Nayla, Cerpen Karya Eko Purnomo Cahirati
Cari Berita

Nayla, Cerpen Karya Eko Purnomo Cahirati

MARJIN NEWS
14 October 2018

Foto: Ilustrasi
Selimut merah yang tadinya dipinggir ranjang, kini menyelimuti sepasang suami istri. Sementara keringat yang masih melumuri tubuh dibiarkan kering terserap kain tebal itu.

Emon menatap dalam-dalam istrinya yang terlelap atau mungkin pura-pura tidur agar dipercaya bahwa dia nyaman berbaring dilengan suaminya.

Ia sendiri tak dapat melelapkan matanya. Pikirannya kacau. Ia teringat kembali akan kejadian siang tadi saat istrinya tersenyum karena mendapati chatingan WA suaminya dengan Jesi, mantannya.

Memang isinya tidak seromantis orang pacaran. Lebih tepat, chatingan itu berisi ungkapan hati dua sahabat yang tiga tahun tidak dipertemukan.

Ungkapan kerinduan terwujud dalam guyonan Jesi yang menceritakan dua anaknya merindukan Emon yang belum pernah pulang dari rantauan. Kejadiannya seolah-olah seperti nasib Istri dari Bang Toyib yang merindukan kepulangan suaminya.

Jesi memang orang istimewa di hidup Emon. Jesi adalah orang pertama yang mengajak emon merasakan kenikmatan saat jatuh dalam cinta. Jesi juga yang mengajarkan emon merasakan nikmatnya merindu.

Jesi adalah cinta pertama sekaligus orang pertama yang mau menerima segala kekurangan Emon. Cinta mereka dapat tumbuh karena perjuangkan Emon yang mencurahkan isi hatinya kepada Jesi saat mereka duduk kelas satu SMA.

Selama tujuh tahun mereka merawat jalinan itu dan bergumul dalam rasa bahagia karena saling percaya. Mereka tidak peduli dengan cemoohan ataupun pujian orang tentang kecocokan mereka, atau cara berpacaran mereka yang lain dari biasanya.

Mereka tidak ikuti trend yang ada yakni untuk usia pacaran selama satu tahun saja, sepasang budak cinta dapat melakukan hubungan seks . Selama tujuh tahun itu, belum pernah Emon menyetubuhi Jesy.

Kedekatan mereka yang paling dalam adalah ketika bibir Emon menyentuh bibir merah Jesy. Itupun hanya sekali dalam kisah pacaran mereka yakni saat Jesy pergi meninggalkan Emon. Saat dimana Jesi terpaksa pergi menjauhi Emon untuk menikahi pria mapan bernama depankan dokter.

Pria itu pilihan Ayahnya. Dokter Rio namanya. Ia saudara sepupu Jesy, anak dari tantanya Jesi. Dalam adat manggarai disebut Rio adalah Rona Tungku Jesi dan karena posisi itu, mereka dapat dijodohkan.

Rio, pria mapan yang selalu dianggap sombong oleh Emon sebenarnya pria yang berhati baik. Ia memang baik kepada siapapun. Namun bagi Emon, manusia itu tidak ada nilai tambahnya sama sekali dimatanya. Semua tentang Rio, tidak ada yang benar dalam tanggapannya.

‘’Aku benci Rio, manusia yang selalu menawarkanku rokok sementara dia sendiri tidak merokok. Pria yang selalu menawarkan aku untuk menumpangi Pajero Putih miliknya saat aku berjalan kaki sehabis kuliah.

Rio yang sering mentraktir aku dan Jesy makan enak di Restoran. Rio, yang dengan cara-cara itu menjadi penyuap nan licik. Ia mencuri hartaku satu-satunya. Aku kecewa saat itu, dunia tak ada artinya. Aku benci semua tentang dunia.

Kefanaan dan kemunafikan hanya melumpuhkan nasib si anak yang terlahir miskin, termasuk terhadap aku anak petani holti dengan bakat istimewa yakni pandai membuat bedeng, memasang mulsa dan membuat pupuk organik. Aku benci bergaul dengan orang kaya.

Aku menyesal berkenalan dengan Jesy, anak Kadis pertanian di kabupaten kami. Jesy gadis kaya yang niat awal berteman denganku hanya untuk belajar cara bertani.’’ Geram Emon dalam hati kecilnya.

Dan juga segala depresi Emon pada dunia telah menghadirkan Nayla dalam hidupnya. Nay menjadi pendamping hidup Emon dan itu akan terjadi selamanya. Emon dan Nay dinikahkan karena Nay dihamili Emon.

***
Didekapannya hanya ada  Nay, istrinya yang baru saja ia setubuhi. Ia pandangi wajah polos istrinya sampai puas. Hatinyapun terdorong untuk mendekatkan tanganya pada lubang hidung istrinya karena saat itu hembusan nafas istrinya tak sampai ke telinganya.

Menghampiri hidung, jari telunjuknya merasakan hembusan hangat nafas Nay yang ditariknya dari hawa ketulusan. Nay, seorang wanita polos yang membiarkan hatinya menjadi tempat pelarian Emon.

Dengan segala pelapiasan sakit hati pada Jesy, Emon memperlakukan Nay sebagai tempat mengisi kesenangan. Ia, menjadi penghibur sekaligus pemuas kebutuhan biologis Emon.

Entah karena lugu atau disengajakan, Nay seolah paham bahwa hanya kesenangan dunialah yang manjur untuk menentramkan hati Emon. Nay mengorbankan waktu kuliah demi mengandung anak Emon yang sebulan lagi akan datang ke dunia.

Malam ini, dalam kesakitannya mengandung dan kecemasan melindungi bayinya dari guncangan, Nay tetap saja memberi kepuasan lahiriah pada Emon. Nay, wanita hebat yang Tuhan kirim untuk Emon. Hanya saja, hati Emon masih tertutup untuk Nay.

‘’Emon..Emon!’’ Igauan Nay memecah keheningan malam. Suaranya pula meluluh lantahkan imajinasi Emon. Seperti petir menyambar, Emon terjaga dari lamunannya. Ia kini sadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan besar terhadap Nay.

Selama ini, Emon telah menuaikan kewajiban sebagai seorang suami. Membuat rumah impian Nay, memenuhi kebutuhan sehari-hari atau membayar cicilan mobil pick up yang baru saja dibeli dua bulan lalu. Dari hasil kerja keras bertani holti, Emon masuk dalam criteria mantu idaman.

Namun, segera ia sadari bahwa, pemenuhan materi bukanlah satu-satu tugasnya. Ia harus menjadi suami yang bertanggung jawab dengan memberikan seluruh kasih sayangnya kepada istri dan anaknya yang ada dalam kandungan Nay.

Kelemahan Emon adalah tidak mampu melihat pedang penghianatan yang dihunus Jesy kepadanya. Dan penghianat seperti Jesy tidak layak diperuntukan bagi ketulusan hati Emon. Ia lupa bahwa Tuhan anugrah Tuhan lebih besar telah dikirimnya dalam wujud Nay.

Selain paras yang sedikit melebihi Jesy, Nay memiliki sifat sabar, penyayang, dan juga ramah kepada siapapun. Beda dengan Jesy. Manusia itu tidak pernah sabar. Ambisinya besar untuk segera memenuhi kebutuhannya.

Jesi juga jarang menyapa orang. Mungkin karena dibesarkan dikeluarga kaya dan itu membuatnya sering terisolasi dengan dunia luar. Nay jelas jauh lebih unggul disbanding Jesi. Katanya.

Mata Emon terlihat berkaca. Ruang dalam kelopak mata kini tak mampu menampung banyaknya air mata yang keluar. Beberapa tetesan basahi pipi. Isak tangis tak lagi tertahan.

Disana ada penyesalan. Ia telah mengabaikan delapan bulan membuat kenangan bersama Nay. Ia memberi berjuta-juta peser uang, tapi tidak untuk secuil cinta. Ia menyesal karena saat menyetubuhi Nay, ia selalu membayangkan wajah Jesi di hadapannya. Ia mengabaikan kebaikan Tuhan padanya.

"Nana, toko ga ! (Abang tidur sudah). Ingat, esok kerja."

Emon terkaget mendengar suara itu. Segera diusapnya mata untuk melihat kearah panggilan itu. Setelah agak jelas, ia melihat sesosok bidadari telah ada didekapannya.

Wajahnya bercahaya dan ketentraman menyelimuti hatinya. Ada kedamaian saat ini, seperti perasaan pengembara yang telah menemukan mimpi. Didekapnya Nay dalam-dalam, dengan sedikit kecupan dikening.

’’ Nay, maaf aku mengabaikanmu selama ini. Baru Sedetik yang lalu aku sadar akan kekhilafanku.’’ Ucap Emon.

Menghadiahkan keperawananku saat itu adalah kesedihanku. Bahagiaku adalah kamu bertanggung jawab. Dan sekarang syukurku adalah mengandung anakmu.

Kepercayaanku pada kemahadasyatan cinta, menggugurkan kekecewaanku padamu karena belum bisa move on. Aku sangat mencintaimu, kata Nayla dengan menatap dalam retina Emon.

Seperti dedaunan jatuh yang tak pernah menguuk pohon, hati nay memaafkan dengan ketulusan. Tidak adalagi dendam, kebencian, atau kesedihan. Semuanya kini tentang kenyamanan bersama pilihan yang tepat.

Semua masalah yang selama ini memberatkan hati untuk bahagia kini sirna, pergi bersama hembusan angin malam menuju ke pantai. Hawa yang dihirupi juga kini berganti menjadi lebih alami, aroma segarnya sungguh menenangkan jiwa.

Oleh: Pius Eko Purnomo Cahirati

Mahasiswa STKIP St. Paulus Ruteng

Penulis adalah Pencinta Sastra asal Lembor, Manggarai Barat.