Ratna Sarumpaet yang Buat Hoax, Dua Putra Terbaik NTT Malah Saling Berbalas Surat

Foto: Istimewa Jakarta, Marjinnews.com -- Kabar bohong atau Hoax yang diciptakan oleh Ratna Sarumpaet sungguh menghebohkan negeri ini. ...

Foto: Istimewa
Jakarta, Marjinnews.com -- Kabar bohong atau Hoax yang diciptakan oleh Ratna Sarumpaet sungguh menghebohkan negeri ini.

Ratna Sarumpaet yang sebelumnya mengatakan dianiaya oleh sekelompok orang pada (21/9) lalu, padahal hanyalah bohong belaka.

Akibat dari tindakannya itu, elit-elit negeri ini saling melempar komentar. Tak ketinggalan juga dua putra terbaik Nusa Tenggara Timur ikut terlarut di dalam sandiwara yang dibuat Ratna Sarumpaet.

Keduanya itu saling berbalas surat layaknya sahabat pena yang lama tak bersua untuk saling menyapa.

Mereka ialah Benny K. Harman mantan Legislator asal NTT yang sudah 3 periode berturut-turut mewakili NTT di DPR RI. Dan Petrus Bala Pattyona advokat senior yang sudah malang melintang di ibu kota Jakarta.

Surat pertama dikirim oleh Petrus Bala Pattyona untuk sahabatnya Benny K. Harman.

Berikut isi surat Petrus Bala Pattyona.
Yth. Bapak Dr. Benny K. Harman, SH, MH
Cuitan Bapak yg beredar di Medsos dalam kaitan penganiayaan Ratna Sarumpaet yg ternyata tak ada peristiwa pidana Penganiyaan dan Bapak menilai Presiden Jokowi  diam dgn 3 analisa tanpa data, fakta, keterangan apapun shg berkesimpulan Presiden diam krn, ini perkara kecil, Presiden diduga memelihara preman dn diduga kuat meninju Ratna S dan Preman2  tsb adalah suruhan Presiden. 

Tahukah Bapak  utk urusan kriminal sdh ada lembaga2 Penegak Hukum yang menangani?.Tahukah Bapak kesibukan Presiden yg luar biasa menangani bencana gempa di Palu Donggala dsk nya? -- ini utk tuduhan Diam.

Utk tuduhan masalah RS masalah kecil, tahukah Bapak  begitu banyak  empati yg sdh mengalir ke RS sebelum terbongkar kebohongannya sehingga Presiden menilai biarlah masalah ini ditangani oleh pihak2 yg kompetensi alah hanya seorang RS, bukan lebih diutamakan lebih 1400an korban gempa dn jumlah tsb mungkin terus bertambah?

Tuduhan Bapak  Presiden memelihara Preman dn Preman2 tsb meninju RS, apa ada  bukti2 berupa data, info atau keterangan apa dari siapa, kapan disampaikan kepada Anda, dimana disampaikan, apa/bagaimana kronologis nya dan kalau ada data2 tsb sdhkah terkonfirmasi krn bukankah Bapak  sebelum terjun di Politik pernah menjadi wartawan hukum yg diawali di LBH Jkt, saat itu thn 1987 saya jg sbg Volunteer Lawyer di LBH Jakarta dn Bapak sbg  pegawai Yayasan LBH Jkt dgn Ketua Abdul Garuda Nusantara (Alm.) dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang perpustakaan, tempat kliping koran? Pd wkt itu ada jg Rekan Paul S. Baut?

Bapak  katakan Presiden menyuruh Preman2, siapa Preman2 itu, dimanakah Preman2 itu, dimana Preman2 itu disuruh, kapan Preman2 itu disuruh, siapa menyaksikan Preman2 itu disuruh Presiden. 

Tolong jelaskan semua pertanyaan saya ttg ketiga hal yg Bapak  twitt agar saya tidak berkesimpulan Analisa Bapak  ngawur, prematur, tanpa data, tak bermutu, penuh kebencian, hoax, dan menimbulkan perpecahan, permusuhan, keresahan sosial  di masyarakat

Setelah 2x  gagal jd gubernur NTT  kajian, analisa Bapak   kurang cerdas bahkan terkesan frustrasi  krn  apapun yg dilakukan Pemerintah di mata Bapak selalu salah dn tak ada nilai positif.

Tolong jelaskan ke publik sebelum antipati masyarakat tertuju kepada Bapak apalagi di Peleg yad Bapak  tetap  Caleg 2019  di Dapil NTT 1 dari Partai Demokrat.

Salam hormat
Dari: Petrus Bala Pattyona SH MH.


Berikut jawaban BKH yang disebut sebagai
NOTA POLITIK BUAT PETRUS BALA PATTYONA
Dari : BENNY K. HARMAN

Bung Petrus Bala Pattyona Ybk. Apa khabarmu. Semoga melalui surat ini 
saya menemui bung dalam keadaan sehat. Jasmani dan rohani. Tak kurang 
apapun. Suratmu sudah saya baca dengan cermat isinya. Terima kasih banyak 
koreksinya. Maaf, baru sempat membalasnya. Maklum, sibuk cari sesuap nasi.
Terus terang, saya menulis surat ini dengan terpaksa, hal yang jarang saya 
lakukan. Biasanya kalau ada hal yang ingin saya tau atau ingin memberikan 
penjelasan mengenai suatu hal, saya angkat telepon saja dan bicara, masalah 
selesai. Tapi kali ini, meskipun tidak penting, saya terpaksa lakukan, lebih karena 
surat ini saya tulis untuk menjawab surat yang bung kirim melalui media publik, 
medsos, dan disebarluaskan ke seantero dunia. Maka pikiran yang hendak bung 
sampaikan diketahui oleh publik, masuk ranah publik, tidak hanya saya yang tau 
tapi juga publik tentunya. 
Selain itu, saya semula ragu, jangan-jangan ini surat palsu dan hoax juga. 
Khawatir nanti saya menanggapi pikiran bung padahal bukan bung yang 
menulis. 

Karena itu, izinkan saya menyampaikan bahwa tulisan ini saya buat 
dengan pengandaian bahwa benar adalah Saudara Petrus Bala Pattyona atau 
yang mengklaim atau mengatasnamakan Bung Petrus yang menulis dan 
mengirim surat tersebut melalui media publik kepada saya. 

Selamat membaca.

Bung Petrus Yth. Bung adalah sahabat lama saya puluhan tahun silam 
meskipun belakangan ini jarang bertemu. Menjelang Soeharto punya rezim 
runtuh, saya tahun 1987 bekerja sebagai staf di Yayasan LBH Indonesia 
merangkap sebagai wartawan Media Indonesia sejak 1989. Pada waktu itu, saya 
masih ingat baik, Bung Petrus sebagai tenaga sukarela di Kantor LBH Jakarta,  sebagai pengacara. Tentulah sering ketemu karena YLBHI dan kantor LBH satu 
Gedung. 

Saya sendiri bekerja sebagai tukang kliping pada Divisi Komunikasi dan 
Publikasi YLBHI bersama dengan Pak Hendardi sebagai pimpinan kami saat itu. 
Bung Petrus termasuk yang sering datang di tempat kami nongkrong dan setau 
saya bung Petrus termasuk staf LBH yang suka banyak bicara. Saya kagum sekali 
meskipun lama kemudian saya menganggap bung Petrus asal bunyi kalau bicara. 
Bunyi nyaring tapi isi kosong. Kadang logikamu tidak jalan. Dungu jika meminjam 
istilah generasi jaman now. Tapi sekali lagi, itu dulu. Sekarang tentu jauh 
berbeda. Petrus lama telah menjadi Neo-Petrus seiring waktu berjalan. 

Tentang ini, maaf, terlalu pribadi, saya tidak ingin menguraikannya. Lebih lagi karena 
bung Petrus sekarang sudah menjadi pengacara kondang di Ibukota. Saya belum 
lama ini pernah bermimpi, bung Petrus menjadi Ketua Tim Hukum Relawan 
Jokowi Presiden dua periode. Selamat buat bung. Proficiat! Tentu sebagai 
sahabat, saya ikut bangga. Jejak langkahmu, aku ikuti. Kecil lah Jakarta ini.

Bung Petrus Yth. Saya langsung fokus saja memenuhi permintaan bung 
untuk menjelaskan secara lugas dan lengkap isi tuitan saya terkait berita 
penganiayaan Ratna Sarumpaet yang ternyata diketahui kemudian itu fabrikasi 
alias berita bohong. Khabar tentang Ratna dianiaya itu saya peroleh melalui 
berita di televisi setelah salah satu paket Capres-Cawapres yang didampingi tim
pemenangannya tgl 2 Oktober 2018 menyuarakan hal itu dalam konpres resmi
yang kemudian diberitakan di Media Mainstream, Online, dan Medsos keesokan 
harinya. Yang saya baca antara lain berita di Koran Tempo edisi Rabu 3 Oktober 
2018. Selain itu khabar ini menjadi ramai di Medsos. Saya juga membacanya dan 
mengikuti perkembangannya. Siapa sih yang tidak percaya dgn grup Tempo? Sebagai pengacara. Tentulah sering ketemu karena YLBHI dan kantor LBH satu 
Gedung. 

Saya sendiri bekerja sebagai tukang kliping pada Divisi Komunikasi dan 
Publikasi YLBHI bersama dengan Pak Hendardi sebagai pimpinan kami saat itu. 
Bung Petrus termasuk yang sering datang di tempat kami nongkrong dan setau 
saya bung Petrus termasuk staf LBH yang suka banyak bicara. Saya kagum sekali 
meskipun lama kemudian saya menganggap bung Petrus asal bunyi kalau bicara. 
Bunyi nyaring tapi isi kosong. Kadang logikamu tidak jalan. Dungu jika meminjam 
istilah generasi jaman now. Tapi sekali lagi, itu dulu. Sekarang tentu jauh  berbeda. Petrus lama telah menjadi Neo-Petrus seiring waktu berjalan. Tentang  ini, maaf, terlalu pribadi, saya tidak ingin menguraikannya. Lebih lagi karena bung Petrus sekarang sudah menjadi pengacara kondang di Ibukota. Saya belum 
lama ini pernah bermimpi, bung Petrus menjadi Ketua Tim Hukum Relawan 
Jokowi Presiden dua periode. Selamat buat bung. Proficiat! Tentu sebagai sahabat, saya ikut bangga. Jejak langkahmu, aku ikuti. Kecil lah Jakarta ini.

Bung Petrus Yth. Saya langsung fokus saja memenuhi permintaan bung 
untuk menjelaskan secara lugas dan lengkap isi tuitan saya terkait berita 
penganiayaan Ratna Sarumpaet yang ternyata diketahui kemudian itu fabrikasi 
alias berita bohong. Khabar tentang Ratna dianiaya itu saya peroleh melalui 
berita di televisi setelah salah satu paket Capres-Cawapres yang didampingi tim
pemenangannya tgl 2 Oktober 2018 menyuarakan hal itu dalam konpres resmi
yang kemudian diberitakan di Media Mainstream, Online, dan Medsos keesokan 
harinya. Yang saya baca antara lain berita di Koran Tempo edisi Rabu 3 Oktober 
2018. Selain itu khabar ini menjadi ramai di Medsos. Saya juga membacanya dan 
mengikuti perkembangannya. Siapa sih yang tidak percaya dgn grup Tempo?

Pada waktu saya membaca dan mendengar berita ini, saya dalam hati 
bertanya-tanya, ada apa dengan negeri ini. Apa yang salah dengan republik ini. 
Kenapa kekerasan sepertinya merajalela. Siapa yang melakukan ini dan motifnya 
apa. Itu semua pertanyaan yang muncul dan menggelora dalam hati. Saya juga 
dalam hati bergumam, jangan-jangan kasus ratna ini nanti sama nasibnya 
dengan kasus Novel Baswedan. Menakutkan. Kita tidak tau, apa keterangan 
resmi penguasa tapi komentar banyak netizen macam-macam di Medsos. 

Selain itu, imajinasi saya ke mana-mana tentang ini. Saya teringat dengan 
pidato Bpk Presiden Jokowi di hadapan para relawan di Sentul International 
Convention Centre (SICC) tanggal 4 Agustus 2018 yang silam. Saya yakin bung 
ingat, sebab saya juga dengar khabar burung bahwa Bung Petrus salah satu 
komandan relawan yang hadir saat itu. Ingat bung.? Apa pesan Bapak Jokowi 
saat itu?. Aku beritau yah. Saat itu, Bapak Jokowi meminta kepada para relawan 
untuk siap berantem atau “baku pukul” ala preman dalam bahasa kita orang 
Flores apabila ada lawan politik yang melakukan penyerangan terhadap Jokowi. 
Dan menurut sahabat saya, Ali Mochtar Ngabalin, yang dulu benci Bpk Jokowi 
tapi sekarang sudah menjadi sahabatnya, “itu perintah Panglima.” (DetikNews, 
7/8/2018). Sebagai perintah panglima, perintah itu harus dijalankan. Semoga 
bung Petrus masih ingat. Jangan pura-pura lupa bung!

Saya sengaja kutip pidato Bapak Jokowi di atas, karena itulah yang  menjadi latar telaahan saya soal kemungkinan ada preman di sekitar presiden itu. Karena ingin tau perkembangannya maka saya ikuti terus komentar para netizen di Medsos. Salah satu yang menggelitik saya datang dari salah satu 
netizen. Netizen itu dalam tuitannya menulis, “Sekarang Ratna Sarumpaet. Kemarin Novel Baswedan. Dan tak sepatah katapun dari Presiden.”

Atas pertanyaan itu saya tergerak untuk menulis komentar yang intinya 
pemerintah dalam hal ini presiden harus memberikan penjelasan dan 
keterangan apa gerangan yang terjadi agar netizen dan warga masyarakat tidak 
membuat analisis dan komentar liar yang tidak jelas ujung pangkalnya dan 
mungkin bisa meresahkan warga. Kalau tidak ada keterangan resmi, maka warga
masyarakat akan membuat komentar dan tafsir sendiri-sendiri sesuai dengan 
selera dan kepentingannya. Bisa saja orang berspekulasi dan membangun opini,
persepsi dan narasi untuk menyudutkan Capres atau kelompok tertentu.

Maka atas pertanyaan Netizen itu, saya membuat telaahan. Ada empat 
kemungkinan, menurut saya, mengapa untuk masalah ini, Presiden tidak memberi penjelasan atau mengapa presiden diam. 

Empat kemungknan itu 
adalah pendapat, pikiran, dan tafsir saya atas fakta yang terkomentar itu. Bisa 
salah dan bisa benar. Hanya saja karena keterbatasan ruang untuk ditulis di 
twitter, hanya tiga kemungkinan yang dimuat. Tapi semuanya bukan tanpa 
dasar, tidak mengada-ada seperti yang Bung Petrus tuduhkan. 

Empat kemungkinan itu ialah: Pertama, mungkin presiden menganggap 
ini perkara kecil sehingga tidak penting ditanggapi. Ada perkara yang lebih besar 
seperti urus gempa di Palu. Masuk akal tentunya. Kedua, mungkin ini pekerjaan 
preman2 di sekitar presiden. Preman tidak harus buruk konotasinya. Mungkin 
saja presiden memelihara preman dan kalau kemungkinan ini benar maka 
diduga kuat preman-preman ini disuruh untuk meninju Ratna sehingga 
terjadilah kekerasan itu. Inipun bisa dipahami, meski belum tentu dapat 
dibenarkan. Mungkin Bung Petrus tanya, kok tiba-tiba ngelantur ke preman?. 
Kenapa imajinasinya liar begitu?. Merendahkan martabat presiden? TIDAK 
bung! Saya masih waras dan pikiran saya masih sehat. Apa alas pikirnya? Tentu 
pertanyaan Bung Petrus wajar saja.

Alas pikirnya, itu tadi yang telah saya uraikan sedikit di atas yaitu pidato 
Bpk Jokowi di hadapan para relawannya di SICC tanggal 4 Agustus 2018 untuk 
siap berantem. “Relawan harus siap berantem,” titah Bpk Jokowi. Dalam benak 
saya, tentu Bpk Jokowi punya pasukan khusus yaitu preman-preman untuk bisa 
berantem dengan lawan politik yang coba-coba menciderainya. Karena itu, 
begitu muncul khabar tentang kekerasan atau penganiayaan terhadap Ratna 
Sarumpaet, pikiran saya langsung tertuju pada pidato Bpk Jokowi itu. “Pasti ini 
aksi preman-preman sesuai dengan pidato Bpk Jokowi waktu itu,” kataku di hati. 
Salah kah cara pikir saya? TIDAK! Karena Ratna Sarumpaet masuk dalam tim 
pemenangan Prabowo. Mungkin cara pikir saya tidak sopan. Mohon maaf, kalau 
begitu.

Ketiga, mungkin ini penerapan revolusi mental. Proses hukum terlalu 
berbelit-belit, birokratis, tidak efektif, dan tidak jelas. Maka ini cara yang 
mungkin bisa diterapkan. Saya ingat dengan kasus penenggelaman kapal-kapal 
illegal. Tanpa proses hukum, itu dilakukan. Untuk memberi efek jera. Saya 
sangat memahaminya. Walaupun tidak membenarkannya. Keempat, presiden 
mungkin diam karena ini hoax, berita bohong. Itu empat kemungkinan yang 
menurut saya membuat presiden diam. Tetapi, sekali lagi karena terlalu panjang 
dan keterbatasan ruang dalam tuitan maka kemungkinan yang keempat ini 
terpotong. Karena itu tidak muncul dalam tuitan saya yang pertama. Belum 
sedetik saya posting itu, muncul tanggapan dari netizen yang mengatakan, 
kemungkinan keempat ialah karena ini berita hoax sehingga presiden diam. Atas 
komentar netizen ini, langsung saya konfirmasi dan sambung, “betul dan benar 
sekali”. Mungkin karena menurut presiden ini hoax. 

Maka, dalam tuitan berikutnya, saya menulis agar aparat keamanan 
segera mencari siapa pelaku aksi kekerasan ini dan ungkapkan siapa dalangnya  dan apa motifnya. 

Mengapa saya menulis seperti itu? Supaya tidak menjadi kasus yang nasibnya sama dengan kasus Novel Baswedan. Dalam kasus 
kekerasan terhadap Novel Baswedan, presiden belum berhasil mengungkapkan siapa pelakunya dan apa motifnya. Padahal ini penting utk penegasan komitmen 
Bapak Presiden Jokowi terhadap agenda pemberantasan korupsi. Dengan 
mengungkapkan ini maka presiden (yang dimaksudkan dengan presiden di sini 
ialah institusi) melalui aparat penegak hukum bisa bicara tentang masalah ini. 
Mengapa perlu bicara, sekali lagi, agar tidak ada penafsiran dan spekulasi di 
tengah-tengah masyarakat bahwa kasus Ratna ini terkait dengan Pilpres yang 
tentu saja akan berdampak buruk bagi iklim demokrasi dan mungkin berdampak 
buruk bagi Bpk Jokowi yang juga menjadi Capres periode 2019-2024. Mengapa 
bagi Bpk Jokowi berdampak buruk, karena salah satu Capres telah menyuarakan 
kasus kekerasan ini kepada publik melalui siaran televisi. 

Ketika tanggal 3 Oktober kemarin kasus ini merebak luas di Media termasuk media sosial, ada khabar bahwa ini berita bohong, Ratna Sarumpaet tidak dianiaya tapi menjalani operasi plastik sehingga mukanya tampak lebam. Saya tidak berurusan dengan soal benar tidaknya Ratna dianiaya atau oplas. Jika 
ini khabar bohong, maka saya menyerukan dalam tuitan saya berikutnya agar
yang memproduksi berita bohong ini harus diusut dan dihukum seberat￾beratnya. Karena selain merusak iklim demokrasi, kita sedang Pemilu dan  Pilpres, menurut saya ini merupakan cara politik yang sangat tidak sehat. 

Menciderai Capres Prabowo dan merendahkan martabat bangsa. Bayangkan, 
seorang Prabowo dan Sandiaga Uno (Capres-Cawapres) menyuarakan 
kebohongan ini. Saya punya pikiran dan perasaan, masa sih orang kayak Ratna 
Sarumpaet bisa membohongi Pak Prabowo, Pak Sandiaga Uno, Pak Amien Rais, 
Pak Fadlizon, dan kita semua?. Mosok sih Capres Prabowo dan Cawapres 
Sandiaga Uno serta pak Amin Rais berani menyuarakan cerita Ratna ttg  kekerasan terhadap dirinya kalau mereka tidak yakin dengan pengaduan Ratna
itu. Apalagi disiarkan melalui media televisi, surat khabar dan media Online 
terkemuka dan juga tersiar luas di Medsos. 


Bung Petrus Ybk. Mungkin saya salah, bisa saja, karena terlalu gegabah 
memberikan komentar. Tapi apakah saya menuduh Presiden Jokowi
memelihara preman? TIDAK. Saya hanya mengkonfirmasi saja apa yang telah 
dikemukakan Bpk Jokowi dalam pidatonya di hadapan Relawan di SICC tgl 4 
Agustus seperti saya kutip di atas. Apakah dengan itu, saya menyudutkan 
Presiden Jokowi? TIDAK! Ada dasarnya bung. Apa dasarnya.? Pidato 4 Agustus 
itu. Ini saya kutip lagi supaya Bung Petrus ingat yah. Adalah Bpk Jokowi sendiri 
yang pada 4 Agustus itu memberi perintah kepada para relawan atau tim 
suksesnya untuk berantem atau berkelahi kalau perlu, dan berantem atau 
berkelahi itu adalah salah satu bentuk premanisme. Maaf bung, saya tulis ulang 
lagi ini, khawatir bung lupa. Tidak ada maksud lain. Jadi, biasa sajalah bung. Kita 
sama-sama mencintai negeri ini. Kau Pancasila, aku juga Pancasila.

Saya rasa demikian bung. Saya akhiri dulu obrolan kita kali ini. Semoga 
penjelasan ini menjadi clear dan clean untuk bung. Saya senang dgn cara bung, 
langsung menulis surat dan menyebarluaskannya melalui Medsos. Ini era serba transparan. Harap surat saya ini juga bung sebarkan juga ke jaringan Medsos 
yang bung punya. Jangan bung malah diamkan. Bilamana perlu dibahas dan 
didiskusikan di kalangan teman-temanmu. Akal sehat harus kita kedepankan 
untuk mengalahkan kedunguan-kedunguan yang tidak perlu.

Ihwal pernyataan bung Petrus bahwa setelah dua kali gagal menjadi 
gubernur, analisis dan kajian saya kurang cerdas bahkan terkesan frustrasi, yah, 
yah, itu kan perasaan bung saja. Itu penilaian subyektif. Menyakitkan pendapat 
bung ini, tapi saya ingin tegaskan bahwa saya tidak sedang frustrasi. Saya sehat 
bung. Kalau kajian dan analisis saya kurang cerdas sekarang, bukan karena saya 
frustrasi atau tambah dungu akibat kalah dua kali Pilgub seperti yang bung 
pikirkan dan bung ikut ambil bagian di dalamnya, tetapi karena bung Petrus 
sekarang sudah bertambah pintar dan cerdas. Bung sudah hebat sekali. Tidak 
seperti dulu ketika tahun 1987 masih menjadi volunteer di LBH Jakarta. Saat itu, 
kalau bung bicara, memang kedengaran seperti orang teriak saja dan logika 
bung masih dangkal. Sekarang sudah luar biasa. Saya salut. Maju terus bung.

Di akhir Nota ini, saya ingin mengajak bung. Mari kita saling menghargai 
pendapat dan pilihan kita masing-masing. Jangan karena saya beda dengan 
pilihanmu, kamu nilai saya antiPancasila. Saya menghargai pendapat bung 
seperti halnya saya punya pendapat atas sikap diam presiden sebagaimana yang 
saya uraikan di atas juga harus bung hargai. Kalau bung seorang lawyer yang 
punya pendekatan rasional dan demokratis dalam melihat suatu masalah, 
seharusnya bung juga menghargai pendapat saya meski sakit sekalipun rasanya. 
Bukankah begitu bung Petrus?. Soal kesimpulan bung, analisis saya ngawur, 
premature, tanpa data, tak bermutu, penuh kebencian, hoax dan menimbulkan 
perpecahan dan permusuhan serta keresahan sosial di masyarakat tentu saya 
hargai karena itupun kesimpulan yang bung buat tanpa dasar juga. Tentang apa 
dasar dan alas pikir analisis saya, di atas sudah saya uraikan. Silahkan baca lagi.

Sekali lagi, meskipun kesimpulan bung di atas ngawur dan tidak bener, 
saya mengerti dan saya hargai, wong pendapat kok. Bebas saja dengan saya. 
Bung mau maki, bilang saya bodoh, dan dungu, atau mengatakan apa saja 
sampai bung puas dan merasa bahagia, tetap saya hargai dan bagi saya, bung 
sendiri tidak berubah kualitasnya di mata saya. Bung tetap menjadi Petrus Bala 
Pattyona, sahabat saya. Petrus yang dulu dungu, sekarang pintar dan cerdas!

Kalau bung singgung dalam suratmu soal Pemilu, yah bagi saya biasa saja, 
karena tanpa kasus ini pun bung dari dulu kampanyekan hal-hal jelek untuk tidak 
pilih saya di kampungmu. Saya sendiri tidak mengerti, mengapa bung benci 
sekali dengan saya. Dan lagi pula, hmmmm…. waah bung sendiri kan ikut Caleg 
beberapa kali tapi gagal terus toh. Saya seharusnya tidak omong ini. Tapi 
meskipun bung gagal Caleg, tetap juga saya hargai bung. Dan meskipun setelah 
itu, omongan bung di media tentang saya, menurut saya asbun dan seperti tong 
kosong yang berbunyi nyaring, hanya karena dengki, saya toh tetap menghargai 
bung. Dan tidak pernah saya merendahkan bung hanya karena kedengkianmu. 

Akhirulkalam, semoga penjelasan yang saya namakan NOTA POLITIK ini
menjadi lilin kecil untuk bung yang sedang mungkin berjalan dalam kegelapan. 
Lilin kecil yang mungkin bisa menerangi jalan pikiran bung yang masih gelap 
tentang saya, sahabat lamamu. Maaf apabila ada kata-kata yang kurang sopan 
dan tidak menyenangkan. Jangan bawa di hati yah. Salam hangat buat teman￾teman dan keluarga, terima kasih atas doa dan perhatiannya. Berkat Tuhan!

Kampung Culu, Labuan Bajo, 4 Oktober 2018
Sahabatmu, Benny K. Harman. (*)

Editor: Remigius Nahal

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,231,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,2,Berita,9,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,46,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,157,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,2,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,259,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,6,Kepemudaan,151,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,59,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,7,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,88,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,355,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,22,Pariwisata,25,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,PenaBiru,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,67,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,26,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,7,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Ratna Sarumpaet yang Buat Hoax, Dua Putra Terbaik NTT Malah Saling Berbalas Surat
Ratna Sarumpaet yang Buat Hoax, Dua Putra Terbaik NTT Malah Saling Berbalas Surat
https://3.bp.blogspot.com/-VogUUONpNH4/W7ZMvpfeLII/AAAAAAAAC8Q/qIdJRAr-D2YkWHWZ04wxkc96mwLbOJtXACLcBGAs/s400/20181005_012306.png
https://3.bp.blogspot.com/-VogUUONpNH4/W7ZMvpfeLII/AAAAAAAAC8Q/qIdJRAr-D2YkWHWZ04wxkc96mwLbOJtXACLcBGAs/s72-c/20181005_012306.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/ratna-sarumpaet-yang-buat-hoax-dua.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/ratna-sarumpaet-yang-buat-hoax-dua.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close