Praperadilan Ditolak, Togar Situmorang Minta Penyidik Segera Tahan Notaris Widastri
Cari Berita

Praperadilan Ditolak, Togar Situmorang Minta Penyidik Segera Tahan Notaris Widastri

MARJIN NEWS
23 October 2018

Togar Situmorang, S.H., M.H., MAP. (Foto: Istimewa)

Denpasar, Marjinnews.com -- Kasus kepemilikan lahan pelaba pura di Pura Jurit Luhur Uluwatu, Ungsan, Kuta Selatan, Badung memasuki babak baru.

Praperadilan yang dilakukan oleh Notaris Wayan Widastri ditolak oleh Pengadilan Negeri Denpasar.

Ditolaknya Praperadilan Notaris Widastri itu, Kuasa Hukum dari pelapor Wayan Wakil yang merupakan pemilik sah lahan tersebut yakni Togar Situmorang, S.H., M.H., MAP meminta pihak penyidik Polresta Denpasar untuk memanggil Notaris Widastri dan segera menahan yang bersangkutan.

Togar takut, Wayan Widastri berpotensi akan melakukan tindakan menghilangkan atau melarikan barang bukti dan melarikan diri.

"Penyidik segera tahan Notaris Widastri. Takut melarikan barang bukti atau melarikan diri serta mengulangi perbuatan yang sama," pinta Togar Situmorang.

Lebih lanjut Panglima Hukum di Bali ini, menjelaskan, dirinya sudah dari awal memprediksi bahwa langkah Praperadilan yang dilakukan oleh Notaris Widastri akan gugur.

Togar juga menilai putusan Hakim Pengadilan Denpasar menolak Praperadilan Notaris Widastri sudah tepat dan sangat objektif.

"Prediksi awal, praperadilan Notaris Widastri akan gugur. Dan Ketua Hakim sangat objektif dalam menilai kasus ini sehingga jelas profesionalisme penyidik dalam penetapan tersangka Notaris Widastri sudah sesuai aturan hukum," terang Togar Situmorang.

Sebelumnya, dua orang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus sengketa lahan pelaba pura di Pura Jurit Luhur Uluwatu ini.

Mereka ialah AA Ngurah Agung yang disebutkan sebagai Ketua Pengempon Pura dan Ni Wayan Widastri yang dikenal sebagai pejabat notaris di Denpasar.

Kasus ini terungkap bermula dari adanya gugatan perdata yang diajukan oleh Notaris Ni Wayan Widastri. Dalam gugatannya Reg Perkara: 943/PDT.G/2017/PN.DPS itu, pihak tergugat adalah bernama I Wayan Wakil.

Di mana, dalam gugatan tersebut yang bersangkutan menggunakan akta No 03 tertanggal 2 November 2007 yang dibuat di Kantor Notaris Ir I Wayan Adnyana di Jalan Tukad Pakerisan Nomor 62 Denpasar, yang isinya adalah sewa menyewa tanah tersebut selama 30 tahun.

Sementara nilai kontrak yang tertuang dalam akta itu adalah senilai Rp5,5 miliar. Namun, sehari setelah perjanjian itu, sang notaris membuat kembali akta 03 sewa, di mana di dalamnya menambah jangka waktu sewa menyewa selama 20 tahun.

Total jangka waktu sewa menyewa tersebut selama 50 tahun dengan nilai Rp4 miliar lebih. Akta ini dibuat di notaris Ir. Wayan Adnyana yang saat ini kantornya telah berpindah di Jalan Pulau Flores, Denpasar.

Melihat fakta dan bukti gugatan di PN Denpasar oleh Ni Wayan Widastri serta pertimbangan dokumen asli yang dimiliki Wayan Wakil mengenai lahan miliknya, maka ia pun memutuskan melaporkan beberapa pihak ke polisian.

Kuasa hukum Wayan Wakil, Togar Situmorang SH., MH., MAP menjelaskan, dalam akta perjanjian tersebut Ni Wayan Widastri mengaku sebagai pegawai swasta. Padahal, kata Togar, di tahun tersebut Ni Wayan Widastri telah mengantongi izin sebagai pejabat notaris.

“Ini saja sudah ada pembohongan publik. Belum lagi transaksinya, belum lagi nilai uangnya,” ungkap pengacara kondang yang dijuluki “panglima hukum’ tersebut saat ditemui di Denpasar, Senin 23 September 2018.

Ia menilai uang yang diserahkan kepada AA Ngurah Agung semestinya ada proses clean and clear. Artinya, transaksi yang sah di mata undang-undang. Salah satu buktinya yaitu adanya sertifikat hak milik asli yang harus dihadirkan pada saat transaksi sewa menyewa tanah tersebut.

Padahal, sertifikat tersebut tidak dihadirkan di notaris I Wayan Adnyana saat proses penyusunan akta. “Kenapa dibuatkan aktanya yang diberi judul sewa menyewa dan kenapa bisa dilakukan transaksi. Padahal, sertifikat masih jadi obyek perkara di tempat yang lain. Pemilik lahan tersebut yakni I Wayan Wakil tidak pernah diberitahu adanya transaksi sewa menyewa di atas lahannya, sehingga timbul pertanyaan itu,” terang Togar.

Lantaran bukti yang kuat dengan dasar yang bisa dipertanggungjawabkan di muka hukum, maka Wayan Wakil didampingi Togar Situmorang melaporkan keduanya yakni, AA Ngurah Agung dan Ni Wayan Widastri ke Polresta Denpasar.

Proses hukum yang berlangsung mulai Januari hinga 21 September itu pihak penyidik Polresta Denpasar menyimpulkan hasil gelar perkara dengan menetapkan keduanya yakni, AA Ngurah Agung dan Notaris Ni Wayan Widastri ditetapkan sebagai tersangka. “Akan dilakukan pemeriksaan keduanya pada minggu depan,” terang Togar.

Seperti diketahui, lahan yang disengketakan seluas 3,8 hektar berlokasi di Banjar Cengkiling, Balangan, Pecatu. Selama berpuluh-puluh tahun I Wayan Wakil telah berdiam di lokasi tersebut.

Dalam kasus perdata yang dilayangkan oleh para tersangka ke PN Denpasar, dimenangkan  oleh I Wayan Wakil sebagai pemilik tanah. Sedangkan untuk kasus pidana yang dilaporkan di Polresta Denpasar tertanggal 21 September 2018 telah terbit surat penetapan tersangka Notaris I Wayan Widastri dan AA Ngurah Agung.

Berbagai modus kerap dilakukan oleh oknum tidak bertanggungjawab untuk mengambil manfaat dari lahan yang dimiliki I Wayan Wakil. Termasuk, seorang bos besar berinisial AM pemilik sebuah perusahaan ternama di Indonesia yang telah melakukan transaksi dengan Wayan Wakil.

“Padahal, sampai detik ini Pak Wayan Wakil tidak pernah bertransaksi dengan seseorang yang bernama AM tersebut. Ini yang menimbulkan pertanyaan di benak kita,” ujar Togar.

Apa yang diungkapkan Togar bukan tanpa sebab. Pasalnya, apa yang dilakukan oknum-oknum ini jelas telah melanggar hak hukum dan faktanya, lahan tersebut masih dimiliki oleh I Wayan Wakil.

“Kami ke depannya juga akan mempertanyakan dan peranan orang-orang ataupun notaris yang menyatakan seolah-olah transaksi ini sah. Mereka pun akan kami perkarakan, pasti itu,” ancam Togar dengan mimik serius.

Togar akan melihat waktu yang tepat untuk memperkarakan orang atau notaris lain yang terlibat setelah AA Ngurah Agung dan Notaris Ni Wayan Widastri dipenjarakan.

“Kita segera kirimkan somasi pada mereka (notaris lain,) menyangkut keterangan palsu pada akta otentik yang mereka buat. Notaris yang kita laporkan ada yang dari Bali, juga ada yang dari Surabaya. Kan banyak itu notarisnya AM. Kita tunggu saja,” pungkasnya.

Penulis: Remigius Nahal