Masalah Bangsa
Cari Berita

Masalah Bangsa

MARJIN NEWS
1 October 2018

Foto: Dok.Pribadi
Akhir-akhir ini muncul beberapa permasalahan bangsa yang kian pelik dan membingungkan, mulai dari isu agama, isu ideologi, isu ekonomi dan lain sebagainya. Semua masalah tersebut bukan berarti harus kita pilah dan pilih mana soal yang serius dan mana yang tidak serius, semuanya adalah serius dan semua adalah penting tentunya.

Akan tetapi kenapa menjadi pelik, rancu, tak kunjung mereda dan justru semakin menjadi-jadi, inilah yang menjadi soal. Jangan-jangan bukan pada sulitnya masalah dan peliknya masalah, akan tetapi adalah bagaimana cara suatu masalah-masalah tersebut disampaikan kepada khalayak luas, pada khalayak umum dan awam.

Jangankan begitu, pada kalangan terdidik saja, akhir ini telah menjadi bias sebagai suatu kelompok yang seharusnya mempunyai citra nalar terpelajar. Lihatlah dengan munculnya idiem-idiem sarkas yang sekarang memperkaya tata bahasa dunia bullying anak bangsa, tidak terasa bahwa kita telah menjadi uswah dari anak turun kita sendiri. Kata-kata tersebut tentu tidak terbentuk dan dicipta oleh anak-anak kecil, justru dibentuk oleh kelompok dewasa dan terdidik. Kata-kata seperti #cebongers #si_kampret, #si_dungu, #tempurung, #idiot dan lain sebagainya. Kesemuanya itu adalah contoh yang sangat baik sekali sebagai bentuk pelanggengan dunia bullying di Indonesia, lalu apa gunanya dengungan semangat pendidikan karakter selama ini, tentu sangat percuma dan menghambur-hamburkan anggaran negara.

Itulah suatu contoh logika kecil masalah di Indonesia, masalah yang sebenarnya dibentuk atau dibuat oleh si dewasa, si pandai dan terdidik, lalu diselesaikan dengan mengutuk dan menyalahkan si kanak-kanak, rakyat biasa dan si bodoh yang tidak tau apa-apa.

Apalagi lebih-lebih saat ini adalah waktu menjelang benturan antar kekuatan dalam kontestasi pemilu legislatif dan eksekutif kedepan. Semua narasi visi misi akan menjadi ilusi layaknya mantra-mantra saja, jika tata cara kedua belah pihak dalam menyampaikan dan menyuarakan maksud baiknya tersebut, dengan cara saling membakar emosi antar komponen bangsa sendiri, logika emsional yang nir-rasional hanya akan menghantarkan pada kutukan perang saudara.

 Oleh: Milada Romadhoni Ahmad, S.Sos.