Gadis di Prodi Seberang, Cerpen Karya Im Kartini

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Gadis di Prodi Seberang, Cerpen Karya Im Kartini

MARJIN NEWS
17 October 2018

Foto: Ilustrasi
Pada akhirnya aku sadar aku hanya salah satu dari ribuan penikmat kata-kata manismu. Kau menulis untuk semua orang, bukan untuk aku seorang.

***
Namanya Yunarius dan sering disapa Rius. Ia Adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di kampusku.

Hampir setahun ia mewarnai hari-hariku. Rius separuh jiwaku yang kutemukan pertama kali pada selembar kertas lusuh di kamar  sahabatku.

Aku yang tidak terlalu paham dengan bahasa-bahasa pujangga hanya membaca melihat sekilas tulisan itu. Sebagai seorang mahasiswi jurusan matematika kata-kata seperti puisi sekalipun tak pernah  membuatku tertarik. Bagiku mencerna setiap bait puisi lebih sulit dari menghitung luas sayap kupu-kupu dengan konsep Integral.

Tulisan pada kertas lusuh itu hendak aku gunakan untuk menempatkan beberapa angka. Lalu menodainya dengan sejumlah bilangan demi menyelesaikan  tugas kuliah. Tetapi ada sesuatu kekuatan yang tak aku ketahui dari mana asalnya berhasil membuat jemariku berhenti bergerak. Sebuah foto berukuran 4×6 dan berwarna hitam putih itulah yang membuatku enggan untuk mengotori kertas lusuhnya.

Kalau dicermati dari hasil potretnya, nampaknya si pemotret mengambil gambarnya secara diam-diam atau sekadar settingan belaka agar fotonya terlihat candid. Pada foto itu, Ia bergaya seolah sedang memandang ke arah lain sambil memegang dagunya yang ditumbuhi janggut. Hidungnya mancung, senyumnya simpul, lalu ada kehangatan pada matanya, dan aku lupa akan tugas kuliahku. Mataku menjelajah kembali ke atas, melihat judul puisinya, "Gadis di Prodi seberang".

Puisi pertama yang kubaca, walaupun cuma judulnya. Untuk pertama kalinya aku tertarik pada yang namanya puisi. Diam-diam aku melipat kertas itu, memasukkan ke dalam tasku sebelum temanku menyadarinya. Rius, aku mencurimu.

Izinkan aku mengenang lagi, tidak butuh waktu lebih dari dua hari aku telah mengantongi semua hal tentang Rius. Bahkan hingga Alamat fb dan nomor WAnya sudah berada di tanganku.

Kali ini aku kagum dengan kemampuanku sebagai stalker berbakat. Sayangnya kemampuanku hanya berhenti sampai disitu aku tidak pernah berani menghubunginya. Nomornya hanya sebagai penghias di HPku.

Seminggu lamanya aku berperang dengan diriku, dilemma antara menghubunginya atau tidak. Sementara hatiku terus merindu sambil diam-diam menatapnya yang bagai seorang Raja di antara teman-temannya.

Aku selalu membaca berulang-ulang puisi pada kertas lusuh itu. Jangan salahkan aku jika tiba-tiba aku berhalusinasi, bukan!  lebih tepatnya baper. "Gadis di Prodi seberang".

Aku berpikir itu aku. Aku tidak peduli walaupun kampus kami memiliki banyak Prodi. Aku menggunakan segala cara agar gadis di puisi yang dia maksud adalah aku. Kebetulan, Kantor sekretariat Prodi Bindo dan Prodi matematika berseberangan, yeah.. teori kebetulan yang mendukung baperku.

Ada banyak jalan menuju Roma, pepatah ini benar. Akhirnya aku menemukan sebuah cara agar bisa menikmati Rius sebagai kekasihku. Jalan ke Roma itu adalah berlangganan Koran kampus.

Ternyata kertas lusuh itu adalah bagian dari Koran kampus dan Rius adalah salah satu Penulis yang selalu mengisi kolom sastra di sana. Dengan malu-malu aku mendaftarkan diri agar bisa berlangganan koran kampus. Tentu saja diam-diam, takut ketahuan sama teman-temanku.

Sebulan sekali koran kampusku terbit. Setiap Hari sabtu pada minggu pertama adalah Hari yang selalu kunantikan. Setiap koran itu sampai ke tanganku langsung kubuka mencari-cari halaman tempat Riusku berada. Setiap tulisan Rius aku gunting lalu kutempel di dalam buku diaryku. Sedangkan halaman lain Koran itu? Melayang masuk ke tong sampah di samping ruang kuliahku.

Penyakit baperku semakin akut. Bagaimana tidak semua puisi Rius (perasaanku) selalu mengarah kepadaku. Pernah dia menulis puisi tentang betapa menawannya gadis berbaju merah jambu.

Seminggu penuh aku memakai baju merah jambu ke kampus. Tulisan Rius yang lain tentang senyum gadis berlatarkan pohon pucuk merah. Selanjutnya, aku selalu berdiri di dekat pohon pucuk merah, seperti orang gila menebarkan senyuman di situ. Siapa tahu Rius melihatku.

***
Semua kenanganku tentang Rius, hanya sebatas kenangan antara pembaca dan Penulis. Setelah 8 bulan berlalu, kemarin aku mendengar kabar tak terduga. Kabar yang mancabik-cabik kertas koran kolom sastra milik Rius.

Kertas-kertas itu tercabik sia-sia tanpa pernah dia tahu bahwa ada seorang gadis di Prodi seberang yang mati-matian menyimpan rasa. Kenyataanya, Rius menambatkan hatinya pada gadis di Prodi seberang, tetapi bukan aku. Adalah Meri teman seprodiku.

Meri gadis beruntung yang mendapatkan hatimu. Yang aku tahu Meri tidak berlangganan Koran kampus. Yang aku tahu Meri tidak suka puisi atau pun mencoba menyukai puisi. Yang aku tahu juga, Meri tidak harus menjadi gila untuk mendapatkan Rius.

***

Gadis di Prodi seberang, tetapi bukan Aku.

Oleh: Im Kartini