Nasib Bangsa Ada Di Tangan Guru

Foto: Ilustrasi

Ketika Hirosima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat bulan Agustus 1945, Kaisar Hirohito bertanya kepada sejumlah jenderal, “berapa guru yang masih hidup?” Peristiwa menyebabkan derita terbesar dalam sejarah negeri mata hari terbit itu, sekaligus mengakiri kekuasaan Jepang di Asia Raya. Banyak tentara yang meninggal, banyak sarana militer yang rusak, banyak pula fasilitas penting rusak akibat bom atom tersebut.

Namun kegundahan Kaisar Hirohito justeru bukan pada habisnya amunisi, tentara, tank, maupun pesawat tempur, sang kaisar justeru mencemaskan habisnya para guru. Pendidikan dipilih sang kaisar sebagai ujung tombak perubahan Jepang dan guru menjadi aktor utama dalam transfer pengetahuan dan teknologi, sekaligus pewaris nilai-nilai sosal yang menjadi identitas bangsa.

Pandangan kaisar, mengingatkan saya pada sebuah buku karangan, Jacques Servan Schreiber berjudul, The Japan Callenge. Dalam buku tersebut ia menulis: “ketika negara adikuasa AS
berlomba membuat senjata dan membangun militernya, maka Jepang sedikitpun tidak pernah menghiraukannya. 

Sebab Jepang menyadari kejatuhannya ketika perang dunia II, disebabkan oleh superioritas militer dan dengan demikian superioritas di bidang militer dan persenjataan tak akan memberikan arti  bagi dunia dan kesejahteraan penduduknya. 

Maka negeri itupun membiarkan negara adikuasa  untuk berlomba, sementara Jepang sendiri  berusaha mengarahkan segala sumber dayanya  untuk pengembangan pendidikan, intelektual, penelitian dan kreativitas di bidang ekonomi demi kesejahteraan penduduknya”.

Dalam buku yang dikutip tadi, Jean Jacques Servan Schreiber, menulis lagi “bahwa ilmu pengetahuan akan menjadi “adikuasa”  pertama dan menjadi faktor determinan pada masa depan ketimbang militer.  Seperti halnya sekarang ini, tantangan yang paling besar yang dihadapi dunia adalah perang ekonomi, tapi pohonya tetap pada satu hal, everything depends on education”

Indonesia harus belajar banyak kepada Jepang. Tak bisa dipungkiri bahwa Jepang bangkit menjadi negara maju karena pendidikan dan peranan para guru pascakekalahan perang dunia II. Hal ini memang sudah menjadi fakta saat ini, di mana Jepang  merupakan negara yang mempunyai pendapatan perkapita tertinggi di dunia dan sekaligus menjadi negera “adikuasi” dalam bidang perekonomian, dan negara Jepang menjadi kreditor terebesar bagi negara-negara miskin dan negara berkembang termasuk Indonesia karena pendidikan pendidikanya maju.

Sebab pendidikan diyakini  memiliki peranan yang sangat strategis dan oleh karena itu negara atau penyelenggara pendidikan selalu berusaha untuk mengembangkannya, agar ia mampu memberdayakan potensi masayarakat menjadi kemampuan aktual yang dapat mendorong berkembangnya berbagai kondisi positif penting bagi kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Kondisi penting yang tercipta akibat dari baiknya sebuah sistem pendidikan itu meliputi: tingginya sumber daya manusia, tingginya produktivitas tenaga kerja, tingginya kesejahteraa social, semakin baiknya capital social, semakin baiknya tatanan kehidupan masyarakat, semakin baiknya kehidupan berdemokrasi, semakin ratanya pendapatan masyarakat.

Bagi kita Indonesia, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) harus ditempatkan pada skala prioritas dalam program pembangunannya maka secara otomatis uang akan mengalir dengan sendirinya. Oleh karena itu kita seharusnya lebih kristis dan lebih korektif  atas kebijakan negara kaya yang lebih melakukan pendekatan dollar sebagai ukuran dalam membantu negara miskin, sebab negara-negara miskin termasuk Indonesia lebih membutuhkan transfer ilmu pengetahuan dan pendidikan ketimbang dollar.

Apa yang ditulis oleh Jean Jacques Servan Schreiber di atas,  sesungguhnya mau memperlihatkan kepada kita bahwa negara-negara yang berpengaruh maupun yang sudah mapan pada semua segi kehidupannya, pengetahuan dan pendidikan tetap menjadi pilihan prioritas dalam program pembangunan. Pengetahuan dan pendidikan menjadi pilar utama dari sekian pilar lainya. 

Hal itu menjadi jelas betapa dinamika pendidikan menjadi pangkal bagi proses kemajuan suatu bangsa, kendatipun negara-negara itu sudah menjadi makmur dan maju dan jauh  meninggalkan negara-negara berkembang, baik dalam kemakmuran ekonomi maupun  penguasaan bidang-bidang strategis lainnya.

Kita di Indonesia termasuk beruntung karena kesadaran akan pentingnya pendidikan-- meski belum di dasarkan pada parameter yang sama—sudah tertata dalam masyarakat.

Meskipun demikian, sebagai bangsa kita belum pernah mengangkat pendidikan sebagai panglima pembangunan yang mampu menggerakkan potensi bangsa yang amat besar ini kearah terciptanya kondisi positif penting yang mampu memberdayakan kehidupan masyarakat secara luas.

Sebagai akibatnya pendidikan kita semakin tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga kita dalam aspek kualitasnya. Bahkan, saat ini kondisi pendidikan kita dalam keadaan yang sudah membahayakan dilihat dari tantangan global yang dihadapinya. Hal ini membawa implikasi pada rendahnya kualitas SDM. Karena rendahnya kualitas pendidikan kita, maka dapat diduga bahwa produktivitas tenaga kerja secara agregat juga sangat rendah.
Masih rendah

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) hampir sama usianya dengan republik ini. Namun organisasi guru terbesar dan tertua ini agaknya belum mampu membina para anggotanya ke posisi terhormat. Maka setiap kali kita membicarakan masalah pendidikan, guru selalu menjadi sorotan tajam. Buntutnya sering muncul tudingan, pendidikan nasional tak maju lantaran kualitas guru-guru kita masih rendah.

Rendahnya kualitas guru di negeri kita terungkap dalam Lokakarya Nasional mengenai Rencana Penyusunan Penilaian paroh-Dekade Pendidikan untuk Semua di Indonesia, yang diselenggarakan bersama sebuah lembaga di bawah UNESCO, EFA, Education for All. Dari  jumlah 2,7 juta guru di Indonesia 40 persen tidak layak mengajar. Rinciannya 43,93 persen guru SD yang tidak layak mengajar, 36 persen pada level SMP, 33 persen pada level SMA, dan 43 persen guru SMK.

Jika kekuranglayakan guru dalam mengajar sudah mencapai persentase sebesar itu, bisa dibayangkan bagaimana kondisi pendidikan di negara kita sekarang ini, dan bagaimana kualitas luaran dari setiap jenjang pendidikan kita.

Keadaan tersebut, sudah pasti belum akan membuat Indonesia beranjak dari posisi terendah dalam rangking pendidikan, baik di ASEAN, Asia, apalagi dunia. Salah satu faktor yang disoroti sebagai sebab dari kekuaranglayakan tersebut adalah jenjang pendidikan guru, bahwa menurut data yang ada jenjang S1 dan DIV baru mencapai 60 persen.

Sungguh, fakta tersebut ironis dan dilematis. Ironis, karena pada satu sisi kita melihat di negeri kita sudah terjadi pengangguran sarjana, termasuk di dalamnya banyak yang sebenarnya bisa berkualifikasi sebagai guru.

Selain itu, kualitas atau mutu workforce yang berminat menjadi guru juga terbatas. Penyebab utama keterbatasan tersebut dipicu oleh minimnya kompetensi profesi guru. Kondisi ini  menjadikan workforce yang memiliki tingkat kecerdasan yang memadai, kurang tertarik untuk menjadikan profesi guru sebagai tumpuan hidup mereka.

Selain ketidakmampuan guru itu sendiri, ketidakmampuan juga dialami oleh human recources yang memiliki kewenangan (birokrasi pendidikan, mulai dari pusat sampai daerah) dalam menerapkan kebijakan di bidang pendidikan. Artinya antara human recources tersebut belum mampu menciptakan suatu bentuk sistem pendidikan yang sesuai dengan kondisi bangsa ini. 

Sebagai contoh, Selama kita merdeka sekurang-kurangnya telah tiga kali perubahan sistem pendidikan nasional, dua belas kali perubahan kurikulum, lima kali perubahan sistem penentuan kelulusan, tapi tidak berpengaruh kepada model pembelajaran dan suasana kependidikan yang memungkinkan sekolah sebagai pusat pembudayaan pencerdasan bangsa.

Kebijakan yang selalu berubah-ubah, kebijakan lama belum tuntas, belum ada hasilnya sudah diganti dengan kebijakan baru, sehingga kebijakan hanya semacam proyek. Akhirnya semuanya mogok, tidak ada hasilnya, pada hal telah menghabiskan dana milyaran rupiah. Contoh lain, kebijakan sekolah inpres, CBSA, P4, PSPB, Ebtanas, UN,  KBK, KTSP, K13, semuanya membingungkan guru, nampak mubazir, boros, dan tidak efisien.

Kita sering latah mengatakan bahwa mutu guru kita rendah. Namun kita jarang mengetahui bahwa guru kita sedang  menghadapi masalah, entah pribadi ataupun tugas-tugas profesionalnya. Maka, bagaimanapun guru kita tidak akan dapat menjadi profesional dan efektif, kalau banyak hal melihat pada hidup dan kehidupannya baik dirinya maupun keluarganya.

Oleh karenanya para birokrat pendidikan kita harus menemukan jawaban atas permasalahan keseharian yang dihadapi guru kita. Diantaranya ialah kesehatan fisik guru, pendapatan guru tidak cukup menghidupi keluarganya, kondisi rumahnya tidak mendukung tugasnya, gaji atau honorariumnya sering terlambat (bahkan seriang dipotong oleh Dinas Pendidikan), sehingga tidak aneh banyak guru kita nyambi di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, entah sebagai tukang becak, kernek, tukang ojek, bertani, buruh bangunan, pedagang keliling, menjadi calo tanah, dan sebagainya, sehingga muncul pameo “ gubuk usang rawan utang” (guru) sebagai bentuk plesetan “gugu lan ditiru”.

Demikian pula banyak pejabat (dinas pendidikan, kepala sekolah) sering tidak bersedia mendengarkan gagasa-gagasan (usul-usul guru) dan membantu dalam menangani permasalahannya, sehingga banyak guru menjadi frustrasi karena ide-idenya, usul-usulnya, ambisinya tidak didengar. Jika demikian benarlah yang dikatakan oleh Nick Cowel dan Rey Garner, "jika sekolah dan guru-guru yang tidak bahagia dan frustrasi tidak akan dapat menjadikan sekolah itu menjadi baik".

Sebagai pihak yang bertindak sebagai transfer of knowledge dan fasilitator siswa di sekolah, guru merupakan suatu profesi yang mutlak membutuhkan persyaratan kemampuan intelegensi dan melalui suatu jenjang pendidikan tertentu. Artinya orang-orang yang  menjadi guru seyogiyanya memiliki tingkat intelegensi yang tinggi dan moralnya baik. Karena ia adalah penggugah hidup dan berkembangnya berbagai nilai-nilai keutamaan sosial kemasyarakatan pada peserta didik, Jika nilai-nilai keutamaan sosial itu diterapkan dan menunjang kehidupan sekolah, maka sistem nilai itu akan menjamin suatu sekolah dalam penyelenggaraan pendidikannya.

Guru dituntut tidak hanya memiliki kualifikasi pengajar dalam disiplin ilmu tertentu, tetapi juga kualifikasi sebagai pendidik yang sangat menguasai penerapan psikologi pendidikan sebagai seorang guru. Kualifikasi seperti itu, hanya dimiliki oleh mereka yang memang sejak awal melalui proses pendidikan keguruan.

Sayangnya, di Negara kita beberapa banyak Institut Ilmu Pendidikan dan Keguruan yang sudah berubah menjadi universitas. Sebagai akibatnya, laju pertumbuhan guru yang potensial menjadi berkurang. Sementara saat yang sama, kebutuhan guru yang demikian semakin bertambah. Kekurangan tersebut sebenarnya tidak bisa hanya dilihat pada fakta yang ada sekarang. Model rekrutmen dan adanya lembaga pendidikan tinggi yang mencetak guru seyogiyanya juga menjadi perhatian serius. Adanya lembaga pendidikan tinggi keguruan semacam IKIP masa lalu, tampaknya perlu dipikirkan kembali keberadaannya, yang memang secara khusus akan melahirkan guru-guru yang potensial berkualitas sebagai pengajar dan juga pendidik.

Dengan demikian, jika kita menginginkan bangsa kita maju, maka tidak ada cara lain, selain harus memperhatikan nasib dan mutu guru sebagai ujung tombak mutu bangsa. Jika kita letakkan  masa depan bangsa ada di tangan guru niscaya mutu pendidikan akan menjadi baik dan dampak berikutnya akan memperbaiki mutu bangsa, dan kehidupan bangsa.

Oleh: Ben Senang Galus, penulis buku dan dosen beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,111,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,146,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,539,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,62,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,200,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1032,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,6,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Nasib Bangsa Ada Di Tangan Guru
Nasib Bangsa Ada Di Tangan Guru
https://1.bp.blogspot.com/-6bIUSr4QN3w/W89i-nGn7sI/AAAAAAAADO4/F-t3dLwvXisBM28OcR0mrrtH17Kbp31AwCLcBGAs/s320/20181024_020441_0001.png
https://1.bp.blogspot.com/-6bIUSr4QN3w/W89i-nGn7sI/AAAAAAAADO4/F-t3dLwvXisBM28OcR0mrrtH17Kbp31AwCLcBGAs/s72-c/20181024_020441_0001.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/nasib-bangsa-ada-di-tangan-guru.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/nasib-bangsa-ada-di-tangan-guru.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy