Pembangunan Desa, Bergurulah Kepada Rakyat
Cari Berita

Pembangunan Desa, Bergurulah Kepada Rakyat

MARJIN NEWS
18 October 2018

Foto: Dok.Pribadi
Pembangunan desa.
Konsep pembanguna desa sangat penting bagi negara-negara yang sedang berkembang. Mengingat masalah desa sebagai masalah pokok dalam proses menuju kemajuan yang bermartabat.

Mengapa? Perkembangan suatu Negara umumnya ditandai oleh ciri-ciri pembangunan desa. Perbedaan ciri-ciri negara maju dan negara berkembang terletak pada masyarakat negara itu sendiri, meliputi pola hidup dan tingkat kesejahteraannya.

Pola kehidupan masyarakat Negara berkembang menunjukkan ketergantungan pada ekonomi agraris, sedangkan pola kehidupan masyarakat pada negara-negara maju sudah menunjukan pola kehidupan insdustralisasi dengan tidak meninggalkan penerapan teknologi muktahir.

Asumsi, semakin banyak pertumbuhan jumlah penduduk  semakin menurun pendapatan rata-rata. Tidaklah salah jika pada masa pemerintahan presiden Jokowi dana desa diluncurkan begitu besar. Tujuannya untuk membebaskan masyarakat dari belenggu keterbelakangan, kemiskinan dan pola pikir.

Perbedaan pengertian perkembangan pada kenyataannya tidak berjalan sesuai dengan rencana. Terjadi ketidakseimbangan antara sektor masyarakat yang menimbulkan ketimpangan sosial yang sukar teratasi. Perubahan-perubahan fundamental tersebut akhirnya menimbulkan pernyataan setuju dan tidak setuju dari kalangan masyarakat itu sendiri.

Mereka-mereka yang mendukung perubahan fundamental tersebut akan terus berupaya mendukung bahkan mengajak sebanyak mungkin anggota karena dianggap mampu mengubah pola kehidupan dan sistem perubahan kehidupan masyarakat yang lamban dan kaku.

Sementara, ada yang berpendapat bahwa perubahan-perubahan fundamental merupakan bagian dari bentuk penjajahan yang dapat merusak dan mengganggu keseimbangan social.

Bila pembangunan itu mengarah pada perubahan kepincangan-kepincangan maka ide pembangunan  harus sebisa  mungkin dikaitkan dengan kemakmuran yang bersifat kuantitatif dengan perubahan secara ekonomis.

Jawaban atas hal tersebut erat hubungannya dengan pembangunan dan pembuat keputuasan dalam hal ini “pemimpin desa.” Perbedaan dasar kepemimpinan menumbulkan perbedaan pola operasional kekuasaannya. Ada yang jiwa pemimpin namun tidak semua orang mampu memimpin dengan baik.

Memahami konsep “pemimpin” Max Weber ada dua konsep yang ditawarkan yaitu dasar kepemimpinan legal dan dasar kepemimpinan tradisional.

Charisma atau istilah garis tangan tidak bisa dihubungkan menjadi satu-kesatuan pengertian. Pengecualiannya hanya untuk memudahkan penilaian yang universal yakni kategori secara umum.

Pembangunan untuk rakyat menunjukkan adanya orientasi kuat dan nyata mengarah ke bawah. Orientasi pembangunan yang seperti itu sudah jelas alurnya kepada pembangunan pertanian dan kemajuan desa.

Mengutip kata “dari rakyat” membuka pola pikir kita sebagai praktisi maupun sebagai pedoman perkembangan ilmu pengetahuan umum sejatinya mampu memberikan jalan sebagai tujuan kedua yakni pola kegiatan tidak boleh membelok dan menghasilkan sesuatu yang sama sekali tidak melibatkan rakyat dan bukan untuk rakyat.

Seorang composer sastra Rendra dalam coretan mutiaranya “rakyat adalah sumber ilmu” sebenarnya dapat menjadi acuan dalam segala aspek pembangunan di desa. Di lain sisi, tanpa pertolongan insinyur-insinyur hebat “rakyat” mempunya ukuran-ukuran efisiensi tersendiri. Bahkan, tidak pernah ada dan sekejap muncul.

Loyalitas efisiensi rakyat sudah barang tentu tidak terlepas dari konteks budaya. Demikian, konsep teknologi rakyat sudah seharusnya dimengerti dari kacamata budaya. Jangan sampai proses pembangunan malah menciptakan marginalisasi kepada masyarakat lebih khusus peran dalam isu pembangunan.

Dalam berbagai proyek pembangunan, masyarakat jangan dijadikan obyek mobilisasi atau pelaksana tugas dari atas.

Atas dasar itulah, saya berpendapat, bahwa sudah saatnya kita memulai pembangunan dengan tidak melepaskan masyakarat.

Jadikan masyarakat sebagai guru penegetahuan. Bukan berarti rakyat hadir untuk mengajar dan mendidik lalu usai. Lebih kepada pembangunan yang mulai dari “rakyat” untuk “rakyat” dan dilaksanakan oleh “rakyat”. Rakyat sebagai pelaku pembangunan.

Oleh: Edith Theresa
Jurnalis marjinnews.com wilayah Yogyakarta