Hujan Bulan Oktober, Cerpen Karya Andreas Pengki
Cari Berita

Hujan Bulan Oktober, Cerpen Karya Andreas Pengki

MARJIN NEWS
14 October 2018

Foto: Ilustrasi
Matahari sudah hilang entah kemana, samar-samar seberkas cahaya yang mereka sebut senja nampak jelas di bagian barat tempat Andreas berdiri. Dia salah satu pengagum senja, baginya apapun mahakarya Sang Pencipta adalah indah adanya. Dengan senja dia belajar arti kehidupan. Ternyata di balik semburat cahaya di petang hari nan indah itu ada matahari yang terkapar kepanasan dengan api membakar tubuhnya. Belum lagi dia dipaksa menghilang ditelan bumi, malam yang gelap berwarna hitam merupakan duka sang raksasa dengan bentuk kelewat perkasa.

Senja yang seperti demikianlah potret kegundahan hati Andreas saat ini. Indah dilihat tetapi menyakitkan bagi matahari yang harus dikorbankan untuk sepenggal senja kekaguman kita semua.

Andreas berdiri dengan tatapan kosong. Lelaki berkumis dan berjambang tebal itu sepertinya tengah kehilangan pijakan. Di sudut matanya tampak bongkah-bongkah bak berlian akibat pantulan cahaya lampu jalan di pusat kota. Dia menangis. Sesuatu yang tidak bisa dipercaya dapat dilakukannya dalam keadaan apapun. Aku tahu betul siapa dia. Orasi-orasinya menggelegar seisi kota dalam demonstrasi mahasiswa pergerakan di kota ini. Tulisan-tulisannya bak belati menusuk siapa saja yang menurutnya melakukan kekeliruan. Sekali lagi, sangat sulit dipercaya bahwa lelaki keras kepala seperti dia bisa tumbang seperti pemandangan di depanku saat ini.

Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Sebab tidak satupun bakal percaya bahwa aku adalah hati Andreas yang memilih minggat dari dadanya karena aku tidak tega dia seperti itu. Andreas begitu karena merasa berlumur dosa terhadap diriku, hatinya. Aku pernah patah, meski imunitasku mensyaratkan aku untuk kembali utuh, aku sudah terlampau muak dengan semuanya. Namun, Andreas tidak mau aku seperti itu terus. Dia berjuang mati-matian untuk aku. Beberapa kali dia gagal, namun dia tidak kehilangan harapan. Terakhir, empat bulan lalu dia berhasil dan aku sembuh total. Tidak seberkas darahpun tersisa. Aku benar-benar menikmatinya.

Cerita tadi pagi membuatnya terpuruk dan susah untuk aku bangunkan. Semalam suntuk dia bekerja. Sebagai seorang freelancer, kepuasan klien baginya adalah nomor satu. Waktu aku melirik jam di laptopnya, aku baru sadar dia belum tidur sama sekali sampai jam 7 pagi. Dia akan gila dengan kondisi seperti itu. Memang firasatku benar, dia membuat kekeliruan fatal yang dia sendiri tidak menyadarinya. Respon lawan bicaranya yang sudah mulai tidak bisa dibendung dengan segala keputusasaannya terhadap sikap Andreas selama ini memuncak dengan kata rehat sejenak. Untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Entah sampai kapan. Semoga secepatnya.

Aku kasihan dengan dirinya. Berungkali dia meminta maaf, namun kesalahan tetaplah kesalahan. Masing-masing orang punya tanggapan berbeda dengan semuanya itu. O iya, tadi aku melihat dia mengirim pesan singkat kepada ibunya di kampung. Semoga ingatanku tidak keliru, dia menulis begini:

"Bu, bagaimana kabar orang rumah. Apakah mereka baik-baik saja?. Hari ini, tanpa awan tanpa petir hujan tiba-tiba turun ibu. Hanya aku yang melihatnya turun dengan sangat lebat. Bu, aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu. Sebelumnya aku meminta maaf sekali lagi karena masih belum bisa menjadi anak ibu yang baik. Aku gagal menjaga anak perempuan kesayanganmu. Aku terlampau sering menyakitinya ibu, aku bingung. Ibu sudah tahu, tanpa dia aku bukanlah apa-apa. Aku meminta maaf ibu, aku berdosa kepada ibu karena janji-janjiku dahulu. Peluk aku ibu, bawa aku kembali ke dalam rahimmu. Agar aku lahir bukan lagi seperti diriku yang menjijikkan ini. Ibu..."

Oleh: Andreas P.