Moralitas dan Wajah Buatan
Cari Berita

Moralitas dan Wajah Buatan

MARJIN NEWS
3 October 2018

Foto:Dok.Pribadi
Akan menjadi lelucon paling memalukan jika di negeri ini,  wajah seorang nenek tua penyot karena operasi plastik, tapi mau diisukan sebagai korban kejahatan. Apakah supaya dunia tahu kalau ia operasi plastik?

Celakanya lagi, si pemilik wajah itu mendapat applaus dari publik atas tindakannya di ruang privasinya. Saya kira inilah bentuk dari kelainan dimana seseorang justru bahagia menjadi korban kejahatan. Ia senang sekali mempermainkan publik karena ia sendiri menolak wajahnya sendiri.

Oh wajah, padahal kau diciptakan unik, tetapi mengapa ada manusia yang mengingkari wajahnya sendiri?

Apakah ini semacam industri diri demi dikonsumsi oleh publik? Memang Inilah salah satu bentuk kegilaan dan salah satu kengerian dari yang namanya perkembangan jaman.

Disaat perempuan dunia memperjuangkan kesetaraan jender dari dominasi industri yang mereduksi tubuh cantik perempuan sebagai komoditi, justru yang lain pandai bersandiwara atas wajahnya sendiri? Justru yang lain merekonstruksikan wajahnya demi libido publik. [Tuhan deo, kasihanilah kami]

Tidakah kau lihat, tubuh cantik dan ayu, bikini, dipapan iklan, di televisi, dimana-mana dipakai oleh industri untuk meningkatkan lebido konsumen?

Tidakkah engkau tahu bahwa dunia ini tidak adil pada kaum perempuan dalam segala lini kehidupan?  Mengapa kau bersandiwara dengan wajah tuamu oh Mama Mia?

Tidahkah kau tau, secara legal perempuan itu disisihkan dari ruang publik,  di Indonesia hanya 30% keterlibatan mereka pada ranah politik?  Padahal kontribusi dan peran kaum perempuan didunia ini tidak kalah jauh dari kaum adam?

Mestinya politik emansipatorislah yang kau perjuangkan, bukan mau sedukisme politis atas dirimu.

Oh Mama Mia RS, kalo kamu memang dipukul sampe peyok oleh pria yang jahat, saya kutuki bahwa pria yang memukulimu justru paling bencong sedunia, dan lebih baik baginya dilupakan oleh ibunya sendiri. Sayapun mengutuk keras orang jahat itu.

Tapi kalo Mama Mia RS bersandiwara, saya juga mengutuk keras akan dirimu mama mia RS.  Sebab kau mengganggu duka yang melanda negeri ini. Engkau tidak pantas disebut ibu.

Secara teori, mereka yang mengingkari dirinya sendiri mengalami kegoncangan diri, bisa dikatakan gila. Tetapi semakin publik memberi reward atau penghargaan pada kegilaannya, ia akan semakin terlepas jauh darinya. Akibatnya ada yang bunuh diri, dan operasi wajah.

Begitulah hukum di dunia maya ini. Para pemburu pujian publik, lambat laun akan kehilangan dirinya yang otentik. Ia menjadi semacam produk pujian publik. Maka kalau publik kurang empati padanya, mereka akan mencari sensasi negatif sebagai kopensasinya, buat kasus demi popularitas.

Sesungguhnya sang pemilik wajah yang merekayasa wajahnya sendirilah yang paling jahat, karena ia membenci wajahnya sendiri yang makin menua.

Operasi plastik adalah pengingkaran akan realitas diri yang berada dalam horison waktu. Ia melupakan sejarah hidupnya,  melupakan asal usulnya, melupakan dirinya sendiri. Padahal kulit yang keriput, wajahnya yang makin kusam dan tua adalah tanda asli sejarah dan pergumulam hidup seseorang. Jika kulit masih mulus,  itu tandanya hidupnya belum kaya, sejarah hidupnya dalam deret waktu belum mumpuni.

Tetapi bagi mereka yang operasi plastik mereka sama saja menggantikan kemasan secara instan agar dirinya laku terjual di ranah publik. Mereka ini tidak memiliki hidupnya sendiri, tapi hidup mereka dikendalikan oleh orang lain atau publik.

Jika tidak terbukti nenek RS dihajar oleh oknum anonim maka,  hukumlah si pemilik wajah yang jahat itu, sebab ia sendiri sudah tidak lagi mencintai wajahnya. Ia malah cuci tangan atas kejahatannya sendiri dan memasukan wajah anonim pada lumur darah kejahatannya sendiri.

Buruk rupa cermin dibelah
Marilah menerima diri.
Biarlah orang muda belajar kebijaksanaan pada yang tua.

Oleh: Tarsy Asmat 
Calon Imam Misionaris MSF, sekarang tinggal di Banjarmasin Kalimantan Selatan.