Jasa Tokoh Adat Bersama Masyarakat yang Tak Terlupakan Dalam Perjalanan Desa Benteng Tubi Rahong Utara

Foto: dok.pribadi


Marjinnews.com - Semangat gotong royong para tokoh adat dan masyarakat berhasil membuat desa Benteng Tubi keluar dari wilayah terisolir.

Desa Benteng Tubi adalah salah satu desa di kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang berjarak kurang lebih 30 km dari kota Ruteng ibu kota Kabupaten Manggarai.

Sekitar tahun 1970-an desa yang terdiri dua kampung yakni Poka dan Redong ini masih bergabung bersama desa Bangka Ajang. Namun, seiring dengan perkembangannya sekitar tahun 1980-an desa Bangka Ajang dimekarkan yakni kampung Poka dan Redong menjadi satu desa yaitu desa Benteng Tubi.

Dalam sejaranya, Benteng Tubi berasal dari nama sebuah tempat dimana pada zaman penjajahan Belanda bukit tersebut dijadikan tempat perlindungan para pahlawan dan masyrakat sehingga berhasil mengusir atau mengalahkan penjajah.

Untuk mengenang tempat ini para pendahulu memilih nama tersebut sebagai nama desa. Jika dilihat dari namanya " Benteng Tubi " Benteng artinya tempt atau kota kecil dan tubi artinya mendesak. Maka, Benteng Tubi artinya bukit atau tempat untuk melakukan serangan yang mendesak atau serangan yang bertubi tubi.

Dari sini, terbukti mereka berhasil mengusir para penjajah. Namun nama desa yang begitu unik dan penuh sejarah ini sangat tidak mendukung dengan kondisi infrastruktur pada saat awal-awal dimekarnya desa ini dari desa Bangka Ajang.

Almarhum Romanus Gagur adalah kepala desa pertama yang memimpin masyarakat Benteng Tubi. Pada era kepemimpinanya kondisi desa masih sangat terisolir. Jalan raya, air minum apalagi listrik belum ada sama sekali.

Pada era kepemimpinan almarhum Dago Ndanda barulah nampak yang namanya pembangunan. Ia memimpin desa Benteng Tubi hingga 2005. Di masa itu ada dua program yang sampai saat ini tidak bisa dilupakan oleh masyarakat desa Banteng Tubi yakni program infrastruktur akses jalan raya dan program air minum bersih.

Khusus jalan raya pada periode tahun 2000, Benteng Tubi  masih belum bisa memasuki kendaraan roda dua maupun roda empat.

Jika masyarakat hendak pergi ke kota Ruteng mereka harus berjalan kaki sejauh 10 hingga 15 KM tepatnya ke Rampasasa atau ke Ndehes Desa Bu'ar. Hasil bumi seperti, Kopi, Kemiri dan lainnya harus diangkut menggunakan tenaga manusia dengan biaya sekitar 20.000/karung.

Kades Dago yang saat itu memimpin desa Benteng Tubi tentu tidak ingin terus berada dalam kondisi seperti itu. Sehingga ia mencoba duduk bersama masyrakat untuk mendiskusikan serta mencarikan solusi.

Hasilnya Kades Dago bersama masyarakat sepakat membuka jalan raya dari kampung Ntala desa Bu'ar menuju desa Benteng Tubi. Perjuangan kades Dago agar desa Benteng Tubi keluar dari wilayah tersisolirpun bukan tanpa halangan atau rintangan.

Banyak masyarakat pada waktu yang tanahnya tidak rela dibuat untuk akses jalan. Namun Kades Dago tetap bersih kukuh dan mencoba memberi pencerahan kepada masyrakat agar tanah mereka disediakan untuk membuka jalan sebagai akses yang manfaatnya untuk dinikmati  bersama.

Setelah diberi pencerahan, akhirnya sasyrakat pun merelakan tanah mereka. Dan mulailah membuka jalan tersebut dengan pengerjaan swadaya masyrakat tanpa harus menunggu dana atau bantuan dari pemerintah.

Setelah beberapa bulan mereka berhasil membuka akses jalan tersebut dengan penuh medan yang terjal setidaknya harapan akan sebuah kemajuan  mulai nampak. Walaupun masyarakat juga harus menunggu lama untuk proses penyusunan batu atau telford.

Untuk diketahui, saat itu pembukaan akses jalan tersebut hanya sampai di kampung Redong sementara kampung Poka harus menunggu waktu lama baru membuka akses jalan tepatnya pada akhir tahun 2006 atau pada tahun kepemimpinan Aloisius Dambut.

Ada bedanya. Saat membuka akses jalan tersebut bukan inisiatif kepala desa melainkan tetua atau tokoh adat kampung Poka bersama masyarakat yang memiliki kesadaran akan sebuah kemajuan karena mereka melihat apa yang telah dilakukan oleh almarhum Kades Dago sepertinya tidak diteruskan oleh kepala desa yang baru ini.

Sehingga tokoh adat kampung Poka, almarhum Yakobus Jemage, almarhum Matias Minggu, Ansel Bajak, almarhum Mateus Epok, Alfridus Son dan Anggalinus Dada melakukan rembuk untuk berdiskusi mengenai kelanjutan pembangunan akeses jalan dari Redong ke Poka.




Hasil rembuk tersebut menghasilkan ide-ide brilian. Dikatakan ide brilian karena tanpa campur tangan pemerintah pun mereka bisa memikirkan bagaimana cara untuk menghubungkan kampung yang satu dengan yang lainya yaitu dari desa yang satu ke desa yang lain agar memudahkan akses khususnya roda dua dan roda empat.

Pada saat itu mereka benar-benar paham dengan kondisi medan jalan. Cepatnya, sebelum memasuki kampung Redong yakni " Kebe Rebe " sangat susah dilalui kendaran roda empat karena tanjakan dan juga banyak tikungan  tajam sehingga mereka memutuskan untuk membuka akses baru sekaligus menghubungkan  antara desa Manong menuju desa Benteng Tubi.

Hasil rembuk para tokoh adat kampung poka pun disetujui oleh masyarakat. Masyarakat kampung Poka tidak keberatan tanah mereka digunakan untuk akses jalan bahkan kebun kopi mereka bersedia dipotong rata tanah karena mereka sadar tujuan para tokoh adat tidak lain yaitu untuk kepentingan bersama.

Sebelum jalan tersebut dikerjakan terlebih dahulu pihak dari dinas PU Manggarai melakukan survei. Selanjutnya masyarakat mulai mengerjakan dengan swadaya mereka.

Para tetua adat sebagai komando  membuat beberapa kelompok kerja. Ada  7 kelompok waktu itu. Lalu kemudian dibagi satu kelompok satu km  hingga dua km. Masyarakat  yang tidak ikut bekerja pun didenda Rp. 15.000/hari. Antusiasme masyarakat waktu itu sangat tinggi.

Kampung itupun segera keluar dari wilayah terisolir. Lebar jalan yang dibuka pun bukan main yakni hingga 4 meter. Walaupun setelah sukses membuka jalan warga harus lama menunggu proses penyusunan batu atau telford namun itu bukan menjadi masalah buat masyarakat Benteng Tubi.

Perjuangan masyrakat ternyata tidak sia-sia karena pada tahun 2009 awal kepemimpinana almarhum Kades Yakobus Jemage sudah mulai proses penyusunan batu. Baru saat itulah pemerintah campur tangan melalui dana PNPM perdesaan atau bukan swadaya msyrakat lagi, selanjutnya pada tahun 2011 jalan tersebut diaspalkan .

Mulai dari kampung Laru desa Manong menuju Kampung Poka desa Benteng Tubi, sejak saat itu hingga sekarang mobil atau roda empat dan roda dua sudah bisa masuk

Masyarakat sungguh merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Dan hasilnya, generasi muda sekarang bisa menikmati hasil kerja para pendahulu mereka itu.

Layak dan pantas menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tokoh adat, masyrakat dan pemerintah yang telah bersusah payah membangun desa Benteng Tubi dari keterisolasian.

Mereka adalah tokoh-tokoh pembangunan terutama tetua adat dan masyrakat kampung Poka dan Redong.

Semoga cara mereka membangun desa bisa tertular kepada generasi sekarang. Mereka bekerja tanpa harus menunggu kehadiran pemerintah. Karena pembangunan suatu daerah tidak harus menunggu pemerintah melainkan dari masyarakat itu sendiri.

Masyarakat Benteng Tubi sudah melakukan itu. Kini aspal sudah ditengah kampung. Mobil dan motor sudah bisa masuk ke kampung.

Masyarakat Benteng Tubi tidak lagi susah menjual hasil bumi dan tidak harus berjalan kaki sperti dulu lagi.

Semoga pemimpin desa Benteng Tubi baik sekarang maupun yang akan datang bisa membuat desa lebih maju lagi dan bisa memperbaiki jalan yang sudah dibangun.

Apa yang telah dilakukan oleh masyrakat Desa Benteng Tubi patut ditiru oleh masyarakat desa lain terutama yang kondisi desanya masih terisolir.

Pemerintah juga harus mengapresiasi apa yang telah dilakukan msrakat desa Benteng Tubi karena bagaimanapun yang telah mereka lakuan sangat membantu pemerintah.

Harapannya kedepan, pemerintah bisa lebih memperhatikan kondisi di masyarakat terutama tiga hal yang harus terpenuhi yaitu, air minum bersih, jalan raya dan penerangan (Listrik).

Terima kasih sudah membuat generasi muda mengerti arti sebuah kerjasama dan gotong royong. Ini menjadi motivasi buat generasi muda aga bersama-sama membangun bangsa ini.

Penulis: Agustinus Ganggar
Editor: Remigius Nahal

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,114,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,278,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,206,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1046,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Jasa Tokoh Adat Bersama Masyarakat yang Tak Terlupakan Dalam Perjalanan Desa Benteng Tubi Rahong Utara
Jasa Tokoh Adat Bersama Masyarakat yang Tak Terlupakan Dalam Perjalanan Desa Benteng Tubi Rahong Utara
https://2.bp.blogspot.com/-znVovf8vFA4/W9KdsuQue_I/AAAAAAAADQk/y3TTkRBiudUZD8vnCKQT4LiLrwAqFXQwgCLcBGAs/s320/20181026_125210_0001.png
https://2.bp.blogspot.com/-znVovf8vFA4/W9KdsuQue_I/AAAAAAAADQk/y3TTkRBiudUZD8vnCKQT4LiLrwAqFXQwgCLcBGAs/s72-c/20181026_125210_0001.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/jasa-tokoh-adat-bersama-masyarakat-yang.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/jasa-tokoh-adat-bersama-masyarakat-yang.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy