Rikus, Sperma dan Ranjang yang Terkutuk
Cari Berita

Rikus, Sperma dan Ranjang yang Terkutuk

Marjin News
4 October 2018


Setetes air mani adalah separuh jalan menuju kehidupan. Jangan jadikan bahan candaan. Apalagi dibiarkan tercecer pada tisu diantara sampah-sampah lain.(gambar: Istimewa) 

"Sungguh cantik wanita itu, tuhan sungguh luar biasa. Aku jatuh cinta padanya, sungguh". Rikus memelas dada, matanya tertuju pada seorang wanita yang duduk diujung barat kantin kampus. Namanya Mira. 
"Cantik dan anggun" sahutnya lagi, sembari sesekali menikmati kopi dan rokok. 

Bagaimanapun semua wanita itu cantik, kecuali kalau wanita itu tidak bersyukur. 

Rikus sampai pada cegukan terakhir kopinya, sementara asap rokok yang dihembuskannya mengepul, membentuk lingakaran-lingkaran kecil yang berterbangan. Dia seperti sangat menikmati tingakahnya, tanpa dia sadar ada orang yang dengan susah menutup hidung karena aroma asap yang tak sedap. 

"Pergilah ke tengah hutan, nikmati rokokmu disana. Ini kampus, bukan tempat untuk merokok, orang-orang risih dengan asapmu" Meli membentaknya. Meli sudah tak tahan lagi, kenyamanannya terganggu oleh asap rokok Rikus. 
"Pergilah ke kantor DPR, ambil megafonemu, teriaklah disana. Ini kampus, bukan tempat untuk berdemo" Rikus membentaknya balek. Dia berdiri, menatap Meli dari ujung kaki hingga kepala. 
"Kau telanjang dalam mata dan pikiranku, seksi, aku suka." sahutnya sembari melangkahkan kaki meninggalkan Meli. Meli diam saja, kesal dan emosi tentu saja. 

Rupanya Rikus memilih kursi kosong sebelah kanan Mira. Membakar rokoknya kembali. Kali ini tanpa secangkir kopi. Rokok tanpa kopi nikmatnya kurang maksimal. Tapi bagi pecandu, saat apapun tetap saja nikmat. 

"Akupun akan melakukan hal yang sama seperti Meli, tapi aku tak akan diam saja jika kamu lawan" Mira memulai pembicaraan sebelum Rikus menghembuskan asapnya. 
"Aku tidak. Tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan pada Meli" Rikus menelan asap rokok yang terlanjur dia hisap, lalu mematikan rokoknya. "Sekalipun kamu membentak aku" Rikus mendekatkan mulutnya pada telinga Mira. "Aroma tubuhmu luar biasa Mir" 
"Emmm, jangan bodoh" Mira tertawa kecil.


***

Ditempat lain, Tina diselimuti duka. Hari harinya penuh luka. Cemas dan selalu merasa diri manusia paling bersalah. 
Menangis? Tentu saja. 
Bak mata air, air mata Tina selalu mengalir deras dari matanya. Membasahi pipi hingga tubuhnya. Disana, terlihat perih-perih masa lalu yang datang setiap saat, tanpa sedikitpun kata permisi. 

Bagaimana tidak. Rikus, pria lajang yang katanya terdidik dengan bangga menelanjangi Tina atas nama cinta. Menikmati setiap lekuk tubuh Tina, hingga kesucian dan harga diri Tina di raupnya tanpa sedikitpun rasa bersalah. 
Tina hanyalah seorang perempuan, lemah tak berdaya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan tubuhnya di kroyok nafsu Rikus. Selain karena lemah, Tina termakan janji dan irama kata yang dilantunkan rikus, begitu manis didengar. 
Tina percaya, semua yang mereka lakukan atas dasar cinta. 

"Jika kamu mencintaiku, berikanlah tubuhmu. Setelahnya, aku akan menjadi orang yang tak akan membiarkanmu menangis. Aku mencintaimu. Tak akan meninggalkanmu" Tina berpegang teguh pada kata-kata itu. Kata-kata Rikus sebelum membelai Tina. Dalam dan meluluhkan. 

"Maafkan aku sayang, tak ada yang lebih berharga pada perempuan selain setetes darah keperawanannya, itu adalah mahkota dan harga diri kami, bagaimana aku harus mendapatkannya kembali?" Tina menangis terseduh menyesali perbuatanya. 
"Jangan cemas, kamu sudah memberikan pada orang yang tepat. Kamu percaya saja" sahut Rikus menjawab, sembari melingkari ikat pinggang pada celananya. 

Tanpa bicara apa-apa, tina menatap diri. Menangis, memulai menapaki kisah paling buruk dalam hidupnya. 
Tina Rela? Tentu tidak. 
Rikus? Yang penting spermanya keluar. 

Hari-hari berikut Tina terlihat lebih pesimis. Dia malu dengan diri sendiri, di kampus Tina selalu menyendiri. Semangat belajarpun terganggu. Banyak hal yang menurutnya kurang. Termasuk identitasnya sebagai perempuan. Sementara itu, Rikus semakin pandai merayu Tina. Setelah yang pertama, mereka melakukan hubungan itu berulang ulang kali. Rikus bersetubuh karena nafsunya, Tina bersetubuh karena merasa percuma menolaknya.


***

Setelah pertemuan di kampus, Mira dan Rikus semakin akrab. 
Bukan lagi sekedar teman, mereka sekarang adalah sepasang kekasih. Urusan perempuan, Rikus tak pernah meleset. 

Seperti pada mantan mantannya, pada Mira, Rikus pun melakukan hal yang sama. Yah, seperti layaknya memperlakukan seorang kekasih yang akan dijadikan hmitra seks.

Aku tak perlu menceritakan bagaimana hubungan Mira dan Rikus selanjutnya, kisahnya sama. Persis seperti yang dilakukanya pada Tina, juga pada beberapa deretan nama gadis-gadis yang senasib dengan mereka. 
Iya, sudah banyak Tina dan Mira lain yang menjadi korban Rikus, pada kamar yang sama, pada ranjang yang sama, pada pria yang sama pula. 
Bedanya cuma satu, Tina dan Rina dengan kesuciannya, sementara gadis-gadis lain dengan kebiasaan yang berulang ulang. Entah berapa kali mereka melakukannya. Sudah tak terhitung. Rikus sendiripun sudah lupa, berapa kali dengan Mira, berapa kali dengan Tina, berapa kali dengan gadis lain termasuk PSK jalanan yang dia bawa kerumahnya. 

Hingga pada suatu waktu, setelah sekian lama tak ada kabar. Tina menghubungi Rikus via telepon, menceritakan tentang sisa-sisa sperma Rikus yang mengalami pembuahan.

"Yang benar saja Tin, aku selalu menggunakan kondom" Rikus mengelak, menarik napas panjang. 
"Semuanya selesai, aku tak tega anakku memanggilmu ayah. Orang sepertimu tak layak menjadi seorang ayah, kau bukan laki-laki. Lebih baik kandunganku gugur, dari pada harus menjadi istri dari laki-laki seperti kamu. Enyalah kau, membusuklah seperti kondom dan tisue-tisue yang kau buang begitu saja." Tak kuasa menahan tangis, Tina menutup telepon. 



***

Citra Rikus semakin buruk di kampus, teman temannya mulai menjauh, mereka menyesali sikap Rikus memperlakukan perempuan. 

Rikus meyakini diri , bahwa dia adalah seorang laki-laki. Harus kuat dan selalu punya cara.

"Aku harus berubah, aku harus berubah, aku harus berubah" sahutnya dalam hati hampir setiap jam. 

Apalah daya, hidup tak semudah yang Rikus kira. Kecewa luar biasa nampak dari dalam diri Rikus. Menyesal, menyesal dan menyesal.
Begitulah rikus sekarang.
Rikus tak lagi seceria sebelumnya. Tak lagi menceritakan kenikmatan-kenikmatan seksualnya dengan perempuan berbeda. 
Tak lagi membanggakan diri atas durasi seksualnya yang lama. 
Kuliahnya pun mulai tidak teratur, pergi kampus semaunya, pulang sesukanya. 
Tak ada lagi yang mesti diharapkan, yang ada hanya kecewa dan luka batin yang mendalam. 


Pekan terakhir sebelum UAS, Rikus mulai mengumpulkan niat baiknya. Tak peduli omongan orang, tak peduli pada tubuhnya yang makin kurus. Niat Rikus sangat besar untuk memperbaiki sikapnya. 

Hari pertama dalam pekan, selepas dari kelas, Rikus ditemui Meli teman sekelas Mira, menyerahkan sepucuk surat tanpa mengucap satu katapun. 
Tanpa pikir panjang, segera Rikus membaca suratnya, sementara Meli meninggalkan Rikus sendirian. 





Dear Rikus. 

Setetes air mani adalah separuh jalan menuju kehidupan. Jangan jadikan bahan candaan. Apalagi dibiarkan tercecer pada tisu diantara sampah-sampah lain. Seprti yang kita lakukan. 
Bayangkan saja, ketika setetes air mani bertemu indung telur, melakukan pembuahan hingga melahirkan bayi yang begitu lucu, ganteng atau cantik, unik dan menggemaskan. Kita sangat bahagia bukan? begitupun si bayi. Ada sejuta harapan pada dirinya. Tangisan pertamanya menyiratkan dia siap menerima dan menjalankan seluk beluk hidup. Melawan kebobrokan dunia, bermimpi dan mewujudkan mimpinya. Dia jadi anak yang baik dan pintar. 
Sungguh teganya kita, tega meyaksikan sebuah kehidupan yang mati sebelum dia betul-betul hidup? Apalagi kita sendiri yang membunuhnya. 
Kamu membuangnya, saat dia masih menjadi sperma. Padahal, mereka ingin berlomba mencari rumah untuk teduh, untuk tumbuh, untuk tinggal selama sembilan bulan. Kita betul-betul tak layak hidup. 
Supaya kamu tahu, kamu adalah satu-satunya pria yang tahu setiap lekuk tubuhku. 
Kasurmu adalah satu-satu kasur yang menjadi saksi percikan darah kesucianku, tetesan air mata penyesalanku dan kata-kata busuk dari mulutmu. 
Kamarmu adalah satu-satunya kamar yang menjadi saksi desahan-desahan sakitku, desahan kenikmatanmu dan satu satunya kamar pria yang meyaksikanku telanjang tanpa sehelai benang. 
Terimakasih. 
Terimakasih atas virus HIV yang kau hadiahkan sebagai pengganti darah kesucianku. Selain sisa cairan spermamu, dalam tubuhku ada virus HIV yang dengan bahagia bermain dengan bayi kita. 

Saat kau baca surat ini, aku sudah tak ada di bumi. Aku pergi dengan anak yang kau ciptakan dalam kandunganku. 
Pergilah ke jembatan diujung barat kota ini. Aku dan anakku pergi dari tempat itu, jika kau mau nyusul, pergilah kesana. 
Lemparkan saja dirimu, seprti yang kami lakukan. Kalau tidak, tunggu saja waktunya. Penyakit dalam dirimu akan mengantarmu padaku. Tenang saja kamu tidak sendirian, kamu akan pergi dengan semua perempuan yang sudah kau perlakukan sama seperti padaku. 

Sampaikan salamku pada Meli
Bilang padanya, maaf tak sempat pamit. Terimakasih sudah mengantarkan suratku padamu. Dia sahabat terbaikku. 



Mira. 


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Hari ini dengan bangga menertawakan kecewa yang datang dari masa lalu. Sementara masa depan mulai menutup diri, gelap. Hidup seperti tak lagi punya warna. 
Semuanya selesai. Seperti Rikus, yang hanya menghabiskan masa mudanya di atas ranjang. Dengan seks dan sperma yang mengutuknya. 






Oleh: Viky Purnama (PenaBiru)

Jurnalis Marjinnews.com Wilayah Yogyakarta.