Keperjakaan Bukan Hadiah Untuk Pacar, Cerpen Karya Eman Jabur

Foto: Ilustrasi

Dalam dingin yang hampir membeku bersama kepenatan yang terus bertumpuk. Aku memandangi sebuah foto yang terpajang di meja kerjaku. Ada gelembung-gelembung kecemasan yang beterbangan. Gelembung-gelembung itu semakin banyak ketika aku mulai menyelami ramalan yang aku buat sendiri. Ya, menciptakan ilusi sendiri memang kadang-kadang menghanyutkan, dan bodoh.

Aku terlalu cemas dengan kemungkinan-kemungkinan yang sedang menungguku di akhir masa lajang nanti. Tidak seperti pria yang lain yang hanya memikirkan soal kemapanan dan komitmen dalam mempersiapkan rumah tangga baru. Aku lebih memikirkan soal keperjakaanku yang telah hilang.

“Jika laki-laki mendambakan calon istri yang masih perawan, maka sudah tentu perempuan juga demikian, selalu mendambakan calon suami yang masih perjaka. Meskipun kami tidak pernah mengatakannya.” Kata seorang teman wanita yang satu kantor denganku pada sebuah pembicaraan ringan kami di jam istirahat kerja.

Pernyataannya itu membuat aku mengingat lagi apa yang dikatakan oleh Lusia kekasihku.

“Matias, aku ingin kita menikah suci secara Katolik nanti.” Pinta Lusia dengan nada manja.

Aku tersedak saat dia mengatakan itu. Es teh manis yang sedang aku seruput hampir muncrat lagi dari mulutku. Waktu itu kami sedang makan malam di sebuah warung di pinggir jalan.

“Aku kan masih perawan. Kamu juga masih perjaka. Jadi pas deh kita bisa menikah suci,” lanjutnya sambil tersenyum manis dengan tatapan yang bahagia.

“Ok sayang.” Jawabku sembari menyeruput teh yang sudah separuh habis.

Saat itu aku sangat ingin sekali untuk bicara jujur. Tetapi aku tidak tega melihatnya terluka. Aku takut dia akan  syok mendengar kebenaran yang terlalu pedih. Lagian malam itu terlalu indah untuk membuatnya menangis. Ah, sepertinya semua malam terlalu indah baginya untuk menangis.

******
Di penghujung senja. Saat matahari sudah separuh terlelap, aku dan Lusia sedang berada di sebuah Restoran cepat saji. Waktu itu adalah hari jadi kami yang ke empat tahun.

Lusia tampak bahagia seperti biasanya, dia sesekali bersandar manja di bahuku. Sementara aku hanya membeku bersama nyali yang telah menciut.

Kami tidak duduk berhadapan, tetapi berdampingan. Kami memang seperti itu, selalu duduk berdampingan ketika makan. Selain karena kebiasaan, saat itu juga kami lakukan agar kami bisa menelanjangi panorama lautan yang terbentang di depan Restoran itu.

“Lusia, ada yang perlu kuceritakan kepadamu.” Ucapku datar.

Dia memandangku dengan tatapan cemas. Sepertinya dia sudah tebak bahwa apa yang akan aku ceritakan bukanlah kabar baik.

“Cerita apa? Cepat ceritakan!” Ucapnya
dengan raut muka setengah mendung.

“Aku sudah tidak perjaka.” Ucapku dengan suara yang parau.

Setelah aku mengatakan itu, dia hanya terdiam. Matanya bersusah payah menahan air mata agar tak keluar. Wajahnya sayu, lebih sayu dari gulita. Aku tahu hatinya sedang menahan sakit dan kekecewaan yang luar biasa hebat.

Lalu dia menarik napas dalam sekali, mungkin sedalam luka yang baru aku tusuk. Kemudian menghempaskannya dengan kesal. Mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi sepertinya tertahan di ujung lidah. Dia memang wanita yang sabar. Tidak mudah emosi.  Tetapi malam itu aku merasakan amarahnya akan meledak.

“Tapi dengan siapa? Kapan?” Tanyanya dengan wajah meranum.

“Kamu akan semakin terluka jika aku menceritakannya secara detail” Kataku sambil memegang tangannya. “Yang terpenting kamu sudah tahu intinya.” Lanjutku.

“Berapa kali?” Tanyanya menuntut. Saat itu raut wajah kemarahan sudah mulai tampak di pelupuk matanya.

“Ceritakan semuanya, Matias. Dari dulu aku memang tidak mau membahas masa lalumu. Tapi jika begini kejadiannya, aku jadi ingin tahu”.

“Lusia, malam ini terlalu indah untuk kuceritakan semuanya," cetusku kepada Lusia.

“Tidak Matias,” katanya sambil menggelengkan kepala. Matanya sudah mulai berembun. Setiap butiran air mata yang jatuh adalah representasi dari kekecewaannya.

“Malam ini sudah buruk semenjak kamu mengakui kebejatanmu," ucapnya kesal.

Aku terdiam. Membeku. Hilang akal. Sementara Lusia sibuk memasukkan Smartphone dan Powerbank ke dalam tas kecil berwarna coklat miliknya. Lalu dia beranjak dari tempat duduk.

“Matias, untuk sementara waktu kita break dulu. Aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Jangan ganggu aku lagi," tutup Lusia.

Dia kemudian meninggalkan tempat itu. Menyisakan kepedihan yang dalam. Lampu Restoran yang muram meranum tampak tak bergairah. Lautan kini menggelap bersama malam yang abadi. Cahaya bulan yang meremang mengisyaratkan malam ini lebih sunyi dari diam.

Jalanan lengang malam itu. Sehingga yang terdengar hanya musik klasik dari Restoran itu, ditambah desiran ombak yang membentuk harmonisasi sonata kehilangan yang abadi. Lusia terus melangkah ke badan jalan, lalu menahan taksi yang kebetulan lewat.

Dia masuk ke dalam taksi itu. Aku tidak berani mengikutinya. Aku memilih untuk diam sejenak di Restoran itu. Menghukum diri sendiri dalam kesendirian yang begitu sepih. Aku kemudian melangkah ke meja kasir membayar tagihan, lalu pergi dan meninggalkan Restoran itu.

Tempat terkutuk yang pernah kami kunjungi. Setelah sampai di rumah aku tidak langsung tidur. Lagian jam masih menujukan pukul delapan malam. Belum waktunya untuk tidur. Aku menyelami masa laluku, memikirkan tentang kebejatan yang aku lakukan dulu dengan Risa, wanita yang pernah aku pacari, yang sekarang telah menjadi mantan terburukku. Wanita yang tidak berhak mendapat kasih sayang dari pria mana pun, setidaknya begitu menurutku.

Kami memang hanya sekali melakukan hubungan badan, tetapi bekasnya tidak bisa hilang. Bagaimanapun juga wanita itu terlalu bejat. Bayangkan saja, ternyata aku bukanlah satu-satunya korban yang pernah dia tiduri (sengaja aku mengatakan bahwa dia yang meniduriku, karena saat  itu aku sedang mabuk dan setengah sadar).

Seorang teman pernah menceritakan kepadaku bahwa temannya juga pernah ditiduri Risa. Dia juga kehilangan keperjakaannya di atas tubuh wanita itu. Tetapi bedanya, temannya itu merasa bangga karena bisa merasakan tubuh Risa. Aku bingung, kenapa temannya itu merasa bangga sehabis menelanjangi keperjakaannya di hadapan gadis “alat”? ahh.. sudahlah.

****
Sepanjang bulan ini hujan terus saja mengguyur kawasan pemukiman di kota Ruteng. Tak terelakkan hawa dingin datang bersamaan. Hujan dan dingin seperti partner on crime yang siap siaga membalut orang dengan kepiluan yang luar biasa dalam.
Dari dalam jendela kantor tempat aku kerja, aku memandangi rintik-rintik hujan.

Rintik-rintik itu serupa tinta yang menggoreskan kisah masa lalu yang kemudian akan berlanjut kepada ramalan masa depan. Tinta-tinta hujan adalah ilusi yang sungguh tidak bisa ditolak. Sensasinya memabukkan. Buktinya aku sekarang tengah berada dalam ilusi hujan.

Dari jendela kantor aku memandangi hujan dengan tatapan kecemasan. Dari sini aku seperti melihat hamparan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan yang sangat berserakan. Tidak terarah. Semua tampak tak terurus. Padahal aku termasuk salah satu dari sekian orang yang ada di Bumi ini yang selalu memiliki konsep dalam segala aktivitas yang hendak dikerjakan.

Salah satu kegagalan yang paling aku benci adalah perihal hilangnya keperjakaanku. Bagi pria kebanyakan, hilangnya keperjakaan mungkin bukanlah masalah yang perlu dipersoalkan, bahkan tidak sedikit juga yang bangga jika keperjakaannya hilang. Tetapi bagiku ini merupakan persoalan yang cukup serius. Sangat serius.

Hari ini adalah hari genap setahun aku dan Lusia berpisah. Dan sekarang aku telah dipindah tugaskan oleh atasanku ke sini, ke tempat asalku, kota Ruteng. Di sini aku telah menjadi pimpinan cabang. Sebuah jabatan yang telah aku incar semenjak aku mulai bekerja di Bank milik Pemerintah RI cabang Jakarta.

Tetapi ketika SK penempatan ke sini keluar, aku tidak  begitu senang. Apalah gunanya kemapanan bila aku tidak bisa menikahi wanita yang aku cintai. Jujur saja aku tidak lagi bisa jatuh cinta kepada wanita lain. Dalam hatiku sekarang hanya ada Lusia. Meskipun sebetulnya sekarang kami tidak lagi berhubungan.

Sudah setahun kami tidak pernah saling mengabari, apa lagi bertemu. Aku mengiakan permintaannya untuk tidak mengganggunya. Toh, jika kami jodoh, takdir pasti akan mempertemukan kami kembali. Tapi kapan, aku bahkan telah berusia 28 Tahun sekarang.

“Matias, aku juga di Ruteng. Tetapi aku balik ke sini karena sakit. Jika kamu tak ingin perpisahan di Restoran setahun yang lalu menjadi detik terakhir kita bertemu dalam keadaan hidup, maka datanglah ke rumahku malam ini.”

Sebuah pesan dari nomor baru. Nomor yang tidak aku kenal. Tapi aku tahu itu pasti pesan dari Lusia, kekasihku. Eh, mantan kekasihku, maksudnya. Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Bagaimanapun juga aku senang karena mendapat kabar kepulangannya, tetapi di lain sisi aku merasa sedih karena aku mendapat kabar tentang dia yang sedang sakit.

Pukul delapan malam, aku pergi ke rumahnya, sebuah rumah yang pernah kami datangi dua tahun yang lalu. Rumah berlantai dua yang cukup megah untuk ukuran masyarakat di kota ini. Dari pagar depan aku melihat rumahnya tampak gelap.

Tak ada cahaya lampu di dalam ruangan. Hanya ada satu lampu taman yang menyala. Aku kemudian menghentikan langkah ketika tepat sampai di depan pintu rumahnya. Aku mengetuk tapi tak ada yang menyahut dari dalam.

Aku memegang gagang pintu, dan mendorongnya sedikit. Sepertinya pintunya tidak terkunci. Aku mendorong lagi dan melangkahkan kaki ke dalam, hingga separuh badanku berada di dalam ruang tamu rumahnya, dan alangkah aku sangat terkejut. Saat itu lampu langsung menyala, balon-balon bergantungan di mana-mana. Begitu juga lampu kelap-kelip berseliweran dari sudut ke sudut yang lainnya.

“Happy Anniversary sayang.” Ucap Lusia dengan manisnya sambil memegang sebuah kue yang bertuliskan Happy Anniversary yang ke enam tahun.

Di samping kiri-kanannya ada Goreti dan Katarina, teman kuliahnya. Mereka juga berasal dari kota ini. Di belakangnya ada Bapa dan Ibunya. Mereka semua tampak tersenyum kepadaku. Aku berlari ke arah Lusia. Memeluknya erat. Tubuhnya masih sama seperti yang dulu, hangat dan menyejukkan.

“Jadi kamu tidak sakit? Tanyaku dengar air mata yang masih berlinang di mataku.

“Iya, aku sengaja mengirim pesan itu. Biar kamu cemas lalu datang ke sini, dan yang menunggumu di sini adalah sebuah kejutan. Kamu senangkan?” kata Lusia polos.

“Iyalah. Aku senang,” jawabku.

Malam itu kami duduk dan bercerita banyak hal di ruang tamu. Setelah beberapa jam Goreti dan Katarina pergi. Bapak dan Ibunya Lusia juga pergi ke kamar untuk tidur. Sekarang hanya tinggal aku dan Lusia. Sekarang kami bisa bercerita sesuka hati.

“Matias, perihal keperjakaanmu yang telah hilang. Aku sudah mengikhlaskannya. Sekarang jangan ada lagi masa lalu di antara kita. Biarkan tinta kebahagiaan yang mengukir sejarah di prasasti pernikahan kita nanti. Lagian soal keperjakaan itu, itu hanya soal kulit yang nanti juga akan keriput. Yang terpenting sekarang kamu mau berkomitmen untuk hidup bersamaku selamanya. Kamu maukan menikah denganku?” ucap Lusia dengan tulus.

“Lusia sayang, terima kasih kamu sudah mau kembali, dan terima kasih juga karena dengan kebesaran hati kau melamarku.” Ucapku setengah mengejeknya geli.

“Aku tidak melamarmu.” Bantahnya dengan gelagat kesal yang dibuat-buat.

“Tadi kamu yang bilang sendiri, kamu maukan menikah denganku? Bukankah itu artinya kamu melamar aku? hahhaha " Tawaku pecah.

Sedangkan dia merengut manja.
“Uhhh.. nyebelin deh”

****
Dua bulan setelah itu kami menikah. Saat itu aku baru tahu bahwa wanita lebih kuat dari laki-laki. Mungkin laki-laki kuat secara fisik tapi wanita lebih kuat dari segi mental atau perasaan. Aku tidak habis pikir, bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya, jika Lusia tidak perawan dan aku masih perjaka. Mungkin saja aku tidak bisa menerimanya. Dan kami tidak akan menikah, tidak akan berumah tangga seperti sekarang. Tidak akan bahagia seperti hari ini.

Ya, begitulah, kaum kami (laki-laki)  adalah makhluk yang paling  egois yang ada di muka bumi ini. Kami hanya bisa menuntut tapi tidak pernah berpikir ke dalam diri kami sendiri. Kami sering kali menyalahkan perempuan tetapi sebetulnya kami sedang menutup kekurangan kami sendiri.

Keterangan: 
Alat : Ungkapan untuk wanita cabe-cabean dalam versinya remaja Manggarai.


Oleh: Eman Jabur

Penulis adalah jurnalis MarjinNews wilayah Bali


Cerpen ini hanyalah imajinasi penulis. Apabila ada kesamaan nama, alur cerita dan sebagainya, tentu itu hanya kebetulan.


COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,116,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,157,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,180,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,568,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,36,Ekonomi,6,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,274,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,61,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,59,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,286,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,233,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,411,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,18,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,peradilan,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1105,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,36,Polisi,25,politik,90,Politikus,7,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,86,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,40,Start Up,1,Suara Muda,61,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,45,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,18,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,Yulius Benyamin Seran,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Keperjakaan Bukan Hadiah Untuk Pacar, Cerpen Karya Eman Jabur
Keperjakaan Bukan Hadiah Untuk Pacar, Cerpen Karya Eman Jabur
https://4.bp.blogspot.com/-col8GOgeUdE/W8JTb75OTTI/AAAAAAAADD0/pb045NhZO8wi1DgT9AeJ_t8ENMdlUTZkwCLcBGAs/s320/20181014_041849_0001.png
https://4.bp.blogspot.com/-col8GOgeUdE/W8JTb75OTTI/AAAAAAAADD0/pb045NhZO8wi1DgT9AeJ_t8ENMdlUTZkwCLcBGAs/s72-c/20181014_041849_0001.png
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/10/keperjakaan-bukan-hadiah-untuk-pacar.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/keperjakaan-bukan-hadiah-untuk-pacar.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close