Penyiar Radio itu Pacarku
Cari Berita

Penyiar Radio itu Pacarku

MARJIN NEWS
10 October 2018

Foto; Ilustrasi
Namaku Andreas, seorang lelaki yang tiba-tiba menjadi bisu dan tuli setelah sekian lama berbicara terlalu banyak dengan para penguasa untuk mengingatkan mereka soal cerita-cerita yang aku dengar dari para tukang becak, buruh pabrik, petani, para pelacur di sekitar rel kereta dan mereka semua yang tersebar bak sampah di bawah kolong langit; di antara deretan gedung tinggi tempat para borjuis yang lebih mirip mucikari daripada kapitalis di kota ini berlalu-lalang.

Aku bukannya putus asa, terkadang diam dan bahkan meski mulut disumpal paksa menggunakan plakban sambil memegang payung hitam seperti sekelompok idiot di aksi kamisan yang dibubarkan paksa oleh ormas dan aparat karena berbicara aib pemerintah di masa lalu hingga masa sekarang adalah jalan terbaik untuk memberontak.

Jelas tanpa membiarkan mata tertutup rapat melihat setiap pergumulan kelompok terbuang itu, lalu menyatukannya dengan suara nurani. Lantas mengumpatnya dalam doa.

Namaku Andreas, hanya Tuhan yang tahu alasanku berlaku menjadi pembuang ludah pertama ketika melihat kemunafikan politisi di acara-acara televisi. Hanya Dia yang tahu mengapa aku tampak seperti seorang jalang karena sering merangkul pelacur yang ditiduri tanpa diberi upah layak atas jasa mereka memuaskan nafsu bejat pecundang-pecundang berompi oranye di gedung KPK.

Uang, kekuasaan dan seks adalah anganku di masa lalu. Namun, berbalik membencinya karena hanya memberikan kebahagiaan yang semu. Para imam pada kotbah mereka di ibadah setiap hari Minggu mengatakan itu bukanlah yang menjadi tujuan hidup kita di dunia ini. Jelek-jelek begini, aku adalah seorang jemaat yang taat. Mereka mengajarkanku cinta kasih.

Meski belum bisa meneladani Mother Theresa dari Calcuta, aku turuti arahan itu. Termasuk memafkan mereka ketika kaul kemiskinan mereka abaikan dengan lebih suka memimpin ibadah dalam gedung Gereja yang mewah dan bahkan bahkan memaklumi mereka jika telat karena mobil bermerk terkenal mereka terjebak di jalan karena macet saat datang ke tempat ibadah.

Namaku Andreas, kini aku kembali seperti dahulu. Bisa mendengar, dan bisa berbicara meski hanya untuk satu kata; radio. Benda najis bagi sebagian generasi milenial itu adalah harta terindah dalam hidupku. Entah sejak kapan, aku lupa.

Namun meski demikian, selalu ada alasan mengapa aku memilih lebih banyak waktu mendengarkannya sambil menikmati kopi dan sebatang rokok di pagi hari. Ya, karena dia. Pemilik suara merdu nan anggun yang mengalahkan bunyi desis angin kencang merusak kalbu. Suaranya selembut sutra, begitu kira-kira gambaran seorang penyair di kolom cerpen minggu sebuah surat kabar. Aku hanya mengikutinya, karena meski hidup di negara yang kaya sumber daya alam ini tidak pernah sekalipun aku merasakan secara langsung kelembutan sutra itu.

Perasaanku mengatakan bahwa pemilik suara dari radio itu pasti cantik. Sayangnya, aku belum pernah melihatnya. Tetapi dalam mimpi kami sering bersua sapa. Dia hanya tersipu malu ketika aku mengatakan bahwa dirinya terlalu mudah untuk dikagumi. Wajahnya merona ketika aku mengagumi hidungnya yang mancung. Maklum, hidungku pesek. Dia juga sering bilang begitu.

Tak apa, toh setelah aku sering mendengar suaranya lewat radio usang yang aku beli dari tukang loak, aku merasa dia sudah menjadi bagian dari diriku. Keseringannya hadir dalam setiap bunga tidur malamku, membuat aku tidak malu mengakui bahwa penyiar radio itu adalah pacarku dalam mimpi. Bersama keluh kesah yang aku tampung sekian tahun lamanya.

Dia tiba-tiba seperti obat penenang bagi para pecandu narkoba. Menjadi nikotin dan kafein bagi kretekus dan kopiholic seperti diriku. Sejak saat itu, aku ingin dia menjadi satu-satunya pemimpin dalam setiap segmen kehidupan di dunia ini. Meski hanya dalam mimpi, ia tidak pernah acuh mendengarkanku. Menangis bersama cerita-cerita masyarakat miskin kota yang membuatku beberapa tahun silam memilih membungkamkan teliga dan mulutku.

Sentuhan kasih dan cintanya membuat aku sadar betul mengapa Mahatma Gandhi suka akan ajaran agamaku.

Namaku Andreas, kini aku tidak lagi bisu dan tuli karena penyiar radio itu menjadi pacarku. Semenjak saat itu hingga jiwa meninggalkan ragaku, lalu bersatu bersama bintang malam dia akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari diriku. Selamanya..

Oleh: Andreas Pengki