Arogansi Budaya Patriarki Terhadap Perempuan

Foto: Dok. Pribadi
Sepenggal kisah Srikandi dalam wira cerita Mahabharata menyiratkan betapa terpinggirkannya seorang perempuan dalam pasungan budaya patriarki, baik di belahan Timur dunia maupun di belahan Barat dunia. Perempuan, dalam konteks sebenarnya, tidak diperkenankan mengambil peranan yang lebih banyak sebagai pemimpin, dikarenakan kepemimpinan adalah “mainan” yang hanya bisa dikuasai oleh laki-laki.

Camille Paglia (1990:38), seorang pemikir anti-feminis, menuliskan untaian kalimat di bawah ini ketika ia merenungi peradaban dan perempuan: “Ketika aku melihat seekor burung bangau besar melewati sebuah truk panjang, sejenak aku terdiam dan tertunduk, seperti yang akan dilakukan orang-orang ketika sedang berada dalam ibadah gereja. Konsepsi kekuatan macam apa, kebesaran macam apa, yang dihubungkan oleh bangau-bangau ini dengan peradaban Mesir kuno, ketika arsitektur monumental pertama kali dibayangkan dan dicapai. Apabila peradaban diserahkan ke tangan perempuan, mestilah kita masih tinggal di dalam gubuk-gubuk jerami.”

Baca Juga: Sensitivitas Kaum Muda sebagai Garda Perubahan Bangsa

Pada kehidupan suatu negara jika relasi antara perempuan dan laki-laki masih bersifat asimetris maka bisa dikatakan masyarakatnya masih berada dalam budaya patriarki, yaitu sistem nilai yang menempatkan laki-laki pada tempat yang lebih tinggi dari pada kaum perempuan, dan keadaan tersebut merembes ke dalam pelbagai dimensi yang ada dalam masyarakat, sehingga bukan sesuatu yang berlebihan bila dalam sistem budaya semacam itu kaum laki-laki berada pada pihak yang mendominasi, sementara kaum perempuan berada di pihak yang mengalami penundukan.

Dalam budaya patriarki, penggambaran umum yang acapkali dilekatkan pada laki-laki biasanya adalah kuat, cerdas, agresif, dan efektif. Sedangkan tunduk (submissive), bodoh (ignorant), baik (virtuous), dan tidak efektif merupakan sifat yang dilekatkan pada perempuan. Perempuan acapkali hanya dianggap mampu melakukan pekerjaan rumah tangga/domestik (domestic service) sedangkan laki-laki sebagai pencari nafkah.

Baca Juga: Menata Komunikasi Virtual

Mansour Fakih menyatakan budaya patriarki akan menyebabkan bias gender yang kemudian memicu pelbagai manifestasi ketidakadilan terhadap perempuan. Pertama, terjadi marjinalisasi atau pemiskinan ekonomi. Kedua, subordinasi yang ditimbulkan oleh akses pendidikan yang rendah bagi perempuan. Ketiga, pelekatan stereotip tertentu yang membatasi dan menyulitkan kaum perempuan, seperti perempuan tidak bisa menjadi pemimpin karena pembawaan perasaan atau emosionalnya. Keempat adalah perbedaan peran yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan. Kelima, adalah tindak kekerasan fisik maupun mental terhadap perempuan.

Ketika kemudian budaya patriarki sudah begitu kental tercermin dalam kehidupan berkeluarga,  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dan menjadi sumber pembenaran terhadap sistem distribusi kewenangan, sistem pengambilan keputusan, sistem pembagian kerja, sistem kepemilikan dan sistem distribusi sumber daya yang bias gender, makaperempuan pun mengalami penindasan sehingga kemudian akan menjadi entitas yang miskin dalam ekonomi, dan juga tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam menyuarakan hak-haknya.

Baca Juga: Caleg Perempuan Masih Rawan Gagal pada Pemilu 2019

Di Indonesia, lemahnya posisi tawar yang dimiliki  perempuan dalam mewujudkan jati dirinya, pun terbaca jelas dalam komposisi perempuan yang menduduki jabatan publik, baik pemerintahan, legislatif, maupun jumlah tenaga profesional. Lantas apakah Srikandi-srikandi ini dapat menjadi pahlawan tanpa merubah jati diri keperempuanannya? Apakah perempuan dapat memimpin dengan baik di tengah era globalisasi yang padat dengan perubahan-perubahan yang demikian cepat? Berbagai penelitian, jurnal, dan buku sudah dihasilkan terkait kelebihan kualitas  kepemimpinan perempuan.

Di dalam penelitian tersebut beberapa pertanyaan mendasar yang acapkali ditanyakan dalam penelitian-penelitian tersebut adalah: (a) apakah laki-laki dan perempuan memiliki perilaku yang berbeda dalam kepemimpinan; (b) apakah perempuan mendapatkan penilaian yang tidak berpihak baik sebagai pemimpin maupun sebagai calon pemimpin yang berpotensi; dan (c) apakah
kepemimpinan perempuan akan jauh lebih efektif dan sesuai kebutuhan organisasi
daripada kepemimpinan laki-laki.

Baca Juga: Pasca Wisuda, Kelompok Milenial NTT Kemana? Bagian I

Perilaku Perempuan Dalam Kepemimpinan
Anggapan umum mengenai kebanyakan perempuan adalah acapkali mereka merupakan seseorang yang ragu, bimbang, bingung akan tujuan-tujuan mereka dalam hidup, dan menunggu dipilih atau disadari keberadaannya oleh pria. Mereka tidak suka mengambil risiko dan mereka menjadi gelisah dalam situasi di mana mereka tidak mengetahui banyak hal. Jika demikian, bagaimana bisa perempuan menjadi pemimpin?

Bukankah sifat-sifat seperti itu bertentangan dengan sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu seseorang yang bertanggung jawab, menetapkan tujuan, mengambil risiko, dan membuat keputusan? Apakah perempuan memiliki perilaku yang berbeda dengan laki-laki dalam hal memimpin?

Baca Juga: Sabda Bela Negara dan Elektabilitas

Psychological Bulletin Vol. 129 No. 3 melaporkan bahwa berbagai penelitian dalam kepemimpinan mengungkapkan bahwa pemimpin perempuan umumnya mempraktekkan prinsip kepemimpinan transformasional. Ciri utama kepemimpinan yang transformasional adalah berorientasi pada masa depan daripada masa kini, dan memperkaya penguatan organisasi dengan menginspirasi komitmen dan kreativitas para pengikutnya.

Pemimpin transformasional membangun reputasinya sebagai teladan dengan mengerahkan upaya untuk mendapatkan kepercayaan dari para pengikutnya. Pemimpin transformasional juga memperjelas gol masa depan, mengembangkan rencana untuk meraih gol tersebut, dan berinovasi bahkan ketika organisasi mereka pun sedang dalam kesuksesan. Pula dengan melakukan mentoring dan pemberdayaan para pengikutnya, pemimpin seperti ini akan menolong pengikutnya untuk
mengembangkan potensi agar dapat memberikan kontribusi lebih efektif lagi pada organisasi.

Baca Juga: Birokrasi Penyangga Kapitalis (Me)

Pemimpin perempuan umumnya lebih berorientasi pada pengikut atau pendukung, dan memberi kesempatan kepada orang-orang yang mereka pimpin untuk menyatakan pendapat dan memberi masukan. Para pemimpin perempuan ini juga melakukan berbagai upaya untuk pengembangan diri. Selain memberdayakan pengikut mereka, para pemimpin perempuan lebih banyak yang bertindak sebagai mentor daripada sebagai “bos”. Pemimpin perempuan memberi petunjuk dan bimbingan yang diperlukan kepada para pendukung untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan.

Selain bertindak sebagai mentor, para pemimpin perempuan juga cenderung untuk memimpin dengan
memberi teladan kepemimpinan pada para pendukung melalui sikap dan tindakan mereka. Jika mereka menginginkan disiplin untuk diterapkan oleh anak buah, maka mereka pun akan menunjukkan sikap disiplin, jika mereka ingin agar anak buah bersikap jujur dan terbuka, mereka pun akan memberikan teladan yang sama.

Baca Juga: Korupsi dan Buruknya Moral Elit

Mereka pun acapkali memberi penekanan tentang membangun nilai tambah dalam organisasimelalui partisipasi semua elemen yang ada di dalam organisasi atau perusahaan. Dan juga dalam mereka memimpin bawahan mereka, selalu bukan dalam konteks bawahan ataupun pengikut, tetapi sebagai rekan kerja. Tidak seperti para pemimpin dalam organisasi secara hirarkis terstruktur, pemimpin perempuan pada umumnya tidakmelihat kewenangannyasebagai kekuasaan.

Mereka tidak menganggap diri merekasebagai orang yang superior secara kedudukan formal. Ini juga terjadi  bahkan ketika mereka menemukan diri mereka dalam posisi kepemimpinan yang paling tinggi dalam hirarki organisasi. Tidak seperti laki-laki yang cenderung transaksional yang menganggap kepemimpinan sebagai sebuah rangkaian transaksiantara manajer dan karyawan, promosi atau kenaikan gaji berdasar performa, penurunan pangkat atau PHK karena kinerja yang buruk, para pemimpin perempuan melihatkepemimpinan sebagai proses yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Teknologi dan Pengaruhnya Terhadap Moral Anak Bangsa

Mereka membayangkan diri sebagai pemimpin tim; sebagai sumber inspirasi dan bukannya direktif;sebagai partisipatif dan bukan sebagai hirarki. Mereka pun bekerja dalam koordinasi dan menyeimbangkan kepentingan mereka dan karyawan mereka, lalu mengubahnya menjadi satu tujuan
perusahaan.

Kepemimpinan para perempuan umumnya diarahkan pada perubahan. Tekanan sosial, budaya, dan ekonomi mendorong perempuan untuk menunjukkan prestasi dua kali lebih besar dari pada para pria, untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat sekitar. Para wanita seringkali harus mempersembahkan solusi yang luar biasa, yaitu yang membawa perubahan signifikan bagi lingkungan mereka, untuk dapat diakui sebagai pemimpin.

 Dengan demikian, mereka memotivasi para pendukung dan orang-orang di sekitar mereka juga untuk bersama-sama menciptakan perubahan bagi lingkungan tempat mereka berkarya. Mereka memotivasi para pendukung untuk senantiasa mencari alternatif dan ide-ide segar yang inovatif.

Baca Juga: Demokrasi Mayoritas Vs Minoritas

Banyak penelitian yang mengungkapkan juga bahwa umumnya pemimpin perempuan bertindak dan mengambil keputusan terutama karena didorong oleh prinsip yang diperjuangkan, bukannya oleh kekuasaan yang diraih. Mereka menunjukkan semangat yang tinggi dalam mempertahankan dan memperjuangkan prinsip yang mereka pegang. Penjara, penyakit, penolakan, cercaan, kegagalan, dan tekanan dari pihak oposisi tidak memupuskan semangat juang mereka.

Tidak heran jika mereka memiliki daya tahan yang lebih lama dan toleransi yang lebih tinggi atas krisis dan masalah yang  mungkin harus mereka hadapi dalam menjalankan tugas mereka. Misalnya: Ibu Theresa, pejuang hak-hak kaum papa, dan Benazir Bhutto, pemimpin dari Pakistan menunjukkan

semangat tinggi dan ketahanan yang kuat terhadap masalah dan tekanan karena tindakan mereka didorong oleh prinsip yang mereka perjuangkan. Margaret Thatcher, Mantan Perdana Menteri Inggris, juga mengatakan bahwa untuk memenangkan sebuah perjuangan, seringkali kita harus bertarung lebih dari satu kali. J.D. Yoder salah satu peneliti hubungan gender dan kepemimpinan menyatakan gaya kepemimpinan yang transformasional, ternyata banyak ditemukan pada manajer-
manajer perempuan. Ini disebabkan karena perempuan memiliki kemampuan androgini.

Baca Juga: Menjaring Pengetahuan

Androgini adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan pembagian peran yang sama dalam karakter maskulin dan feminin pada saat yang bersamaan. Istilah ini berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu ανήρ (anér, yang berarti laki-laki) dan γυνή (guné, yang berarti perempuan), yang dapat merujuk kepada salah satu dari dua konsep terkait tentang gender. Artinya pencampuran dari ciri-ciri maskulin dan feminin, baik dalam pengertian fesyen, atau keseimbangan antara "anima dan animus" dalam teori psikoanalitis.

Pada umumnya, ciri-ciri pemimpin dalam setiap organisasi sebagian besar dihubungkan dengan sifat yang jantan, yaitu tegas, keras, tidak kenal kompromi, rasional, mandiri dan sebagainya. Dan kesemuanya itu merupakan sifat kepemimpinan dari laki-laki.

Sedangkan kepemimpinan bagi perempuan yang paling cocok adalah kepemimpinan androgini, yaitu pemimpin yang memiliki sifat-sifat feminin, lembut dan sabar dari perempuan dan sifat-sifat maskulin seperti tegas dan jantan, yang baik dalam menjalankan tugasnya.Sifat-sifat seperti tegas dan jantan, lembut dan sabar sebenarnya dimiliki baik oleh laki-laki maupun perempuan meskipun dengan porsi yang berbeda. Namun, bila ditempatkan dengan seimbang akan menciptakan pemimpin yang baik dan sukses. Dengan kemampuan untuk menyeimbangkan sifat-sifat tersebut maka  diharapkan perempuan akan mampu untuk memimpin.

Baca Juga: Perempuan, Ekologi dan Pigor di Warkop Petra

Meskipun masih menjadi perdebatan apakah perempuan merupakan pemimpin yang lebih baik ketimbang laki-laki, dan sebaliknya—karena gaya dan perilaku kepemimpinan seseorang tidak bisa dilepaskan dari pengalaman yang bersangkutan, tetapi karakteristik dasar perempuan lebih  menunjang pada pola kepemimpinan yang transformasional yang ternyata cocok dengan konteks globalisasi.

Pemimpin perempuan umumnya cenderung untuk lebih berorientasi pada pendukung, dengan  memberdayakan para pendukung, dan memberi kesempatan kepada orang-orang yang mereka pimpin untuk menyatakan pendapat dan memberi masukan. Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa ada kesamaan natur perempuan yang secara alamiah terpanggil untuk mengasuh (nurture), memberi dukungan (supportive), dan penuh perhatian (considerate) terhadap citra pemimpin yang melayani, yang dibutuhkan oleh perusahaan atau organisasi yang ingin bertahan di tengah perubahan era globalisasi yang brutal.

Oleh: Mario Yosryandi Sara
Anggota PMKRI Cabang Kupang Angkatan Pembaharuan

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,204,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,403,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1040,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,49,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Arogansi Budaya Patriarki Terhadap Perempuan
Arogansi Budaya Patriarki Terhadap Perempuan
Camille Paglia (1990:38), seorang pemikir anti-feminis, menuliskan untaian kalimat di bawah ini ketika ia merenungi peradaban dan perempuan: “Ketika aku melihat seekor burung bangau besar melewati sebuah truk panjang, sejenak aku terdiam dan tertunduk, seperti yang akan dilakukan orang-orang ketika sedang berada dalam ibadah gereja.
https://3.bp.blogspot.com/-oi3HZpvvYE0/W9iWTff9fUI/AAAAAAAAB64/_8uGXSO9OqIWTFBByp0EFzeSkp7eOPq_ACLcBGAs/s320/Yosryandi%2Bmarjinnewscom.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-oi3HZpvvYE0/W9iWTff9fUI/AAAAAAAAB64/_8uGXSO9OqIWTFBByp0EFzeSkp7eOPq_ACLcBGAs/s72-c/Yosryandi%2Bmarjinnewscom.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/10/arogansi-budaya-patriarki-terhadap-perempuan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/10/arogansi-budaya-patriarki-terhadap-perempuan.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy