemberian materi (moneypol), ada juga yang memilih karena rasionalitas program kerja visi dan misi kandidat kedepan. Entah alasan mana rakyat Indonesia yang lebih menonjol dalam memilih.

Menjadi menarik disini, melihat lajunya media sosial elektronik yang ada. Patut diakui bahwa publik memang telah tumbuh dewasa, ramai dan selalu tanggap bahkan hampir 24 jam jika kita mengikutinya. Dalam media twitter contohnya, geliat saling mencari celah dan bahkan setiap hari terdapat suatu obyek popular yang dibincangkan, perseis fenomana yang dilakukan oleh ibu-ibu pedesaan yang memiliki budaya menggunjing atau “rasan-rasan”. Malah justru fenomena ibu pedesaan yang menggunjing inilah yang jarang kita jumpai lagi, karena mungkin sebutan ibu telah berubah menjadi sebutan “emak”, emak-emak zaman now yang sudah tidak lagi memiliki kutu rambut di kepala. Situasinya telah berbeda, emak zaman now mungkin kebanyakan adalah jebolan perguruan tinggi, kehidupannya bersih, lebih suka belanja dan jalan-jalan, mereka telah banyak kehilangan tetangga, tetangganya berganti menjadi followers dalam gengaman smartphone.
Selain emak-emak juga terdapat muda-mudi yang juga tidak kalah aktifnya, pendidikan mereka lebih merata, bukan hanya full day tapi juga full lokasi dan kondisi. Gaya belajar mereka juga tidak monoton, tidak lagi memakai metode membaca, menghafal dan menulis. Mereka mengasah otak dengan cara bermain game online, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut melangsungkan perdamaian dunia, cerdaslah dan damailah mereka, maka mungkin tercapailah tujuan konstitusi Negara. Sedangkan dilain fihak sebagian kecil dari mereka yang melakukan diskusi atau menyelami dunia pemikiran, mengupayakan harkat kemanusiaan, memperjuagkan ruang hidup dan lingkungan, acap kali sering menjadi korban pembubaran dan persekusi atas nama persatuan dan ketentraman Negara. Fenomena inilah yang menjadi realita disekitar kita, dan bahkan dari kelompok kita sendiri. Akhirnya bagaimana tidak berdampak pada buntunya setiap pesta demokrasi kita, yang tidak menghasilkan apa-apa selain bersoal pergantian kekuasaan yang didukung secara fanatik dan justru menimbulkan pola kebencian pada yang berbeda.

Demokrasi memang telah menjadi kesepakatan kita bersama, sebagai sistem Negara yang mendekati ideal menuju konsensus bersama dalam rumpun keanekaragaman. Akan tetapi riuhnya pemilihan di dalam sistem demokrasi alangkah baiknya juga dibarengi dengan semangat pemikiran, ide, konsep dan gagasan menuju terjaminnya kehidupan bersama, semua buat semua, melahirkan kebijakan beralaskan dialektika etik yang bukan sekedar politik. Karena gajah, ayam, monyet dan kerbau, mereka semua peka terhadap lingkungannya masing-masing. Sehingga politik harus kita maknai kembali sebagai suatu hajat kemanusiaan, suatu konsep Negara yang dahulu ditemukan oleh para pemikir yang gelisah terhadap suatu tatanan kehidupan, bukan sebagai suatau hajat perebutan kekuasaan.

Sebagai solusi jika pendidikan talah disepakati menjadi kunci hitam putihnya suatu peradaban, pendidikan harus membebaskan diri dari pengelolaan model perusahaan untuk meraup keuntungan, pendidikan juga tidak boleh dimisikan pada pencaharian suatu kuasa atau kedigdayaan, apalagi persaingan antar lembaga pendidikan. Pendidikan adalah samudra pencaharian dharma kehidupan, pendidikan berguna menciptakan suatu tatanan kehidupan yang fair (politik), sehingga terbitlah fajar budi kehidupan. Simpulnya pendidikan tidak akan berdampak apa-apa kepada kehidupan jika selalu berbasis pada pemenuhan kebutuhan pasar, bukan kemanusiaan. Semoga bermanfaat.

Oleh: Milada Romadhoni Ahmad, S.Sos.