Cinta Pertama Bagian 3
Cari Berita

Cinta Pertama Bagian 3

Marjin News
17 October 2018

(Gambar: ilustrasi)

"Aku mau petik bunga itu, boleh?" tanya Yolanda, menunjuk bunga mawar putih. 

"Silakan."

"Kamu sudah lama bangun rumah kaca ini? Terus kenapa kamu sangat suka menanam bunga?"

"Dari kecil aku suka diajak Nenek. Jadi kebiasaan deh sampe dewasa."

"Aku juga bikin rumah kaca ini sebagai hadiah buat Nenek yang waktu itu ulang tahun."

"Kamu sangat sayang yah sama Nenek kamu?" tanya Yolanda kemudian menghampiri Daniel yang tengah duduk di salah satu sudut ruangan itu.

"Apa perlu aku jawab?" Daniel tersenyum kecil menatap Yolanda.

"Tidak. Aku cuma bercanda. Aku tahu kok jawabannya." Yolanda membalas tatapan Daniel dengan senyuman manisnya.

"Ikut aku yuk!" ajak Daniel menggandeng tangan Yolanda. Ia ingin mengenalkan beberapa jenis bunga favoritnya pada Yolanda.

Rasa peduli satu sama lain sudah mulai tumbuh. Mereka merasa nyaman bahkan seperti tidak ingin kehilangan. Daniel sadar tentang perasaan sayangnya ke Yolanda begitupun sebaliknya. Bagi Daniel, Yolanda adalah orang pertama yang dicintai selain neneknya. Ia merasa banyak hal yang berubah dari dirinya terutama hari-harinya yang tak lagi sepi. Selama ini banyak perempuan mencoba mendekatinya, namun tak sedewasa Yolanda yang paham dengan keadaanya. Walaupun dari luar Yolanda terlihat seperti anak manja, tetapi ia jauh lebih memahami orang lain ketimbang orang itu sendiri.

Setiap sore Daniel selalu mengajak Yolanda ke rumah kaca dan menghabiskan waktu di sana hingga menjelang malam. Di malam hari suasananya semakin indah dan Yolanda suka sekali melihat pemandangan langit malam dari balik atap kaca. Sembari membahas banyak hal yang terkadang sampai tertidur di sana.

"Aku ketiduran?"  Daniel yang sedari tadi memandangi wajah polos Yolanda pun segera memalingkan wajah ke arah lain. Lalu kembali berbalik seolah tidak ada apa-apa.

"Iya. Ini juga udah larut malam, ayo kita pulang."

"Iya, ayo!"

"Haha... Bentar, bentar. Kamu seperti orang keracunan sempoyongan begitu. Sini aku gendong," Daniel menggendong Yolanda menuju rumahnya. Malam itu Yolanda meminta untuk menginap di rumah Daniel.

Pagi pun tiba. Daniel memaksa membuka matanya yang masih sangat ngantuk untuk menengok seseorang di kamar sebelah. Ia harus membangunkannya juga untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.

"Yolan?" Daniel mendapati kasur sudah rapih dan Yolanda tidak ada di kamar itu.

"Apa mungkin dia di dapur ya, atau di taman," gerutu Daniel.

"Daniel! Kamu cari Yolan ya? Dia sudah pamit pagi-pagi sekali." sang Nenek menyapanya dari depan pintu kamar.

"Nenek sudah bangun? Tapi kenapa dia pulang tidak beri tahu aku? Apa dia pulang sendiri Nek?"

"Tidak. Ada supirnya tadi yang jemput."

"Dijemput?" mendengar itu entah kenapa perasaannya jadi tidak enak.

"Kalau begitu Daniel mau ke rumahnya Yolan dulu ya Nek," ia pun segera bergegas untuk memastikan tidak ada apa-apa dengan Yolanda dan firasatnya salah.

Sesampai di sana ia mendapati dua mobil mewah terparkir di depan gerbang, dengan orang-orang berseragam supir berseliweran di sekitarnya. Satu dari dua mobil itu sudah dipenuhi beberapa koper besar. Seperti satu keluarga yang hendak pindah rumah. Ia pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam dengan wajah kucel karena tak sempat mencucinya.

Tak sampai di teras rumah, langkah kakinya terhenti. Ia mendapati seorang gadis cantik yang jelas ia kenal tengah diapit oleh kedua orang tuanya. Gadis itu menatapnya sendu begitupun dengannya.

"Aku minta maaf," Yolanda menghampiri kemudian meraih tangan Daniel. Ia tahu seberapa hancur perasaan orang di depannya karena ia juga merasakan hal yang sama.

"Harus ya kamu pergi tanpa pamit? Setidaknya aku tahu kalau kamu pergi bukan malah biarin aku kebingungan cari-cari kamu"

"Sekali lagi aku minta maaf, aku cuma tidak tahu cara bilangnya ke kamu, karena buat aku pun ini keadaan yang sulit"

"Tapi kenapa mendadak? Dan kenapa secepat ini?"

"Ini permintaan Papa," Daniel menunduk penuh rasa kecewa. Untuk ke sekian kalinya ia harus melepaskan orang yang dicintainya. Seperti saat melepas kedua orangtuanya yang tinggal jauh di sana.

"Nak Daniel. Kami pamit dulu. Terima kasih untuk semuanya ya." sambung mama Yolanda.

Daniel menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Iya, Tanta, Om."

Ia hanya bisa pasrah, orang yang dicintainya pergi. Jelas terasa sakitnya, karena itulah cinta yang pertama kali ia rasakan, sekaligus kecewa yang harus kembali terulang. Benar-benar seperti yang selama ini ada di dalam ingatannya, jika cinta itu hadir bersama luka.

Baca juga:
 Cinta Pertama Bagian 1

Cinta Pertama Bagian 2



Oleh: Heribertus Kandang
Marjinnews.com Makassar