Keperawanan Bukan Hadiah Untuk Pacar, Cerpen Karya Eman Jabur

Foto: Ilustrasi Disuatu malam aku duduk sambil menyandarkan raga pada tembok. Itu kebiasaan baru yang menjadi rutinitasku tiap malam sun...

Foto: Ilustrasi
Disuatu malam aku duduk sambil menyandarkan raga pada tembok. Itu kebiasaan baru yang menjadi rutinitasku tiap malam suntuk, bahkan aku melakukannya hingga subuh mengangkat matahari dari peristirahatannya.

Aku mulai menyesal dengan kilaf yang menghantam keras masa jayaku. Kemolekkan tubuh ditambah wajah ayu yang bersinar dari jiwa yang polos membuat banyak lelaki ingin mengecup manisnya rasa yang bisa aku persembahkan.

Aku menundukan kepala mencoba-coba melawan kenangan buruk itu dalam kepalaku, tetapi kenangan itu terlalu kuat untuk aku tepis. Aku kalah, suatu kenikmatan yang kulumat dengan lembut dahulu kini menjadi perusak rumah tanggaku.

Kalis suamiku membatu saat malam pertama ketika aku menceritakan tentang kebenaran dari masa remaja yang merenggut masaku yang sekarang. Semenjak saat itu dia bahkan tidak mau menyentuhku sama sekali dan mungkin tidak akan pernah.

Dia bisa saja melepaskan ikatan yang kami ramu di altar suci Keuskupan Ruteng, tetapi rupanya dia terlalu terhormat untuk melakukan hal rendahan seperti itu. Dia memilih untuk tetap tinggal, tetapi diam. Bagiku diamnya adalah pedang yang dia hunuskan kedalam jantungku, rasanya sakit. Sakit sekali.

Tidak seperti pasangan suami isteri yang lain, yang ketika malam mereka begitu bahagia meniti asmara dalam kenikmatan malam sebelum tidur, aku dan Kalis tidak seperti itu, bahkan Kalis kerap kali memunggungiku. Aku betul-betul merasa sakit.

“Kalis suamiku, maafkan kilaf yang aku lakukan dahulu. Aku tahu sakit yang engkau rasakan amat dalam, bahkan engkau sendiri tidak bisa membendungnya. Tetapi ketahuilah aku juga sakit,” kataku pada suatu malam.

Kalis tidak menyahut. Dia tetap saja memunggungiku. Aku tidak berani lagi melanjutkan kalimatku. Aku melakukan hal serupa seperti yang dia lakukan. Diam.

Selama ini, selama empat tahun setelah pernikahan kami, sejak kami disahkan sebagai suami isteri oleh Pater Johanes, aku seperti tidak melihat Kalis yang aku kenal ketika masa kuliah dulu, aku seperti melihat orang lain, yang sangat asing sekali.

Sebelum aku dan Kalis menikah kami sebelumnya berpacaran kurang lebih empat tahun, dan selama itulah aku merahasiakan gelapku dengannya, dan selama itupulah kasih sayang Kalis bertumpah ruah untuk aku, yang sekarang kasih sayang itu hilang entah perginya kemana, aku tidak tahu sama sekali, tetapi yang jelas tidak lagi menuju padaku.

*****

Kembali pada masa ketika mahkota kehormatanku hilang. Saat itu, saat setelah hari terakhir Ujian Nasional, butiran hujan bermelodi pada atap seng kosanku. Aku terkulai tidak berdaya menahan asmara kenikmatan yang hampir mendekati puncaknya. Sementara Rikar kekasihku terus membelai hatiku dengan lembutnya.

Dia tampak berpengalaman menaklukan sekuncup mawar yang baru mekar. Aku tidak bisa berpikir jernih. Saat itu yang kurasakan hanya dunia yang terus memujaku tanpa jeda waktu. Lalu singkat cerita, kenikmatan itu berhenti dan berganti dengan sesal yang tidak terhingga. Rikar mengelus-elus rambutku dan berkata, “jangan menangis, semuanya sudah terjadi”

Hari itu pun pergi bersamaan dengan perginya kebanggaanku satu-satunya. Aku adalah satu dari seribu gadis Manggarai yang memiliki kasus yang sama (hilangnya kesucian di masa SMA). Setelah semua itu terjadi, aku jadi membenci Rikar, sebab dialah yang dengan tega menghancurkan masa depanku. Tetapi kebencian itu tentu saja hanya menjadi setumpukan amarah yang aku bungkus pada hati yang rapuh, yang imbasnya hanya berakhir pada putusnya hubunganku dengan Rikar.

Waktu berputar sangat lambat. Setiap detak detiknya adalah cemohan dari dunia untukku. Apalagi setelah Rikar betul-betul mengiakan keputusanku untuk berhenti menjadi kekasihnya. Aku bodoh, seharusnya aku tidak menyuruh Rikar pergi dan tetap membiarkan Rikar menjadi kekasihku hingga pada akhirnya kami menikah jika sudah tamat kuliah nanti, tetapi aku memang selalu memilih jalan yang keliru. Namun jika dipikir-pikir kalau Rikar memang betul-betul mencintaiku seharusnya dia tidak mudah pergi begitu saja ketika aku memintanya pergi.

*****

Diawal masa kuliah, aku tidak lagi membuka hati untuk cinta. Aku trauma pada lelaki yang hanya seperti kumbang, mengisap sari bunga lalu pergi ketika sudah layu. Tetapi itu hanya bertahan selama lima bulan. Setelah melihat Kalis yang sekarang telah menjadi suamiku, hatiku kembali luluh. Aku egois. Seharusnya aku tidak mempersilahkan Kalis berlabuh di sini, sehingga dia tidak perlu merasa sakit seperti sekarang. Tetapi suaratan takdir telah menggariskan tasbihnya untuk kami bertemu.

Suatu senja ketika hujan di bulan Juli kembali bersenandung dengan angin, Kalis suamiku mengajak aku pergi ke Kedai Kopi Flores. Itu untuk pertama kalinya setelah menikah Dia mengajak aku ke tempat seperti ini.

“Isa? Pemilik tempat ini adalah teman sekelas saya dulu semasa kuliah. Kami merancang ide bisnis ini dulu bersama-sama. Tidak ku sangka Dia melanjutkan ide konyol yang kami rancang”. Kata Kalis memecahkan keheningan.

“Oh ya? Siapa nama temanmu itu?” tanyaku meladen pembicaranya.

“Namanya Soni”.

Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Aku begitu canggung, sedangkan Kalis kembali membatu seperti biasanya. Dia hanya menatap kosong ke luar melalui jendela. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Beberapa menit kemudian seorang pelayan datang.

“Seperti biasa. Kopi hitam tampa gula”. Kata Kalis kepada pelayan yang belum sempat menawarkan menunya.

“Mbaknya pesan apa?” Tanya pelayan itu kepadaku.

“Kopi hitam tanpa gula juga.” Jawabku.

Sebenarnya aku tidak menyukai kopi tanpa gula. Aku tidak suka sesuatu yang pahit. Dan aku juga baru sadar ternyata selama ini Kalis menyukai kopi tanpa gula, karena di rumah aku tidak pernah melihatnya minum kopi hitam tanpa gula, dia juga tidak pernah meminta kepadaku untuk membuatkannya. Dia hanya minum apa yang aku suguhkan. Aku betul-betul payah. Bahkan aku tidak tahu apa yang diinginkan oleh suamiku sendiri. Setelah menikah komunikasi kami memang tidak pernah intens, jadi wajar jika banyak hal baru darinya yang tidak aku ketahui.

“Isa? Aku mencintaimu, tetapi berat sekali untukku memeluk hatimu. Bagiku mencintaimu seperti menenggakan kopi hitam tanpa gula ini ke dalam tenggorokan, rasanya pahit tetapi hangat. Aku terus menyeruputnya setiap hari hingga pada akhirnya aku hanya bisa merasakan hangatnya, tidak pahitnya” kata Kalis sembari menggapai pegangan cangkir kopinya.

Aku tidak menjawabnya. Air mata berjatuhan di kelopak mataku. Aku merasakan kata-kata Kalis suamiku seperti guntur besarta petir yang menggelegar di siang bolong. Rupanya selama ini dia mencoba melawan egonya sendiri agar dapat menerimaku dengan tulus.

“Tetapi kau tahu? Di titik tertinggi depresiku kadang aku berpikir lebih baik aku mencintaimu dari keabadian. Bila waktu itu tiba, kuingin kau terus menikmati kopi hitam tanpa gula, karena di dalam kopi hitam terdapat banyak makna yang tersirat,” lanjut Kalis

Aku menggeleng. Semantara itu titik-titik hujan terus bersenandung dengan aroma kopi pahit yang ada di hadapan kami dan Lagu yang berjudul “Tercipta Untukku” yang dipopulerkan oleh Ungu Band berbisik dengan merdunya. Melodinya senada dengan bunyi rintik hujan serta dengan aroma kopi pahit yang siap mendramatisasi suasana.


******

Dua minggu setelah itu Kalis dilarikan ke Rumah Sakit karena mendadak pingsan. Kata dokter yang menanganinya Kalis mengidap penyakit infark miokard. Suatu jenis penyakit yang salah satu penyebabnya karena depresi yang berkepanjangan. Lagi-lagi selama ini aku tidak menyadarinya. Beberapa jam kemudian Kalis menghembuskan nafas terakhirnya. Dia pergi membawa luka yang menekan emosinya.

****
Hari ini aku kembali berada di Kedai Kopi Flores. Aku melakukan seperti apa yang dikatakan Kalis, menikmati kopi hitam tanpa gula. Lagu yang berjudul “Tercipta Untukku” kembali diputar. Melodinya mengumpan embun dari dalam bola mataku keluar. Aku menangis.

Aku menatap ke kursi yang ditempati Kalis beberapa minggu yang lalu yang kini hanya diisi oleh bayang-bayang tentangnya. Aku merasa bersala sekali. Bagaimana pun juga kematian Kalis tentu karena kebodohan yang aku lakukan dahulu. “seberapa pentingnya keperawanan seorang isteri bagi seorang suami?" Tanyaku dalam hati sembari menyeruput kopi pahit yang masih panas.

Terlepas dari apapun jawaban dari pertanyaanku di atas, yang jelas sesungguhnya keperawanan seorang wanita bukan hadiah untuk suatu hubungan pacaran.

Oleh: Eman Jabur
Penulis adalah Jurnalis MarjinNews wilayah Bali

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,231,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,2,Berita,9,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,45,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,157,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,2,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,259,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,6,Kepemudaan,151,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,59,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,7,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,88,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,352,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,22,Pariwisata,25,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,PenaBiru,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,67,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,26,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,7,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Keperawanan Bukan Hadiah Untuk Pacar, Cerpen Karya Eman Jabur
Keperawanan Bukan Hadiah Untuk Pacar, Cerpen Karya Eman Jabur
https://4.bp.blogspot.com/-ghnd7D2Ffuk/W7Ml9gwFvvI/AAAAAAAAC4s/CKYGpwl_v5IGxSEiwnWp-JnxYXNW812GwCLcBGAs/s320/Kate-Winslet-Titanic.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-ghnd7D2Ffuk/W7Ml9gwFvvI/AAAAAAAAC4s/CKYGpwl_v5IGxSEiwnWp-JnxYXNW812GwCLcBGAs/s72-c/Kate-Winslet-Titanic.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/keperawanan-bukan-hadiah-untuk-pacar.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/keperawanan-bukan-hadiah-untuk-pacar.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close