Bercatur dan Mendung Meranum

Foto: Ilustrasi Di sana, di ufuk barat awan-awan berkoalisi. Tidak hanya awan hitam pertanda akan turun hujan. Tetapi juga awan putih. ...

Foto: Ilustrasi
Di sana, di ufuk barat awan-awan berkoalisi. Tidak hanya awan hitam pertanda akan turun hujan. Tetapi juga awan putih.

“Mari kita bercinta. Kita kencan hingga kokok si jago mengetuk telinga. Puaskan dahaga agar aku bunting, lalu partus di hari yang sudah kita rencana bersama malam itu.”

Di sebelah timur, di ubun-ubun rumah, ramainya tak mau kalah. Riuh rendah seru bertalu. Pesta porah. Gemintang berpelukan. Ciuman manja bernuansa persaudaraan pun yang lainnya meranum merah di atas ranjang. Berbagai jurus dipertontonkan. Sesekali berdecah. Hangatnya cinta penuh hasrat tampak di jendela matanya.

“Mari kita bermesraan. Biarlah musim ini berlalu dalam hangat dekapan manja jemari. Aku sayang kamu, Cintya.“

Cintya, anak dara dari desa. Rupawan orangnya. Sungguh memikat hati. Siapa pun yang berani menatap bola matanya, pasti kasmaran. Rumahnya di belakang gunung, bermuka dengan danau berwarna tiga. Kelimutu, namanya.

Cintya baru berkenalan dengan Richardo dua bulan lalu, via Facebook. Namun mereka sudah begitu akur. Laksana sepasang tekukur. Abu-abu.

Sore itu langit sangat berat. Sangat mandung. Wajah cerah langit tak sedikit pun tampak. Mungkin butir-butir kecil dalam rahimnya sedang menari-nari. Benih petani akan berkecambah. Sawah-ladang siap ditanam. Pak tani mulai sibuk dengan pacul di atas bahu.

Di sudut barat, berseberangan dengan sebatang beringin kecil, ada sebuah posko. Mungkin itu tempat anak-anak muda bergadang atau mabuk-mabukan. Biasa melepas penat sehabis berladang. Memetik gitar mendendang lagu ria.

"Begini nasib jadi bujangan. Ke mana-mana, asal kau suka, tiada orang yang melarang. Begini nasib tak punya cewek, boleh bergadang, asalkan tak ganggu janda.” Itulah syair lagu kesukaan mereka setiap sore yang dinyanyikan selepas mandi.

Berbagai lukisan, karya jemari taruna desa berjejer. Lukisan seorang bocah tanpa alas kaki sembari mengacungkan jari, juga ada di sana.
Cintya tak peduli dengan segala pernak-pernik itu. Kini ia tengah asyik menyulam benang-benang sutera di beranda rumahnya.

“Semoga saja cintaku abadi dengan Richardo. Tak pupus setelah direstui sang penghulu. Semoga kelak, Richardo kekasihku itu tak berpikir tuk tinggalkan aku. Syair-syair cinta dari Lebanon tetap menjadi bingkai hati kami berdua.” Batin Cintya.

“Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini akan kukenang selalu. Hatiku damai bila di sampingmu. Hatiku damai...”

Malam itu selepas bulan purnama, Richardo kembali bertandan ke rumah Cintya. Ia meneteng sebuah kantong merah di tangannya.

“Ini tak seberapa. Cukup untuk sekali dua kali minum pagi dan sore.”

Senyum semringah dari wajah Cintya tampak mekar. Tak ada aroma asing tercium dari bibir Richardo. Sangat tulus dari hati. Mungkin benar. Begitulah pengorbanan, demi cinta. Sebuah kerelaan demi cinta.
Cintya sungguh jatuh cinta padanya. Benar-benar jatuh cinta. Aroma cinta yang ‘kan abadi lekat di dada. Ada debur yang menggelora. Ada rindu yang memanah ketika jauh dengannya. Semilir sepoi berembus kecil, lalu membisik “ikatlah pinggangnya dengan sapu tangan merahmu. Biarlah mawar yang baru tanam itu dan aromanya tetap semarak di taman di atas ranjangmu.”

***

Di atas tenda, di bawah pohon bidara, paman dan Bung Erick asyik bercatur. Langit kian mendung. Memang sangat berat. “Buah rahimnya hampir lonjak keluar, sebab sudah lama ia mengandung” kata Aris yang biasa disapa Si Kecep itu yang kebetulan singga setelah menabur benih wortel di ladangnya. Ia Frater tapi orangnya rajin.

Pion maju dua langkah... skak.... raja selangkah ke samping kiri.

Tiba-tiba paman diketahui main miring. Ster... skak.

“Eh paman, kuda bisa lari lurus kah...paman curang ‘kan? Kuda tu lari “L” paman. Curiga ni paman. Sedari tadi pasti paman sering main miring.

Akhirnya ketahuan. Paman, kalau terlalu keseringan itu akan ketahuan. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.” Serga Erick.

“Ah... paman pintar berpolitik. Jangan takut. Kalau  soal politik, paman rajanya. Kalau  semua orang berbuat baik dan tidak ada dosa, surga bisa penuh nanti. Coba jawab, siapa akan jadi penghuni neraka.? Rugi ‘kan Tuhan ciptakan neraka lalu tidak ada yang menghuninya.”

"Syukur kepada Allah” Seri Erick.
“Eh... paman mulai berkhotbah” sambung Erick.

“Kalau lari lurus itu bukan permainan. Itu namanya ular: ular lari lurus. Mungkin mereka yang lain juga demikian ketika bercatur. Kalau bermain itu tak semestinya harus jujur.”

“Hahaha... itu namanya curang, paman. Bagaimana bisa kampung kita akan maju, kalau para pecatur semuanya berbuat curang? Kita akan terus begini. Masyarakat kita akan tetap miskin. Bayangkan, tiga tahun berturut-turut provinsi kita, NTT, menempatkan urutan ketiga sebagai provinsi termiskin di Indonesia. Salah satu penyebabnya, karena manusia NTT yang katanya mau berkiprah gigih untuk memperjuangkan nasib rakyat kecil tidak berlaku jujur. Ditambah lagi praktik korupsi yang semakin marak. Tiga tahun terakhir juga NTT menempatkan urutan lima besar sebagai provinsi terkorup dalam skala nasional.”

Langit kian mendung. Awan-awan hitam tak henti berkoalisi. Mereka bergandengan tangan, lalu berpelukan mesra. Ada pula yang bercinta di sela-sela pekatnya kelam. Ada yang bermufakat membuat kelompok-kelompok kecil.

“Kami siap menyerukan namamu. Kami siap memenangkan kamu pada sayembara nanti. Asal kami diingat setelah kau direstui si penghulu nanti.” Teriakan taruna desa yang setiap petang memetik gitar di tenda itu.

Meski langit kian mendung, bung Erick dan paman tak  henti bercatur. Paman selalu lakukan hal yang sama. Curang.... meski berkali-kali Erick mencoba mencegah caranya bercatur. Seakan tak memberi efek baginya.

“Mungkin otaknya telah dirasuk cara bercatur yang demikian, sehingga trasa sulit dicegah. Tak lama lagi paman ‘kan diadili oleh kubu lawan yang lain.” Erick membatin.

***

Selang beberapa menit kemudian, petir mulai menampakkan batang hidungnya. Tak mau begitu saja, deru guntur bertalu seantero raya. Kini bukan hanya Cintya yang menjadi sasaran ‘pedekate’ si Richardo. Ia juga berkenalan dengan si dara belia dari kampung tetangga. Tapi  Cintya masih setia mencintainya. Syair-syair cinta dari Lebanon tak pupus mesti Richardo tak lagi sering berkencan dengannya seperti biasanya sebelum hujan turun.

“Richardo, aku berharap semoga kau tak melupakan aku. Sepenuhnya aku adalah milikmu. Tak ‘kan mendua hingga maut menjemput. Hari-hariku terasa asing tanpa dirimu. Jiwaku hilang setengah. Lihatlah sekitar, kampungku sangat gelap. Kelam meliputi kolong langit. Bagaikan jalan di kali. Pinggulku sakit kalau bermotor. Bisa-bisa ibu hamil partus di dalam perjalanan, karena jeleknya jalan.” Mata berlinang. Menyesal karena terlanjur termakan rayuan indah olehnya.

“Berjalanlah terus, Richardo. Langit kian ranum. Awan tebal membenteng di ufuk barat, pun timur di ubun-ubun rumahku. Aku tetap jadikan dirimu sebagai tumpuan harap negeriku.” Itulah sepenggal doa Cintya di suatu malam.

Tekad Richardo telah bulat tuk memenangkan sayembara itu. Ini adalah waktunya untuk berpedekate dengan semua orang. Sebab jika hujan telah turun, ia hanya bisa menerima nasibnya. Hitam atau putih, itu adalah nasibnya.

“Richardo, aku tetap mencintaimu. Aku bersedia tuk menangkan kamu saat sayembara nanti. Meski paman telah kedapatan curang dalam bercatur. Aku harap kau tak menepis janji yang kau ukir di atas kanvas malam itu. Ayah dan bundaku tahu kalau aku telah dipinang olehmu, meski belum setubuh.”

“Richardo, separuh jantung dan hatiku ada di telapak tanganmu. Aku tetap merindu buah dari janjimu malam itu. Cinta kita abadi.” Cintya hanya berdoa dari kejauhan.

Sedangkan Richardo berkencan dengan gadis-gadis dara lainnya dari kampung ke kampung demi memenangkan tekadnya ketika sayembara tiba.

Oleh: Aris Nggawi
Penghuni Puncak Keramat (Scalabrini) San Carlos Heights, Cebu, Philiphina;
Komunitas Sastra Djarum Scalabrini

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,231,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,2,Berita,9,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,45,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,157,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,2,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,259,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,6,Kepemudaan,151,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,59,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,7,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,88,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,352,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,22,Pariwisata,25,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,PenaBiru,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,67,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,26,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,7,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Bercatur dan Mendung Meranum
Bercatur dan Mendung Meranum
https://2.bp.blogspot.com/-bYvd6pg6_jc/W7I7zqjosGI/AAAAAAAAC3g/hpIeyY4Y4R8yTdIer6a3TBDDWs96HtW4gCLcBGAs/s320/IMG-20181001-WA0054.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-bYvd6pg6_jc/W7I7zqjosGI/AAAAAAAAC3g/hpIeyY4Y4R8yTdIer6a3TBDDWs96HtW4gCLcBGAs/s72-c/IMG-20181001-WA0054.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/bercatur-dan-mendung-meranum.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/bercatur-dan-mendung-meranum.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close