Menghukum Kebohongan Aktor Publik
Cari Berita

Menghukum Kebohongan Aktor Publik

MARJIN NEWS
4 October 2018

Foto: Dok Pribadi




Seharusnya kalo publik dibohong, maka publik sendirilah yang menghukumi penyebar kebohongan itu.

Kebohongan yang dilakukan nenek Ratna Serumpeat perlu menjadi permenungan untuk publik. Tentu saja kesalahan manusiawi dimaafkan, karena manusia mahluk yang cendrung melakukan kesalahan.  Tetapi kesalahan terhadap publik,  tidak berhenti pada permintaan maaf, ada konsekuensi moral dan hukumnya.

Hukum mengatur tatanan publik dan menjaga publik tetap menjadi area yang jernih. Karena itu selain Bu Ratna diberi delik hukum, ia juga dihukum oleh publik itu sendiri.

Ruang publik oleh Habermas dan Hanah Arent adalah wacana konstruktif dan demokratis. Publik menuntut tindakan rasional. Bukan publik lagi namanya jika tidak mengutamakan tindakan rasional. Maka dari itu lawan publik adalah kebohongan dan yang tidak mengedepankan rasional. Bahkan dari argumentasi ini, agama tidak termasuk wacana publik tapi dimasukan ke ruang privat.

Karena itu, cara terbaik publik menjaga dirinya dari hoax ialah memberikan hukum moral dan hukum positif pada pelaku dan penyebar kebohongan.

Mengapa sangsi moral?  Publik bukanlah ruang yang ngawur, semua orang seenak moncongnya berbicara. Publik itu menuntut tindakan rasional setiap orang. Setiap orang diruang publik harus bertindak rasional.

Mengapa begitu?  Rasionalitaslah yang memastikan kepublikan itu sendiri. Dengan rasionalitas publik berjalan secara otomatis dan semua orang bertindak dengan sadar terhadap satu sama lainnya serta tindaknnya terukur. Rasionalitas publik menjadi pembatas dari setiap kebebasan. Maka seorang bertindak rasional jika ia mempertimbangkan kebebasan dan rasionalitas orang lain juga.

Terhadap kebongan publik oleh aktor publik,  tindakan rasional publik mestinya ialah menarik dukungan kepada tokoh-tokoh publik yang melawan publik itu sendiri dengan kebohongan.

Ini adalah tanggungjawab moral publik itu sendiri. Apakah publik menyadari ini selama ini?

Siapapun yang dilabel tokoh publik,  masyarakat perlu mengetengahkan rasionalitas publiknya untuk membersihkan hoax dari ruang publik. Bukan membela atas dasar afektif dan afiliasi dan fans semu.  Justru membela lawan publik berarti pemaksaan kehendak, kebodohan dan sebagainya kepada publik.

Ibarat jangan membuang sampah di sembarang tempat, demikian juga publik bukanlah tempat pembungan sampah para tokoh publik. Namun sayangnya,  ini yang sering terjadi selama ini. Publik kita menjadi TPA dari tokoh-tokoh yang diberi label tokoh publik.

Justru publik berdosa jika tidak memberikan sangsi kepada kebohongan yang nyata ini. Terlebih lagi tekanan moral ini perlu mengingat bangsa kita sedang didera bencana dan ribuan orang meninggal.

Jika masing-masing individu menegakan tanggungjawab rasionalnya pada ruang publik agar wilayah publik ini sehat dari pencemaran seperti hoax, opini tanpa fakta, maka yang namanya hoax dan korupsi akan pelan-pelan tersingkirkan.

Tetapi jika publik membiarkan pembodohan ini terus berlanjut maka justru mutu publiksitas itu terdegradasi. Mutu publik menunjukan tingkat mutu peradaban sebuah bangsa. Dengan demikian mutu politik, mutu wacana, dan mutu demokrasi kita pun jauh dari kualitas super.

Kita lihat, tokoh publik kita begitu mudah, tanpa malu, merasionalisasikan kesalahan mereka di ruang publik. Mereka mengeksploitasikan ruang publik ini terus menerus karena mereka tahu publik kita lebih mengedepankan emosi, sentimen daripada rasionalitasnya.

Kasian sekali, bukan? Apalagi para aktor publik ini yang kita tahu semestinya harus rasional tetapi malah mencerai publik dengan argumentasi dangkal dan percaya pada kebohongan yang direkayasa.

Kalau kelas yang diberi label intelektual dan perwakilan rakyat saja termakan kebohongan, maka kita pasti tahu seperti apa mutu publik kita di negeri ini.

Ingat! Membangun logika untuk menguburkan kesalahan di ruang publik adalah tindakan yang mencedrai publik itu sendiri. Sayangnya ruang publik kita masih nyaman untuk kelompok filsuf hoax dan rasionalisasi kesalahan ini.

Publik harus bangkit dan membela domainnya untuk jernih dari hoax, yaitu misalnya mencabut dukungan dan tidak memilih tokoh publik yang berkonspirasi menyebar hoax.

Hukuman publik ini akan menyadarkan politisi dan tokoh publik lainnya agar mereka berhati-hati serta penuh tanggungjawab menyampaikan sesuatu ke ruang publik.

Para aktor publik yang sehat harusnya mempunyai tanggungjawab untuk memberi gisi pada ruang publik. Sebab publiklah yang menghidupinya dan membesarkan namanya.

Oleh karena itu,  saya kira tindakan rasionalitas publik harus berjalan dan perlu ditingkatkan di negeri ini. Publik harus mencabut dukungan pada seseorang yang dilabel tokoh publik dengan cara tidak mendukung,  unfolowing, atau tidal mencoblos mereka.

Ayo mari kita beri hukuman moral kepada mereka dengan memakai tanggungjawab rasional kita di ruang publik.Semoga!

Oleh Tarsy Asmat MSF
Calon Imam SMF, Sekarang Tinggal di Banjarmasin