Rinai di Tengah Kelam, Sajak Karya Aris Nggawi
Cari Berita

Rinai di Tengah Kelam, Sajak Karya Aris Nggawi

MARJIN NEWS
4 October 2018

Foto: Ilustrasi
Malam ini aku bermandikan rinai di tengah kelam
Mereka tidak tahu tentang langit
Mereka tidak tahu tentang buana
     
Sedang apa dia di sana:
Meditasi?
Ibadat?

Atau memeluk kembang di atas lapang?
Atau melumat rindu di atas kelopak?
Atau sekedar berkhayal?
         
Rinai tak henti menghunjam pipi lusuh
Kau tak henti menampar pipi datarku
Katamu, aku dibuai si bintang yang berkedip meski langit kian mendung
Katamu, aku menyeruput secangkir kopi racikan jemarinya

Katamu, aku merumput seranjang dengan kambing kian mengembik
Katamu, bibir merahnya masih tersimpan di dadaku
       
Tapi, angin pun tahu
Hanya hati yang bisa berkata seada
Senada dalam menapak
Hanya iman menyembuhkan si kusta dan si lumpuh
Hanya iman yang bisa memberimu pengertian

Imanilah, maka kamu mengerti
Kalau aku masih serahim dengan-Nya
Puncak Lucyana, 15/06/2018

Sang Pujaan Hati

Sang pujaan hati yang selalu kunanti
Tak henti bertati mengejar meski tak berarti
Bagimu kasih sang pujaan hati

Meski tak jarang aku meranjang di tepi jalan
Terkapar karena hempasan angin yang bertiup tak pelan
Aku tetap berjalan

Menata remah yang sempat jatuh di waktu mentari melangit
Merias harap walau berakhir tragis dan sengit

Sang pujaan hati...
Laksana mentari kau hadir di relung hati
Laksana rembulan di atas bukit gersang ini
Kau ada dan selalu ada di sisi

Aku tak sekali tampik rasa ini
Dan terus menanti
Mesti kau tak memujaku sang penjaga hati
Tapi aku ini sang penanti sejati
Hingga senja di telan bumi

Sang pujaan hati...
Hariku tinggal sedetik lagi
Ruah dan kasih kugantungkan pada langit pekat ini
Meski kau tak peduli padaku lagi
Aku bahagia walau rintik datang tak henti
Karena pernah menjadi penjaga hati

Ruang Rindu, 10/06/2018

Oleh: Aris Nggawi
Komunitas Sastra Djarum Scalabrini, Puncak Scalabrini, Maumere, Flores