Loyalitas dalam Organisasi Belajar

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Loyalitas dalam Organisasi Belajar

31 October 2018


OPINI, marjinnews.com - Loyalitas sangat mahal dalam organisasi. Tidak sedikit orang atau pemimpin organisasi yang menyibukkan diri membuat program, tetapi tidak bisa mengeksekusi lantaran tidak memiliki sumber daya yang mumpuni. Pemimpin yang kehilangan loyalitas akan mengalami  kesulitan dalam mencapai tujuan organisasinya.

Loyalitas dalam organisasi mahasiswa
Manusia punya banyak tipe, punya banyak keinginan dan harapan. Hal pertama yang perlu dimiliki seorang pemimpin ialah memahami harapan pengikutnya. Ada banyak faktor yang membuat orang loyal di antaranya uang, nama, jabatan, eksistensi diri, dan nilai. Hal ini harus dipahami oleh pemimpin dalam tingkatan apa pun.

Baca Juga: Kartu Kuning dalam Tirani

Sebagai wadah belajar, organisasi mahasiswa tidak lepas dari masalah loyalitas ini. Hanya saja loyalitas dalam wadah belajar tidak di upah dengan gaji. Upahnya ialah potensi diri anggota yang berkembang dan bertumbuh. Namun tidak sedikit pengurus dalam organisasi kemahasiswaan yang menuntut loyalitas tapi tidak mampu mengambangkan iklim pembelajaran yang menarik.

Organisasi terjebak pada persoalan administrasi prosedural yang jika diteliti tidak memiliki substansi yang jelas. Akibatnya meskipun ada orang-orang yang loyal mereka tidak bisa didorong untuk melakukan banyak hal karena kapasitas mereka sangat terbatas.

Baca Juga: Iman dan Seorang Gila

Tidak semua orang loyal. Pemimpin sering terjebak untuk menggerakkan semua orang, padahal tidak semua orang punya loyalitas. Jika energi kepemimpinan difokuskan pada kelompok yang enggan berpartisipasi maka pemimpin bisa kehilangan peluang untuk mengembangkan potensi orang-orang yang loyal.

Kenali Tipe Pengganggu
Bersikap kritis adalah hal yang sangat penting dalam berorganisasi. Namun terkadang orang tidak bisa membedakan antara bersikap kritis dan memberi kritik. Orang yang hanya bisa mengkritik biasanya memiliki ego yang besar, bisa melihat kelemahan orang lain dan cenderung menyalahkan. Tipe seperti ini bisa melemahkan semangat kerja tim dalam organisasi.

Baca Juga: Demokrasi Berkoperasi

Sementara bersikap kritis ialah orang yang mengerti kelemahan pemimpin dan organisasi dan berusaha memberi sport atau dukungan yang ia yakin bisa memperbaiki keadaan. Orang yang bersikap kritis punya kemampuan untuk memahami orang lain, dan memilih cara yang efektif untuk melakukan perubahan tanpa memberi komentar yang sifatnya menyerang orang atau personal.

Negosiasi Loyalitas
Loyalitas merupakan hasil interaksi antara nilai, semangat kepemimpinan, dan karakter anggota. Pada dasarnya orang akan memilih pilihan terbaik untuk dirinya sendiri. Pertanyaan mendasarnya ialah bisakah pemimpin mewadahi pilihan-pilihan itu tanpa mengorbankan nilai?

Karena loyalitas terbentuk dari intensitas interaksi maka yang perlu untuk dimiliki seorang pemimpin ialah karakter dan kemampuannya dalam berkomunikasi. Saya secara sederhana akan mengatakan bahwa karakter  ialah “pesona”. Sukarno punya keberanian, mampu menangkap harapan rakyat dan menggunakan harapan itu untuk menggerakkan semangat kemerdekaan.

Baca Juga: PRAJURIT

Jenderal Sudirman seorang pemberani mampu mengobarkan semangat perlawanan bahkan dalam keadaan sakit. Semua itu adalah pesona bagi orang lain.

Hal lain yang dimiliki pemimpin ialah skill atau kemampuan, ada pemimpin yang ketika berbicara orang merasa bosan dan malah menjauh itu berarti ia tidak sanggup menangkap harapan orang dan menyelaraskan bahasa yang ia gunakan dengan situasi. Maka yang perlu dilakukan ialah melihat situasinya lawan bicara.

Perlu dipahami dalam organisasi belajar pemimpin hanya berfungsi sebagai katalisator nilai organisasi dengan visi atau motivasi pribadi anggota. Pemimpin tidak menunggu kesadaran anggota untuk bergerak, namun berusaha untuk menegosiasikan kesadaran melalui teladan dan komunikasi yang efektif. Semoga bermanfaat..

Oleh: Stenly Jemparut