Jalan Sunyi Para Perantau, Cerpen Karya Tarsy Asmat

Foto: Ilustrasi
Seakan kelompok awan yang sedang bersidang di ujung senja menyindir kami tanpa belas kasih. Hujan deras menghujam rambut-rambut kriting. Angin melolong, menampar semua pucuk kayu yang berdiri tegak melawannya. Guntur berderu, sementara bintang-bintang hilang. Hanya siluet cahaya dari tabrakan partikel di atas angkasa menerangi beranda langit malam.

“Kalian harus pergi dari sini, kalian harus pergi dari sini!” teriak seorang  berseragam coklat, berperawakan gagah, kekar dan berwajah sangar.

Dua truk besar dan satu mobil patroli polisi sudah parkir di depan Barak. Semua penghuni barak keluar dari peraduan masing-masing. Kerongkongan para lelaki diantara kami seperti disumbat oleh tulang belulang, diam, tidak protes.

Hanya para ibu, dan diantaranya empat orang yang sedang hamil, bergegas cepat menghimpun anak-anak dan pakaian secukupnya. Semuanya patuh pada perintah. Malam itu, dibawah rintik hujan yang bandel, diam-diam, kami saling beriringan naik ke damtruk.

Ketika kami sudah di dalam Truk, warga setempat mulai mendatangi perusahan, PT. Pujiono. Mereka membawa mandau dan lembing seakan disana ada kawanan babi hutan yang ingin mereka tangkap.

Barak yang panjang berdinding papan, dingin, pasrah pada si jago merah yang tanpa disuruh melumat dan menjilatnya sampai habis. Lidah-lidah api seketika berserakan di udara. Pasti lukisan-lukisan Yesus dari tangan mungil Karolina juga ludes dilalapnya.

Hening. Tak sanggup mata saling memandang. Gonjang ganjing truk menyusur jalan tanah yang licin. Kadang tubuh-tubuh saling bertubrukan, menggoda untuk saling tegur sapa, tetapi semuanya direnggut oleh malam.

Hanya deru mesin truk terus menggonggong bukit-bukit kecil dan batu batu kecil berderik keras digilas roda. Hingga tengah malam kami tiba disebuah Gereja Katolik, Long Iram.

 “Tidurlah malam ini di sini! Anak-anak jangan menangis yah” perintah Bapa Rapael, sebagai orang yang tertua diantara kami. Anak-anak tidak satupun yang menangis. Hanya beberapa anak muda berjaga di pintu Gereja. Mereka mengepul rokok dalam sunyi sambil menanti pagi.

****
Cahaya pagi hari, tanpa permisi menerobos pintu dan jendela Gereja. “Astaga kita tidak menghormati gereja ini, celetuk Liruk.

“Tidak apa-apa, untunglah ada Gereja, rumah bersama kita, sebab hanya Gereja yang menampung orang asing, kata Anas.

“Ah, eja, saya salut sama kamu e, hari ini kau bijak sekali ya?”

“Hahaha, Eja Liruk, hari ini hari minggu, jadi sesekali bijak lah”.

Para ibu mulai bergegas membentuk formasi kelompok masak untuk kami, sementara bapa-bapa dan para pemuda, mengawali hari mereka dengan canda menghibur duka lara. Sebab hanya kata yang bisa menyegar dan memulih tenaga dan jiwa yang lelah.

Lukas yang tadinya termenung di tangga gereja mendekati Liruk yang sedang berbicara dengan Anas. “Menurut kau, kenapa orang-orang itu menyerang barak kita? apa salah kita, kita hanyalah pekerja!” Lukas ingin melahirkan anak harimau ganasnya.

Tetapi, Liruk dan Anas menenangkannya. “Kau tau Lukas, kita ini perantau. Yang kau punya hanyalah tenaga kuda untuk mencangkul dan membabat hutan, tetapi kau tidak punya tanah di sini, bukan?”

“Tetapi yang aku sesal, kita sudah saling kenal dengan mereka, mengapa mereka masih tega mengusir kita?“ Protes Liruk. “Ya, hidup memang bukan tentang persahabatan,  tetapi tentang segerombolan perampok yang pernah bersahabat. Kau, aku dan siapa saja adalah perampok, semua orang, yang mereka pikirkan pertama adalah diri mereka sendiri.

Kalau menurut Darwin, manusia hanyalah kera besar yang sedikit lebih bijaksana.  Kau tau, si Rober yang beristri gadis dari kampung itu pun diusir juga. Jadi, persoalanya bukan mereka membenci kita, tetapi mereka memperjuangkan hak tanah mereka pada perusahan itu, Lukas.

“Kalau begitu, tidak mesti kitalah yang jadi korban dong!”

“Sudahlah jangan membahas itu lagi” kata Pak Raphael. Sekarang pikirkan rencana selanjutnya.

“Liruk…., tugas kamu, bertanya pada orang-orang disini, di mana rumah RT-nya, dan kalau perlu kau tanya juga rumah-rumah orang Katolik di sini, biar kita undang pastor ke sini”, perintah Bapa Raphael. Liruk mengangkat tumitnya saat itu juga.

“Tiba-tiba beberapa orang masuk ke pekarangan Gereja. Orang-orang itu menyapa kami. Salah seorang diantara mereka, berambut kliwis, hitam manis memberikan bantuan beberapa gardus Mie dan karung beras.

“Mungkin dia orang kita, bisik beberapa orang diantara kaum kami. Pria yang memberi bantuan kepada kami itu tidak memperkenalkan namanya. Setelah memberi bantuan, menyapa dan melihat kondisi kami, ia pulang entah kemana. Sore harinya ia datang lagi dan memimpin kami dalam doa dan saat itu juga kami tau, pria itu adalah seorang pastor.

Ketika malam kedua tiba, langit sedikit peduli. Hamparan bintang berserakan, hanya saja angin terlalu dingin. Beberapa orang pria tua dan muda membuat api unggun di depan Gereja. Mereka duduk melingkar mengelilingi api.

Lukas memukul bambu dengan ritme yang terukur, lalu melantumkan lagu, Bo le lebo, ita nusa le lebo….Tetapi, Lukas menguleti sedikit sairnya, dengan sair sarkais mengolok diri, “kemarin mereka datang ke kampungmu, membawa seribu janji bahwa di negeri yang mata kakimu belum merasakan hangat tanahnya, ada hamparan harapan. Sebab tanahmu bertumbuh banyak batu dan berbuah krikil maka janji manis mereka kau sambut. Tetapi bagaimana kau malam ini? Di bawah langit telanjang, tanpa mata ingin memandangmu, kau seperti kuda tak mengenal sabana tuannya. Kepada siapa kau mengaduh? Oh, Bole le bo, ita nusa le lebo…”.

Lagu bo le lebo, digubah seperti hentakan ritmis, sesuai pukulan musik perkusi dari bambu tua. Beberapa wanita menitik air mata, tetapi anak-anak merasakan hangatnya api.
Sementara di kelompok lain, Anas meriwayatkan  kembali kisah awal perantaunnya.

“Kami tujuh bersaudara, dan saya ditakdirkan untuk dilahirkan pertama. Masih terbilang untung, karena orangtuaku sudah menyekolahkan aku sampai tingkat SMA, meskipun bukit batu kami sudah dijual kepada pak Haji.

Selanjutnya, aku mengubur mimpiku dalam peti mati untuk sekolah ke perguruan tinggi, sebab mimpi itu tidak mungkin terealisasi. Berikut adik-adikku mengejarku, mereka juga ingin menggapai surga mereka. Demi merekalah masa depanku kupertaruhkan.

Tetapi, mimpi itu hanya bisa kutulis dalam yupa hatiku, jika malam seperti kemarin selalu di depan mata. Sia- sia. Yah hidup ini ada sisi absurditasnya”.

“Anas, apakah kau ingin pindah kerja, ada yang menelpon aku tadi?” Kata Liruk.

“Dari mana informasimu Liruk?”

 “Dari perusahan Batu Bara eja, hemm kau tau, gajinya lumayan besar. Mata liruk ikut membesar seperti mata kuda ketika berkata gajinya besar.

“Betul itu Liruk, siapapun besar kepalanya jika bekerja di perusahan batu bara, mengenakan seragam dan helm penambang, tetapi bagaimana dengan gaji mata cangkulmu selama dua bulan ini? apakah kau buang begitu saja, belum tentu juga di tempat kerja baru sesuai dengan harapan”.

“Ya, setelah mendapat gaji dua bulan, aku akan pindah dari perusahan itu, bagaimana dengan kau?”

“Saya ingin pulang, Liruk. Biar tanah air beta tumbuh beribu batu, tetapi tidak akan ada yang mengusirmu dan mengganggu tidur malammu”.

“Ah, Anas, riwayat rantaumu, belum kau tutup dengan pesta, bukan? Kalau kau pulang, kau hanya menimbulkan masalah baru pada keluargamu. Nekat sajalah, bertahan di sini. Mata kaki kita sudah lincah menemukan jalan, tempat kunang-kunang berkumpul, meskipun ujung-ujungnya jadi kuli. Kalaupun kita kembali, tidak ada yang memerdekan kita di sana. Tetaplah di jalan sunyi ini kawan sampai kau menutup riwayat rantaumu dengan anggur tua yang terbaik”.

Cerpen 2014 (Majalah Hidup)

Oleh : Tarsy Asmat, MSF 

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Jalan Sunyi Para Perantau, Cerpen Karya Tarsy Asmat
Jalan Sunyi Para Perantau, Cerpen Karya Tarsy Asmat
https://3.bp.blogspot.com/-VXt4ic3-Elw/W80ksF3Kn8I/AAAAAAAADMw/7hjaP3nRcKckCYxjl3TtqiSHNCat67t-QCLcBGAs/s320/20181022_091457_0001.png
https://3.bp.blogspot.com/-VXt4ic3-Elw/W80ksF3Kn8I/AAAAAAAADMw/7hjaP3nRcKckCYxjl3TtqiSHNCat67t-QCLcBGAs/s72-c/20181022_091457_0001.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/jalan-sunyi-para-perantau-cerpen-karya.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/jalan-sunyi-para-perantau-cerpen-karya.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy