Menafsir Rindu, Cerpen Karya Eko Cahirati

Foto Ilustrasi. Heldiana Sepoi berhembus angin malam, menghantar setiap pesan kerinduan yang dititipkan budak kenangan kepada sang pujaa...

Foto Ilustrasi. Heldiana
Sepoi berhembus angin malam, menghantar setiap pesan kerinduan yang dititipkan budak kenangan kepada sang pujaan. Setiap tiupan, pasti kubaca dan kumaknai isi tiap kerinduan. Seperti kerinduan Tuhan yang memintaku agar aku sesekali kembali berkomunikasi dengan-Nya lewat do’a. Juga, pesan Mama yang mengharapkan anaknya agar segera menyelesaikan kuliah ataupun tentang pesan Ayah yang meninginkan agar anaknya selalu bahagia.

Ada yang lain dari malam sebelumnya. Kali ini ada satu pesan tanpa nama dan alamat pengirim. Pesan buta itu menjadi tamparan yang paling lembut diantara tiga pesan sebelumnya. Meski lembut, ia mampu meluluh-lantahkan sekujur tubuh.

Jemariku yang tadinya asik menari dan menuntun pena untuk menulis syair burung gereja, seketika berhenti. Tak berdaya aku merangkainya lagi. Di pesan yang bertuliskan ‘’Eko, Aku Rindu,’’ sama sekali aku tidak menemukan sebuah tanda baca yang mengakhiri kalimat. Inilah alasan kenapa rasa penasaranku besar.

Mencari tanda baca diakhir kalimat sederhana semakin menggelapkan malam yang pekat.
Sekuat tenaga, pikranku berontak. Melawan agar tak mudah terperangkap. Berusaha mencari cela  agar mentari sesekali menerobos untuk bisa mengunjungi malam. Aku menyelam bersama sepi, menggali kenangan. Bersama sepi, kami melayang terbang menghampiri masa depan.

Menuruni lembah kekalahan dan juga menjelajahi puncak kebahagiaan, aku dan sepi berjuang. Sampai akhirnya aku menemukan kemungkinan, bukan kepastian.

Kemungkinan itu terletak pada Gadis kecil yang kutinggalkan dengan bekal harapan yang kuhadiahkan bahwa hari tua, ia akan menemaniku menghibur cucu-cucu kami. Ukirku bersamanya adalah menciptakan dua kesuksesan dari kekuatan dua insan yang bersatu dalam kekuatan cinta.

’’Jika ada yang menantikanmu selain ibumu, itulah aku,’’ katanya memberikan ku satu-satunya harapan sebagai bekal kumelangkah. Singkatnya, bekal yang kubawa adalah harapannya. Begitu juga kembalinya aku, adalah harapan untuk dia.

Melukiskan bersama tiap kenangan adalah hal yang mustahil untuk dilupakan. Aku ingat saat segerombolan anak Sekami berziarah ke Gua Maria di pinggiran Desa. Saat itu, Aku dan gadis kecil itu termasuk dalam segerombolan itu. Takkala berpulangnya senja keperaduan, para peziarahpun turut pulang setelah seharian bercumbu dalam do’a.

Sedikit lagi pekat akan menyelimuti bumi dan waktunya remang-remang senja menghiasi perjalanan itu. Ku mulai cemas, senyum manis gadis kecil berkulit albino tidak tampak di antara keramaian segerombolan anak Sekami. Aku sadar, gadis itu telah kami tinggalkan di kamar mandi dekat Gua Maria. Aku baru sadar bahwa tadinya dia memintaku untuk menunggunya karena kebelet buang air kecil. Astaga,Aku Lupa!

Dengan sigap, aku keluar dari rombongan dan kembali kearah Gua Maria yang jauhnya kurang lebih dua kilometrer dari tempat saat ini kami berada.

Aku mengakui kalau saat itu mengaguminya dan aku sangat menyukai dia, tapi bukan itu alasan aku kembali. Semata alasanku adalah aku ingin menjaganya agar kecemasaaanya hilang karena telah ditinggalkan teman seperjalanan.

Aku ingat gadis itu. Memoriku saat ini hanya berisi kenangan tentang dia. Gadis itulah yang selalu memberiku jerigen air berukuran tiga liter sementara siswa lain harus menimba air di Mata Air menggunakan jerigen berukuran lima liter.

Alasan dari mulutnya satu yakni aku anak baru yang belum biasa menimba air di rumah guru saat istirahat sekolah. Namun, saat aku mencoba melihat dari sudut pandang berbeda bukan itu alasan sesungguhnya.

Lebih tepatnya, agar aku sadar bahwa aku orang spesial baginya. Teman-temannya mendukung tesisku lewat cerita tentang dia yang mengagumiku.

Saat itu, kita masih SD. Saya belum paham apa arti Rasa Cinta. Yang aku rasakan saat itu adalah kagum dan aku menyukai kamu. Rasa suka itu hadir ditiap mimpi dan pastinya esok pagi saat terbangun dari mimpi, aku merasa celanaku basah seperti telah disiram air.

Aku tahu bawa kamu adalah orang pertama dan satu-satunya orang yang menanyakan kabarku tiap bulannya di Ayahku. Tentang kamu juga, yang meminta aku agar kita bisa kembali merasakan kebersamaan di sekolah yang sama, dan tentang kamu yang mengirimkan surat putus tanpa alasan, sementara kita berdua belum pernah menjalin hubungan bertemakan pacaran.

Untuk diketahui saja bahwa kejadian terakhir membuatku kecewa dan saat itu aku berjanji untuk tidak pernah merindumu lagi.
Aku mencoba rutinitas baru. Menghilangkan jadwal rindu dari roster harian.

Aku mencobanya dan kuakui bahwa mencintaimu tidak seumpama keberadaan garam. Itu bukanlah rasa asin pada sayur yang mudah ditawarkan hanya dengan menambahkan lebih banyak air.

Aku berusaha, tapi gagal. Kejadian paling tragis adalah ketika aku kembali jatuh cinta saat aku dipertemukan dengan foto gadis itu di beranda facebook temanku. Semakin dayaku besar untuk melupakannya, semakin rasa itu membelenggu. Apalagi gadis yang kutemui dalam foto sudah berubah.

Tampak anggun menduduki tangga gedung sekolah dan yang pasti senyuman dengan gaya topang dagu membuat surga itu telah dipindahkan di warnet tempatku mengakses internet. Ingin sekali saat itu aku ingin membuktikan ke dunia bahwa dia anak pungut dari ayah dan ibunya.

Aku yakin dialah anak yang ditemukan dalam buah timun raksasa di kebun mereka. Atau mungkin dia anak ratu bidadari yang dititipkan ke dunia agar tak dibunuh oleh penjajah di kayangan.

Keinginan besar satu-satunya saat itu adalah agar suaranya bisa kembali berbisik ditelingaku, dan keinginan itulah yang membuatku mampu mendapat nomor Hp hanya dalam waktu lima menit. Dengan berbagai media dan beberapa trik berujung modus, kulancarkan.

Puji Tuhan, dimalam yang sama kita bisa bercanda tawa, kembali bernostalgia selama semalaman dan tepat di akhir malam kunyatakan perasaan tentang nyamannya aku ketika aku mengenali kamu.

Aku ingat kata-kataku, Ijinkan aku berpacaran denganmu walau durasinya hanya sedetik. Sebagai sahabat yang tidak menginginkan kekecewaan pada pertemuan pertama, kamu mengabulkan bukan hanya sedetik saja, melainkan selama 3.456.000 detik dan selama itu pula aku bisa memanggilmu ‘’Nai’’.

Bagimu hari-hari itu adalah hari terberat karena harus selalu menjawab telpon dariku, membalas sms dariku, dan pastinya menyesal karena demi menghargai perasaan pemuja yang notabene sahabatmu sendiri, pastinya kamu harus melunturkan diri dengan harus memacari pemula dalam dunia asmara. Pemula yang tahunya gombal melulu dan bertingkah lebay. Pemuda yang gagap berkata-kata via telepon sementara kalau lomba pidato selalu juara di sekolah.

Dan semua tentang aku, bagimu pastinya memberatkan. Sekarang bagiku, saat aku mengisi waktu bersamamu. Tahukah kamu, aku melawan bahaya saat itu.

Aturan asrama melarang penghuninya untuk memegang HP dan jika kedapatan, pengguna HP itu akan dikeluarkan. Yang kedua, untuk memperoleh detik terindah mendengar suaramu, saya harus pandai mencuri waktu dan juga mencari tempat yang aman seperti Kamar Mandi. Yang ketiga, semua buku berutliskan namamu.

Dalam setiap ceritaku bersama teman-teman, aku banggakan namamu supaya kamu dikenali. Bahagiaku saat itu bukan karena hatiku bersyukur, tapi lebih karena aku memiliki bayanganmu. Kalau bayanganmu saja membahagiakan, apalagi jika jiwa dan ragamu menjadi separuhnya adalah aku.
3.456.000 Waku yang lama.

Kejenuhanmu menghadapi nafsuku asmaraku terwujud dalam pesan singkat pada Minggu, 19 Oktober 2013 Pukul 10:10.

‘’Sejauh manapun aku dan kamu membina hubungan, pasti# kita akan berpisah karena cinta yang terlarang. Sebelum jauh aku menggali fondasi, aku mau kita putus.’’ Begitu katamu.

Sementara tiga pesan dari kamu berlanjut dan membuntuti satu pesan yang telah terbaca. Isinya pasti permohonan maaf, kita putus, dan harapan agar bisa temukan yang lebih baik. Aku tahu itu dan tanpa membuka pesan-pesan tersebut, aku menghapus keempatnya.

Sekatapun aku tak membalas, semuanya terangkum di air mata yang aku teteskan. Satu yang aku kecewakan adalah kamu tidak pernah percaya bahwa keikhlasanku terbesar adalah menutup mata demi totalnya jiwa ragaku untuk menjaga dan membahagiakan kamu.

***
Ayam berkokok, pagi menyapa. Tak terasa sudah semalaman aku tak tidur. Kuusapkan mata dan terasa sekali pipiku basah. Sejak kapan aku menangis?, Gumamku heran. Sejak kepergiannya, kah? Tanyaku lagi.

Ah, aku salah menafsirkan rindu. Kepergiannya saat itu memang karena aku tak berarti baginya. Kepasifannya dalam berjuang demi janji kami lebih menunjukan arti bahwa egoku selalu memaksanya umtuk mencintaiku.

Aku sekarang paham bahwa pesan rindu yang dibawa angin malam, bukanlah darinya. Seandainya pesan itu darinya dan bukan pesan yang salah kirim, pesan itu pasti dibubuhi tanda Tanya.

‘’Eko, aku rindu?’' Katamu.

*Terperangkap dalam dinginnya kota


Oleh: Pius Eko Purnomo Cahirati.
Penulis adalah Mahasiswa STKIP St. Paulus Ruteng

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,231,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,2,Berita,9,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,46,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,157,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,2,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,259,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,6,Kepemudaan,151,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,59,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,7,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,88,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,355,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,22,Pariwisata,25,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,PenaBiru,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,67,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,26,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,7,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Menafsir Rindu, Cerpen Karya Eko Cahirati
Menafsir Rindu, Cerpen Karya Eko Cahirati
https://2.bp.blogspot.com/-gF3QhtfJ9H4/W8JVJfjzJWI/AAAAAAAADEA/xCdXIFkvi5QNI-sRexcQ90OGJMxXEfJagCLcBGAs/s320/20181014_042617_0001.png
https://2.bp.blogspot.com/-gF3QhtfJ9H4/W8JVJfjzJWI/AAAAAAAADEA/xCdXIFkvi5QNI-sRexcQ90OGJMxXEfJagCLcBGAs/s72-c/20181014_042617_0001.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/menafsir-rindu-cerpen-karya-eko-cahirati.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/menafsir-rindu-cerpen-karya-eko-cahirati.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close