Jalan Kenangan


CERPEN, marjinnews.com - Di penghujung malam nun sunyi kala bintang gemintang berpijar dengan arogan, ada sedikit percikan rinduku untukmu. Aku bak dilempar ke masa lalu, memaksaku terseret pada kisah di mana secarik kertas yang aku genggam dengan gentar yang di dalamnya berisi seuntai kata cintaku untukmu. Masihku ingat raut wajahmu saat aku menyodorkan kertas itu, kau tersipu. Ya kau tersenyum sipu. Aku ingat sekali ekspresimu waktu itu.

Senja kala itu adalah senja paling bahagia bagiku meskipun nyatanya waktu itu aku belum mendapatkan jawabanmu bahkan kau sendiri belum tahu jika di pojok bawa kertas itu ada namaku dan lengkap dengan parafnya, tapi setidaknya aku telah membongkar rasa yang menyesakkan dadaku, dan itu membuatku sedikit lega.

Di malam setelah secarik kertas itu telah sampai di tanganmu aku seperti di hinggapi penyakit gila yang membingungkan. Benar-benar gila rasanya jika kita tak lagi saling bertutur, mengingat sebelumnya aku hannyalah seorang teman di matamu, sedangkan aku berharap lebih.

Aku menyalakan diri sendiri, bagaimana jika kamu muak melihat mukaku setelah tahu aku memiliki rasa padamu? Bagaimana jika kau tak mau jadi temanku lagi saat surat itu usai kau baca di tiap barisnya? Dan bagaimana jika kau bersedia menjadi kekasihku, apakah kita akan selalu berjalan bersama layaknya kaki dan sandal? Malam itu aku terjebak dalam kebingungan, aku takut kehilangan kamu sebagai teman dan juga bingung bagaimana caraku mencintaimu jika kamu mengatakan bersedia.

Pada senja hari besoknya, aku menunggu surat balasanmu dengan hati cemas. Tapi hingga matahari tak lagi tampak suratku tak kunjung kamu balas. Entah apa alasannya, yang jelas waktu itu aku berpikir kamu telah mengabaikan suratku. 

Hari-hari berlalu, kita tak lagi seperti teman apa lagi seperti sejoli. Tidak sama sekali. Bahkan sudah hampir sebulan suratku tak kunjung kamu balas. Dan itu membuat aku semakin kaku di hadapanmu. Namun tahukah kamu, kalau di setiap senja kala itu aku selalu menunggu surat balasanmu?.

Suatu ketika sekonyong-konyong keberanianku melejit naik, aku berlari kecil mengejarmu yang berada sedikit jauh di depanku. Aku mendapatimu sedang bercengkerama sambil berjalan dengan teman-temanmu. Aku berpura-pura meminjam catatanmu, dan pada saat itulah meletus tanya dari mulutku “bagaimana tanggapanmu tentang surat yang aku berikan untukmu?” kau lagi-lagi tersipu, “aku akan segera membalasnya” jawabmu singkat. Kamu kemudian menoleh dan kembali berjalan seolah tidak tahan berada di dekatku. Tapi aku senang setidaknya kamu sudah berjanji akan membalas suratku.

Sore itu, tepatnya setelah satu hari saat kamu mengatakan akan segera membalas suratku, aku berpura-pura berjalan tepat di belakangmu, sebuah tak-tik klise yang tentunya dapat dengan mudah kamu tebak. Kamu lalu berpaling muka ke belakang, ke arahku. Dan dari mulutmu ada namaku terucap, nadanya seperti memanggilku. Aku mendekat. Ada gempita-gempita kecil saat mata kita bertemu pandang. Senyum tersipu kembali terurai di bibirmu. Senyum itu seolah menusukku tepat di ulu hati, sehingga membuat aku nyaris tidak bisa bergerak di buatnya. Aku kaku. Kaku sekali. Kamu kemudian membuka tasmu, mengeluarkan sebuah buku dari dalamnya dan memberikannya padaku. “suratnya ada di dalam buku itu” katamu membisik. Aku mengangguk dan membiarkan kamu berjalan bersama teman-temanmu lagi.

Aku memperlambat langkahku, membiarkan kamu dan teman-temanmu hilang dari pandanganku karena di telan pengkolan yang berjarak tak jauh dari tempat kau memberikan buku itu. Aku bermaksud segera membaca surat balasanmu, tapi suara dari orang yang kira-kira dua puluh meter di belakangku membuat niatku terhenti. 

Cahaya senja semakin menjadi-jadi. Warna jingganya indah tak terperikan. Dari tempatku berpijak kulihat kamu melangkah menuju rumahmu. Kamu berjalan dengan sangat menawan, rambut panjangmu sesekali terbang karena ditiup angin. Sebelum kamu masuk, kau kembali menoleh ke belakang, ke arahku, dan senyum tersipu kembali terurai di bibirmu dan lagi-lagi aku kaku di buatnya. Kemudian kamu berbalik dan kembali berjalan masuk ke rumahmu, membiarkan aku yang masih kaku karena terhipnotis senyummu.

Aku menatap senja, cahaya indahnya berpijar sangat arogan namun memukau. Ingin sekali aku berteriak keras ke arah sang senja “kamu jangan sok indah, karena dalam hatiku yang paling indah adalah wajah bidadari yang baru masuk ke pintu kayangannya.” Tapi senja semakin indah, cahaya jingganya mengusik hatiku seolah ingin mengatakan “hei, saudara bacalah dulu isi surat itu, baru setelah itu kamu bebas menggonggong”

Aku bergegas berjalan menuju rumahku. Saat sampai di rumah, kutanggalkan tas di atas tempat tidur dan mengeluarkan surat balasanmu, kemudian berlari menuju tenda yang terletak di belakang rumah. Perlahan-lahan kumembuka surat itu. Jantungku berdegup kencang, hingga setiap degupannya dapat kudengar. Cahaya senja mengenai seluruh permukaan kertas itu seolah senja juga penasaran dengan isi surat balasanmu. 

Aku membaca setiap kalimat di surat balasanmu. Aku sangat senang ketika di akhir kalimat dengan tegas kamu mengatakan bahwa kamu bersedia menjadi kekasihku. Namamu beserta paraf terukir indah di pojok bawa surat itu. Ingin aku mengatakan kepada sang senja “kamu lihat kan isi suratnya?” Senja akhirnya pergi di meninggalkanku sendiri di tenda itu, pergi karena malaikat malam mulai mengipas sayapnya di langit angkasa, sedang aku masih terbuai indahnya kata-kata di surat balasanmu.

****
Waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin kita berjalan bersama saat pulang sekolah, di mana matahari senja selalu sirik melihat kita berjalan dengan sangat bahagia yang jarang kita ungkapkan dengan kata-kata. Rasanya seragam putih biru SMP masih terjemur di halaman belakang rumahku. Tapi tentu tidak, kini kita berada di masa yang berbeda. Kita bukan lagi anak SMP yang masih bau kencur. Kini kita telah berkepala dua. 

Kadang waktu memang terasa sangat kejam. Dia bergerak sangat lamban, tapi membuat kita terlena. Dia bergerak secara sistematis dan mengurai segalanya, tapi satu hal yang tak bisa dia hapus dariku, yaitu ingatanku tentang kamu. Tentang cinta pertama. Tentang kekonyolan kita dahulu.

Kamu mungkin lupa, dahulu jika di kala hujan kita berada di bawa atap payung yang sama. Tak terelakkan lengan kita saling menyentuh. Sentuhan lenganmu rasanya lembut sekali, membuat aku selalu ingin agar hujan tak berhenti, hingga sampai diujung jalan itu, di depan rumahmu. Kamu harus tahu, bahwa itu adalah hal teromantis yang pernah kita lakukan. Kita berjalan bersama, namun tak banyak kata yang keluar dari mulut kita berdua. Kita seperti dua orang yang berbicara dalam diam, layaknya berkomunikasi menggunakan telepati.

Di masa yang lain, saat kita SMA kita jarang saling berbagi kabar. Wajah ayu dan senyum tersipumu hanya bisaku pandang di foto yang aku pajang di pintu lemariku. Lebai sekali. Namun itulah cinta. Sewaktu-waktu dia akan mengubah seseorang menjelma menjadi lebai dan alai. Pada poros waktu yang tidak bisa kita rantai, masa-masa SMA pun berlalu begitu saja. Di masa itu tak ada kisah berarti antara aku dan kamu. Kita seperti berada di dunia yang berbeda. Jarak dan waktu telah menempah kita untuk saling tidak peduli. Dari kabar yang bersumber dari angin, kudengar telah banyak lelaki yang pernah menjadi sandaranmu dikala badai kehidupan menerpamu tanpa ampun. Itu tak apa bagiku, karena aku tahu kamu adalah wanita yang pandai menjaga diri. 

Rupanya renggang dalam waktu tiga tahun telah menghapus rasa yang pernah ada di antara kita berdua. Bahkan ketika sudah kuliah kita hanya dua kali bertemu, bercakap dalam telepon pun hanya beberapa kali, dan itu membuat rentang waktu renggang kita semakin lama. Namun meskipun kini kita tak saling memiliki, harus aku akui bahwa terkadang aku masih merindukan kamu. Merindukan hujan yang membuat kita berada di bawah atap payung yang sama dan kita saling bersentuhan lengan. Kita saling merindu. Aku yakin kita saling merindu. Hanya saja kita terjebak pada masa di mana cita-cita yang diprioritaskan dan asmara selalu diabaikan. Tak mengapa, kejarlah mimpimu yang belum jadi mimpiku, karena aku juga melakukan hal yang sama.

Penulis: Eman Jabur
Jurnalis MarjinNews

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,142,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,174,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,51,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,15,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1021,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,89,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,43,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Jalan Kenangan
Jalan Kenangan
https://4.bp.blogspot.com/-7sbvr0TMvU8/W9nLF-jA2fI/AAAAAAAADZ4/a0WPup6d8PsuNaGlq8lsOx_U15v37OvqwCLcBGAs/s320/20181031_233216.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-7sbvr0TMvU8/W9nLF-jA2fI/AAAAAAAADZ4/a0WPup6d8PsuNaGlq8lsOx_U15v37OvqwCLcBGAs/s72-c/20181031_233216.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/jalan-kenangan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/jalan-kenangan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy