Jeritan Rikus Dalam Gubuk Lara

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Jeritan Rikus Dalam Gubuk Lara

Marjin News
23 October 2018

Wajah  lelaki itu terlihat muram dan suaranya terdengar begitu sejuk dari kejauhan. (Gambar: Istimewa)


Di persimpangan jalan, seorang lelaki paru baya berdiri membungkuk. Selembar serbet putih yang bernoda di bahunya dan topi anyaman pandan di kepalanya. Sehelai rambut putih menjalar di dahinya. Ia terlihat kecapekan. Keringat menetes ke tanah tempat ia berdiri bak air hujan. Wajahnya keriput termakan usia dan bibirnya terlihat pasi. Di hadapanya dua buah jerigen 5 liter berisikan moke.  

Beberapa saat kemudian, ia berjalan menepi di bahu jalan tepatnya di samping rumah Kepala Desa di Kampung itu. Di bawah pohon mangga ia berteduh. Begitu banyak orang yang lewat di depannya, tetapi tak seorangpun yang bertegur sapa dengannya. Meskipun demikian, ia selalu menebar senyum polos kepada mereka. “Tuak …Tuak” (Moke) teriak lelaki itu dengan suara serak terbata-bata.

Wajah  lelaki itu terlihat muram dan suaranya terdengar begitu sejuk dari kejauhan. Makin lama suaranya menghilang. Baju yang dikenakannya kuyup karena keringatan. Ia baluti wajah keriputnya dengan senyum seraya mengalihkan pandangan orang-orang yang lewat ke kedua jerigen moke jualannya seraya berkata dengan lembut. 

"Mori, weli koe can lite tuak ho,o” (Tuan, mohon beli moke jualanku  ). Katanya merayu empati mereka. Dengan spontan seorang pemuda mendekati dan merangkulnya lalu menanyakan nama lelaki separuh baya itu “Bapak nama siapa?” ia lalu memberi tahu namanya.

“Saya Rikus”, jawabnya. Suasana menjadi hening, serasa berada di Katedral Ruteng di kala malam. Rikus terlihat kaget ketika pemuda itu memberikan sepeser kepadanya. 

Melihat hal itu, Rikus memberikan satu jerigen moke kepada pemuda itu, namun pemuda itu menolaknya. Bagi Rikus, ini merupakan rejeki yang diberikan Tuhan. Diberi uang oleh orang yang tak ia kenali, saat itu ia terlihat begitu ceria. Sekurang-kurangnya ia bisa pulang dengan membawa beras. Baginya itu sudah cukup.

Rikus memiliki seorang anak, namanya Boy. Namun ia hanya tinggal berdua dengan istrinya. Boy, anak satu-satunya itu telah dibawa oleh seorang yang mengaku sebagai perekrut sebuah perusahaan dari Jiran. Dalam benak warga kampung, orang tersebut dikenal sebagai kaki tangan dari perusahaan yang tak bernama itu. 

Lantas, Boy diberangkatkan dengan mudah tanpa mengurus segala sesuatu, layaknya pekerja-pekerja yang lain. Dengan kata lain, Boy adalah pekerja illegal.

Teringat kembali beberapa hari sebelum Boy berangkat, kepada ayahnya ia mengaku tergiur dengan upah buruh kasar di sana yang tak jauh berbeda dengan gaji seorang Kepala Dinas. Sementara, perekrut itu menjanjikan Boy akan menempatkan posisi  strategis di perusahaan itu. Tentu dengan gaji yang fantastic pula. 

Saat  subuh, Boy dan perekrutnya berangkat dari rumah. Dengan niat dan tekad yang bulat, ia ingin merubah nasib keluarganya. Sekurang-kurangnya bisa menggantikan beberapa seng rumahnya yang sudah bocor. Lantaran uang hasil jualan moke dari Rikus ayahnya itu tidak cukup untuk membeli seng.  

Saat itu, Boy hanya diberikan uang sebesar dua ratus ribu rupiah, uang tersebut didapat dari 10 jerigen moke. 

“ini saja yang kami berikan nak" kata Rikus sambil memeluk Boy. 

Sementara  sang ibunda yang tidak rela berada jauh dengan anak semata wayangnya hanya menangis sambil memeluk Boy. Sesekali ia mencubit dan menampar Boy dengan manja. 

“Nak, hati-hati di sana”, kata ibunya. 

Mereka hanya memberikan Boy uang makan selama dalam perjalanan. Selain itu, semua biaya di bayar oleh perusahaan, kata perekrut itu seketika hendak istirahat malam beberapa waktu lalu di rumah Boy.

Empat tahun lamanya Boy di negeri Jiran. Tangisan kerinduan akan anak semata wayang mereka selalu menggaung di kala petang. Bahkan beberapa baju milik Boy yang sengaja ditinggalkan menjadi saksi bisu atas air mata orang tuanya. 

Sesekali menjadi rebutan, mencium  bau badan anaknya. Baju tersebut pernah dipakai oleh ayahnya saat hendak menerima bantuan keluarga miskin di Desa itu. Antrian sepanjang hari. Alhasil, namanya tidak ada dalam daftar penerima bantuan. 

Lantaran ia pulang ke rumah dengan menjinjing bakul tak berisi. Ia membawa bakul dengan maksud bisa membeli beberapa kilo beras dari uang yang diterimanya, tetapi sayang ia namanya tidak ada dalam daftar itu. Padahal beberepa hari sebelum itu, ia dikabarkan salah satu dari belasan nama yang akan menerima bantuan keluaraga miskin. 

"Eh, mereka memang begitu. Ada-ada saja aturannya, atau bisa saja jatahmu telah diterima oleh keluarga Pak Kades” kata seorang kakek di tengah antrian itu. 

Bisa dibayangkan, jika saat itu Rikus tetap berjalan keliling kampung, mungkin mokenya habis terjual. Sehingga bisa membeli beras untuk makan malam mereka. Untuk diketahui, menjual moke adalah cara rikus menyambung hidup. Tidak ada alternative lain selain itu. Apalagi dengan kondisi istrinya yang sakit-sakitan. Beban Rikus pun sebagai kepala keluarga semakin bertambah.

Tempo itu, di kampung Rikus banyak didatangi oleh para Caleg. Kebetulan saat itu merupakan tahun politik. Dimana para caleg datang dengan wajah malaikat. Hampir setiap hari dalam sepekan itu yang datang adalah orang berbeda. Kemah bamboo di tengah kampong pun menjadi panggung bagi para caleg untuk berkampanye mendapatkan simpati warga.  Suasana malam terlihat seperti di siang hari. Lentera digantung pada setiap sudut kemah. Maklum, di kampong itu juga belum tersentuh oleh listrik seperti di tempat lainnya.

Di sela “lonto leok” (duduk berdiskusi)  dengan para caleg yang datang tak kenal waktu, Rikus keluhkan soal Boy anaknya yang merantau ke negeri seberang. Ia keluhkan soal ketiadaan kabar dari Boy anaknya. 

Bahkan, ia “kepok” (memohon dan meminta) kepada para Caleg dengan sejerigen moke jualannya agar pulangkan anaknya. Hampir setiap caleg memiliki nada yang sama “tenang saja bapa, kita akan berusaha untuk pulangkan dia (Boy)” tutup mereka. Rikus dan istrinya yang sedang sakit merasa senang dengan jawaban mereka. 

Beberapa jerigen moke pun diberi sia-sia sebagai rasa syukur Rikus dan istrinya kepada para caleg-caleg itu. Alhasil, Pileg selesai masalah Rikus pun lenyap tanpa kabar. Lalu, apa mereka datang lagi ke kampung itu? Tidak, itu ternyata musiman.

Beberapa bulan setelah itu, nasib na'as kembali menimpa keluarga Rikus.  Sang istri tercintanya meninggal. Kini ia hidup seorang diri. Boy, anak semata wayangnya pun hilang tanpa jejak, ditamabah lagi dengan kepergian sang istrinya. Bisa dibayangkan beban yang di pikul Rikus. Tetapi, semuanya itu tidak membuat semangatnya luntur apalagi putus asa. Ia tetap menjual moke untuk bisa bertahan hidup. Sebab, mau mengharapkan siapa lagi? Semuanya telah sirna. Termasuk orang-orang yang ia percayakan untuk tangani masalah Boy, anaknya itu. 

Lantas, ia pernah sesali dalam ketiaktahuannya akan fungsi kontrol dari orang-orang yang pernah datang ke kampungnya, yang tidak kenal waktu.

“sebenarnya siapa yang bertanggung jawab atas pengiriman TKI? Kepada siapa lagi aku mengaduh?” katanya sejenak sambil meratapi kepergian istri tercinta dan anak semata wayangnya.

Sekarang, ia hidup bergantung pada hasil jualan moke. Kini, sehari Rikus hanya mampu menjual satu jerigen moke, tidak seperti biasanya. Salah satu alasan utamanya adalah ia sudah tidak mampu berjalan jauh lagi mengelilingi kampung, apalagi dengan membawa jerigen yang berisi moke itu. 

"Ya, itupun kalau laku, kalau tidak laku, saya biasanya jual dibawah harga normal, bahkan di-bon” katanya seraya memunggung ke dinding pelupu rumah reyotnya.



Oleh: Dhony Djematu