Aku, Dia dan Malam Ini
Cari Berita

Aku, Dia dan Malam Ini

MARJIN NEWS
28 October 2018

Foto: dok.Pribadi

Cita-citaku dari dulu adalah menjadi seorang penulis. Seperti malam sebelumnya aku duduk di depan meja belajar ditemani segelas kopi. Tetapi seperti biasa juga, kertas di depan mataku ini masih kosong. 

Kadang-kadang tulisanku tak menemui ujung. Kertas-kertas hanya dibubuhi satu dua kata yang tidak jelas dan tak bermakna. Pada akhirnya kertas dan tinta penaku hanya menjadi dua hal yang berjauhan dan tak saling mengenal. 

Sesaat sebelum aku mulai mencoba lagi untuk menggoreskan tinta pada telapak kertas putih malam ini, tiba-tiba ponselku berbunyi, tanda sebuah pesan masuk.

"Kak, apa kabar???" sapa Aurelia dalam sms. 

Aurelia adalah gadis bermata senja yang sering mampir. Dia cantik, kulitnya putih dan berambut panjang juga memiliki senyum simpul yang sangat manis.

Aku mengenalnya dalam sebuah pertemuan di suatu senja, saat matahari mengayun lambat di belahan bumi barat. Kami bercerita tentang banyak hal saat itu. Aku yang awalnya sering hemat dalam berkata tiba-tiba menjadi seorang yang komunikatif, kata-kata sering meluncur tanpa bisa direm. 

Itu terjadi karena aku tertarik melihat senyumnya yang manis, yang kemudian aku menyadari satu hal, aku menyukainya saat itu juga.

"Malam juga dik, saya baik di sini hanya saja saya rindu pada matamu itu", jawabku sekenanya. Siapa tahu malam ini akan berakhir sempurna, seperti anganku selama ini bahwa kami bisa menjadi sepasang kekasih.

"Ah...kakak ini, ada-ada saja. Sedang apa sekarang?" Lanjutnya.

"Aku sedang duduk menikmati musik" jawabku berbohong, takutnya dia akan menyuruhku melanjutkan pekerjaan tulis menulis yang tak pernah usai itu.

"Kakak tidak ada kerja ka? Tiap malam kalau ditanya selalu menjawab sedang mendengar musik!!!" 
Cengengesan aku dibuatnya, perhatian sekali nona cantik ini, ingin sekali aku menghabiskan malam ini hanya dengannya tapi aku sadar dia bisa menghilangkan kapanpun dia mau sebab aku ini hanyalah seorang temannya. 

Banyak hal yang kami perbincangankan malam ini, yang kemudian secara berlahan menyeretku sampai pada keputusan untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

"Dek, bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?" Sambil berharap dia akan menjawab ya, aku menunggu dengan gusar.

Lama sekali dia menjawab, meskipun itu sebenarnya hanya sekitar tiga atau empat menit, maklumlah kalau kita sudah sering berbicara dengan seseorang yang kita suka, pasti inginnya dia membalas dengan cepat juga.

Kemudian muncul jawabannya pada layar hp yang sengaja kubiarkan menyala terus pada kotak pesannya, "tentu saja boleh kak sayang". 

Asyik gumanku dalam hati, mungkinkah ini bisa menjadi tanda yang tepat bahwa ia juga memiliki rasa yang sama. 

"Kak sayang ingin bertanya tentang apa?" Lanjutnya dalam pesan singkat itu. Cepat-cepat kutekan tombol replay, dan mulai menulis.

"Dek, aku hanya ingin bertanya tentang hatimu. Sudah adakah seseorang yang menghuninya? Kalau masih kosong aku ingin menempatinya. Setidaknya aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi, bukan lagi menjadi kakakmu yang sering hilang dan muncul. Aku ingin berada bersamamu, menemanimu dalam sedih ataupun bahagiamu, menjadi tempat di mana engkau bisa bercerita dengan bebas, menyampaikan keluh kesah dan segala ekspresi bahagiamu. Aku ingin kau juga menjadi tema dalam hidupku. Teman yang bisa kurangkai dalam judul-judul kecil, yang kemudian bisa berubah bentuk dalam bait-bait puisi yang sering kutuliskan dalam bukuku. Aku ingin, begitulah", tulisku.

Tetapi, itu belum usai aku masih mencari kata-kata yang tepat lagi, kubongkar semua kosa kataku tapi tak juga kutemui kata yang kurasa cocok untuk melanjutkan ungkapan rasa ini, kursor pada kotak pesan di hpku masih menanti dengan setia, aku ingin.

Ah kenapa susah sekali untuk melanjutkannya, atau ku kirim saja. Bukannya dia itu wanita yang sederhana yang tidak suka dengan hal-hal yang berbelit-belit. Tidak, tidak boleh seperti ini. Ini terlalu mengawang, kemudian dengan cepat kutekan tombol delete dan menghapus semua pesan itu.

Ku ubah  gaya bahasaku menjadi lebih sederhana dan kutulis begini, "dek maukah engkau menjadi pacarku?" Lalu cepat-cepat kutekan tombol send, pesannya melesat dengan cepat, terbang mengawan dalam jaringan, berjumpa dengan berbagai pesan lainnya dan berlomba-lomba supaya cepat sampai pada si penerima pesan.

Aku mulai menunggu jawabannya di depan layar hp sedang waktu sudah menunjuk pukul 11.00 p.m.

Satu menit berlalu, dua menit dan menit-menit yang lain menyusul, tak ada jawaban. Aku masih menatap layar hp yang tiba-tiba mati. Cepat-cepat kutekan tombol on supaya layarnya tetap menyala. Tapi masih juga lenggang, hp menjadi bisu, malam semakin menunjukkan kelamnya, terasa ngeri, tak seperti tadi yang begitu sibuk juga malam-malam lain yang tetap terasa ramai meskipun hanya ditemani segelas kopi dan kusadari mungkin dia sudah tertidur di ujung topik malam ini.

Ah sudahlah mungkin malam belum berpihak padaku. Aku ingin berteriak malam ini, mengekspresikan kegusaranku. Tapi otakku masih berpikir logis, nanti bisa-bisa orang sekampung malah terbangun. Dengan sedikit tekanan, aku memilih diam dan mencoba kembali lagi kepada hidupku. 

Setelah ku perhatikan meja belajarku, ku sadari bahwa ada kertas kosong yang menjadi alas hpku sedari tadi, sedang penanya menganggur di sudur meja. Aku mengambil pena itu dan mulai menulis tentang sebuah cerita. Kata-kataku tiba-tiba mengalir dengan deras, seperti malam yang tiba-tiba berlalu dengan cepat. Kulirik jam pada hpku yang masih diam, sudah pukul 01.00 a.m.

Aku sudah mampu menyelesaikan sebuah cerita malam ini.Aku kembali pada cita-cita menjadi penulis, meskipun ceritaku yang lain belum mulai untuk kutulis. Cerita pertamaku itu adalah cerita yang sedang anda baca saat ini.

Penulis: Eduardus R. Dolo
Mahasiswa di STFK Ledalero