Gadis Pencuri Bulu Mata
Cari Berita

Gadis Pencuri Bulu Mata

19 October 2018

Gambar: Ilustrasi
Kali ini aku kembali menulis. Setelah penaku patah dan rasaku hilang tak bermakna, cerita tentang seorang gadis yang dulu pernah menggenggam hatiku dengan erat membuat aku kembali bersuara. Aku menambal setiap sisa kenangan yang ia tinggalkan dengan sangat rapi. Bukan untuk dibuang, tetapi akan aku simpan dalam sanubari ini.

Bagiku dia tidak pernah benar-benar pergi, dia hanya butuh untuk menenangkan diri dari keramaian. Merenungkan banyak hal; cinta, cita dan harapan. Di antara ketiganya, aku bahkan pernah dan selalu berpikir bahwa selalu ada aku di dalamnya.

Paragraf pertama mungkin terlalu berlebihan dan mungkin bagi kalian yang membaca ini akan menganggap aku sebagai seorang bodoh. Aku menerima apa saja kritik kalian, toh membenci apa yang sudah terlanjur kita lakukan dengan sepenuh hati sama halnya dengan kita tidak mengakui ibu kandung sendiri. Kecuali kalau kita ingin penjadi penghuni neraka abadi. Jujur, ini berat. Namun, bukankah merasakan hal yang berat akan membantu kita bisa lebih kuat?.

Memang, kuat itu tidak selalu bisa membuat kita menang, Daud dalam gambaran Kitab Suci kalian bahkan mampu mengalahkan Goliath meski dia tidak terlalu kuat. Begitulah cinta. Dia selalu sulit untuk diterka. Kuat bisa jadi lemah, lemah bahkan bisa lebih kuat. Membingungkan dan bahkan menyesatkan.

Lantas, apakah aku akan berhenti untuk mencintai? Tidak, karena bagiku; cinta kepadanya selalu abadi. Seperti nyala obor Asian Paragames yang kami bahas semalam suntuk untuk disertakan dalam acara di segmen pagi hari Jumat yang dia bawakan keesokkan harinya.

Kita sudah berbicara banyak hal dari tadi. Aku bahkan sampai lupa menyapa gadisku yang tengah tersenyum sambil menerawang jauh ke sebuah masa, dimana setiap jengkal kisah kami terpatri begitu nikmat, bernilai estetika tinggi ketika membaca bualan tak bermakna ini; “Selamat pagi gadisku, aku mencntaimu”.

Kalian mungkin bertanya-tanya siapa dia yang aku maksud dari tadi. Aku meminta maaf, untuk tulisan kali ini sepertinya akan berbeda. Dia adalah dia yang akan menyebut diriku dalam doanya. Apakah kalian pernah berdoa? Aku pun tidak. Tetapi karena dia, untuk hal sekecil apapun aku selalu tahu bagaimana cara bersyukur. Bukan karena dipaksa atau karena sebuah keharusan, dia selalu hadir dengan caranya sendiri membuat aku selalu merasa terpilih oleh Tuhan untuk merasakan betapa nikmat arti sebuah kebahagiaan.

Dia mungkin tidak menyadari, atau mungkin kaget mengetahuinya. Ini adalah fakta yang aku rangkum dari segenap tambal sulam pena patah itu. Dia pasti akan berpikir ini hanya bujuk rayu agar dia bisa kembali berlabuh. Tetapi tidak. Sekali lagi tidak. Anggap saja ini pengakuan dosa. Tidak ada yang disembunyikan ketika kita berbicara tentang arti sebuah kesembuhan.

Soal kemana layar akan dia bentangkan, aku bahkan tidak punya kuasa menahannya. Aku hanya berharap dia menoleh barang sebentar. Menyadari bahwa ada sesuatu yang harus dia sertakan dalam pelayaran. Ombak terlampau tinggi jika dia hanya berjalan sendirian. Bukan karena dia tidak mampu, dia mampu mengerjakan semuanya. Namanya harapan, dia selalu pandai menghitung untung malang sebuah kehidupan.

Dia adalah si gadis pencuri bulu mata. Seorang yang selalu bisa membuatku menyayanginya dengan sangat mudah, aku bahkan bisa melakukannya berulang kali tanpa pernah merasa bosan. Yang sulit itu bagiku adalah cara untuk menunjukkannya. (EC/MN)