Menuju PMKRI Maumere Satu
Cari Berita

Menuju PMKRI Maumere Satu

MARJIN NEWS
8 October 2018

Foto: Dok.Pribadi
​“Pemimpin ialah pilihan yang amanah, bukan yang serakah. Kendali emosi selalu diasah dan tidak gemar berkeluh kesah. Pemimpin, bukan pula memikul ambisi yang hobi sikut sana – sini. Ia memiliki nurani dan mulia budi pekerti. Keadilan selalu dikedepankan. Pemikiran kritis dan ketajaman analisis terus mengandangi kepalanya, namun bukan hanya jago teori belaka, tapi pandai beraksi. Pemipin, piawai mencari solusi, bukan sibuk mencaci maki. Kompas nurani andalannya, mengambil keputusan dengan pertimbangkan secara holistik”

Adigium di atas serentak menggoyangkan kenyamanan para leader (calon) yang akan bertarung merebut kursi nomor satu. Mustahil apabila ada figure yang memiliki jiwa dan karakter sebagaimana terdeskripsi pada adigium di atas, tapi dalam perburuan menemukan figure demikian, penulis optimis.

Sosok inspiratif seorang pemimpin boleh jadi lahir dari sebuah wadah yang kecil tapi banyak dililiti persoalan yang kompleks. Barangkali ia ada di antara segelintir orang yang sedang belajar memainkan dinamika politik dalam sebuah organisasi perjuangan dan pembinaan.

Yahh, kami (segenap anggota) menyebutnya Rumah pendidikan dan “mereka” ketahui itu PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) Cabang Maumere St. Thomas Morus.

Kehangatan Politik PMKRI Maumere
​RUAC (Rapat Umum Anggota Cabang) adalah moment besar bagi setiap cabang PMKRI se-Indonesia, termkasud Cabang Maumere.

Bagaimana tidak? Pergantian pemimpin yang dipilih secara demokrasi ialah proses memaksakan segenap anggota menanamkan gaya politik praktis dalam dirinya. Boleh jadi, dinamika yang terjadi (dari beberapa periode silam) dalam moment RUAC PMKRI Maumere nampak seimbang dengan moment Pilkada. Indikator kedinamisan yang melukis moment tersebut ada di dalam bingkai “permainan” isu dua bulan menjelang agenda pemilihan Ketua Presidium (Pemimpin PMKRI) periode berikut.

​Perkelahian isu yang ditanam, menui penyakit amnesia terhadap arti “pemimpin” secara substansial. Bukan soal berapa jumlah atau besaran lingkup kekuasaan yang ia pegang, tapi ini tentang proses membentuk dan menumbuhkan jiwa leadership. Hanya terkadang itu tidak sesuai, jika virus oportunis masih leluasa terhirup. Penghindaran terhadap perihal demikian (Virus Oportunis) yang kian hari kian memupuk pertarungan antara kubu pemenangan.

Analisis secara individu maupun kelompok menghasilkan kesimpulan yang berbeda terhadap figure yang bertarung. Namun, ada pula yang mendukung bahkan memilih berdasarkan kedekatan emosional. Kedua poin di atas adalah pemicu naiknya kepekaan politik setiap anggota. Tentunya setiap organisasi apapun jika berkenan berkembang membutuhkan seorang pemimpin yang tidak sekedar memiliki “massa” berdasarkan simpati kedekatan emosional, namun simpati pada kualitas pribadinya.

Kandidat Kuat PMKRI Maumere satu
​Ryo Fernandes, adalah salah satu petarung yang akan merebut kursi nomor satu PMKRI Maumere. Prestasi kerjanya terukir tidak hanya dalam organisasi secara internal, melainkan juga pribadinya di luar organisasi. Ia pernah menduduki jabatan sebagai wakil Sekjen PMKRI Maumere Periode 2014/2015 dan Sekertaris Jendral (Sekjen) Periode 2016/2017. Idenya terus bergulir demi menjaga eksistensi organisasi.

Karyanya terus mengalir di dalam dan di luar organisasi. Segala pembicaraan maupun tindakannya, selalu berdasar dan dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah serta berbasiskan data riil bukan khayalan.

​Ryo, (Sapaan kesayangan) dengan berbekal visi dan misi yang terfokus pada “pembenahan internal” kuatkan tekad untuk maju. Ia rela meninggalkan semuanya, orangtua, sahabat, kekasih, dan apapun kesenangan dunia luar demi meneruskan pengabdian leluhur dan menjaga eksistensi perhimpunan.

Sebagai orang yang pernah menduduki kursi jabatan penting yakni Presidium Pendidikan Kaderisasi (PPK) yang tupoxi kerja lebih pada internal organisasi, saya mendukung penuh tekad beliau bukan atas dasar kedekatan emosioanal, melainkan atas berbagai pertimbangan matang.

Salah satu senior yang selama 4 tahun tidak pake jeda mengabdi di PMKRI Maumere ini, dari sisi ukuran intelektual maupun emosional tentu telah mencapai puncak matang, sehingga sangat layak menduduki kursi pimpinan di PMKRI Maumere.
​Memilih Pemimpin bukan cumin soal siapa yang dipilih, dan sekali – kali bukan tentang berapa jumlah paslona.

Memilih pemimpin adalah mencipta sejarah. Sejarah ialah tentang mengapa dan untuk apa. Karena sejatinya, setiap pemilih bukan sekedar memilih pemimpin lewat bilik suara, tetapi menciptakan masa depannya sendiri lewat bilik renungan diri. Lagipula, jika terpaksa dikonversi ke dalam angka, suara setiap 1 pemilih sangatlah mahal, apalgai satu kelompok.

Mahal bukan untuk ditransaksikan dengan uang, juga bukan dengan janji jabatan. Pemilih bukan sembelihan, ia komuniatas bukan komoditas. Namun, untuk dimaknai sesuai harganya dan dihargai sesuai maknanya.

​Itu ikhtiar penting memuliakan pemilih dalam memilih pemimpin. Oleh karennya, saya mengajak kita sekalian, teristimewa rekan – rekan anggota PMKRI Maumere untuk memilih pemimpin yang berintegritas. Pemimpin yang mampu membangun. Memilih berdasarkan banyak pertimbangan. Saya memilih Ryo Fernandes. Ingat, Ryo Fernandes.

Oleh: Rendy Stevano
Kader PMKRI Cabang Maumere