Kewajiban Berbusana Daerah, Ketika di Bali Sudah Mulai, Di Manggarai Kapan?
Cari Berita

Kewajiban Berbusana Daerah, Ketika di Bali Sudah Mulai, Di Manggarai Kapan?

MARJIN NEWS
19 October 2018

Foto: Dok.Pribadi

Marjinnews.com -- Ada pemandangan berbeda terlihat hari ini, Kamis (18/10).

Tidak seperti biasanya jika hendak ke kampus, para enu-enu (sebutan cewek dalam Bahasa Manggarai) terlihat anggun dan cantik. Mereka, yang sebelumnya hanya mengenakan busana bebas seadanya, kini berubah penampilan. Para enu-enu ini kompak mengenakan songket Manggarai.

Mereka "Deng Songke". Begitulah sebutannya untuk kaum wanita ketika mengenakan songket Manggarai ini.

Dalam bahasa daerah setempat disebut "towe songke". Dalam versi Cibal (salah satu Kecamatan di Manggarai) disebut "Nae" atau dalam versi lain penyebutannya bisa "Lipa".

Mereka ini adalah para mahasiswi yang sedang mengenyam pendidikan di pulau Dewata, Bali. Mereka berasal dari Manggarai, sebuah daerah yang terletak di Flores Barat. Daerah yang oleh penghuninya disebut Nuca Lale atau tanah Congka Sae.

Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung, begitulah kira-kira pribahasanya. Sebab, belum lama ini sang pemangku jabatan orang nomor satu di Bali baru saja mengeluarkan kebijakan berbusana adat setiap hari Kamis tak terkecuali bagi para peserta didik dalam hal ini para mahasiswa.

Instruksi Gubernur Nomor 2231 tahun 2018 yang isinya mengenai panduan teknis pelaksanaan hari penggunaan busana adat Bali.

Instruksi itu turun sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 tahun 2018 tentang hari penggunaan busana adat Bali secara serentak di seluruh Bali.

Dalam instruksi itu terdapat lima poin penekanan diantaranya:

1. Busana adat Bali digunakan setiap Hari Kamis, Hari Purnama, Hari Tilem, Hari jadi Provinsi Bali dan hari jadi kabupaten/kota.

2. Etika pengguna busana adat Bali sesuai dengan nilai kesopanan, kesantunan, kepatutan, dan kepantasan yang berlaku di masyarakat.

3. Busana adat Bali digunakan oleh pegawai di lingkungan lembaga pemerintahan, pendidik, tenaga pendidik, peserta didik, dan pegawai lembaga swasta.

4. Penggunaan busana adat Bali dikecualikan bagi pegawai lembaga pemerintahan, lembaga swasta dan lembaga profesional, yang oleh karena tugasnya mengharuskan untuk menggunakan seragam khusus tertentu atau karena alasan keagamaan.

5. Bagi masyarakat Nusantara lainnya yang tinggal di wilayah Provinsi Bali dapat menggunakan budana adat Bali atau busana adat daerah masing-masing.

Bak gayung disambut, ketika ditanya, tanggapan terkait dengan kebijakan mengenakan busana adat ini, para Enu-Enu ini seakan kompak menjawab bangga.

Tidak ada ucapan lain yang dilontarkan dari para gadis manis asal Manggarai ini selain dilukiskan oleh satu kata itu yaitu bangga. Sebuah kata yang memiliki makna ganda. Bangga dengan dirinya sendiri sudah pasti. Namun lebih penting lagi bangga akan khasanah budaya yang dimiliki oleh tempat kelahirannya Manggarai.

Nofa, salah satu mahasiswi IKIP PGRI Bali asal Manggarai yang ikut mengenakan kain songke ini mengatakan demikian.

"Kami merasa bangga. Bisa melestarikan adat dan budaya Manggarai walaupun berada di tanah orang," ungkap Mahasiswi Fakultas Bahasa dan Seni IKIP PGRI Bali.

Hal senada juga dikatakan rekannya, bernama Ella. Mahasiswi Prodi Bahasa Indonesia dan Daerah ini juga mengaku bangga ketika mengenakan Songke Manggarai ke kampus.

"Senang kaka. Pokoknya senang sekali. Dan bangga ketika memakai songke ini," tutur Ella.

Kembali ke judul tulisan saya diatas Kewajiban Berbusana Daerah, Ketika di Bali Sudah Mulai, Di Manggarai Kapan?

Sebagai putra daerah Manggarai. Tentu jika di Manggarai diterapkan hal serupa seperti yang dilakukan oleh pemerintah Bali pasti akan memiliki dampak positif yang luar biasa.

Dalam pikiran penulis, dampak-dampak itu antara lain; melestrikan adat budaya kepada generasi muda dan mengangkat perekonomian pengerajin tenun.

Dua hal inilah yang akan terjadi jika saja kebijakan itu terjadi.

Sekali lagi, dalam tulisan ringan ini saya ingin menegaskan, "kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi". Tabe.

Penulis: Remigius Nahal