Yohanes, Perawat Asal Ruteng yang Kerja di Negeri Arab: Mencoba Berpikir Terbuka
Cari Berita

Yohanes, Perawat Asal Ruteng yang Kerja di Negeri Arab: Mencoba Berpikir Terbuka

MARJIN NEWS
7 September 2018

Foto: Istimewa
Ruteng, Marjinnews.com -- Jagad Maya kembali dihebohkan oleh postingan lama Facebook bernama Indonesian Nursing Trainers.

Laman Facebook ini mempublish curahan hati dari seorang perawat yang diduga bersal dari Manggarai, Flores, NTT bernama Yohanes Fadli. Berikut adalah Curhat Perawat Yohanes yang ditulis laman FB ini.

“Dari awal kuliah aku sudah memimpikan untuk kerja di luar negeri. Tidak peduli mana negaranya. Yang penting, ke luar negeri dulu. Dan Puji Tuhan, itu terwujud.

Namaku Yohanes, berasal dari Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT), dibesarkan dalam keluarga Katolik. Kuliah di sebuah kampus Stikes Wira Husada  di Yogyakarta. Lulus pendidikan Skep Ners tahun 2014 lalu.

Karena tekadku yang besar dan syukur mendapatkan dukungan orangtua, aku lalui semua proses panjang untuk berangkat ke luar negeri dengan sabar. Aku tahu tidak mudah. Mulai dari biaya, persiapan bahasa Inggris, pengalaman, hingga dokumen. Semua butuh persiapan tidak mudah. 

Itulah barangkali alasan utama, mengapa jarang teman-teman perawat yang tidak sabar mengikutinya. Tujuannya untuk ke luar negeri sering kandas. Teman-teman inginnya cepat dan enak serta dapat gaji mapan. Padahal, tidak demikian kenyataannya. 

Dari kampus ku saja, sepertinya hanya aku yang berangkat. Yang dari NTT, juga bisa dihitung cuman satu dua orang. Rata-rata teman-teman mundur dari awal. Misalnya, dari segi bahasa saja sudah knocked down. Padahal, bahasa ini, tidak sesulit yang kita bayangkan. Hanya saja, memang kita butuh waktu dan ketekunan. 

Orangtuaku juga dari keluarga sederhana. Karena itu, sambil kerja di Jakarta, aku ikuti tahap demi tahap untuk kerja di luar negeri, sambil juga menabung guna meng-cover biayanya, yang bagi kami tidak kecil.

Thanx God, peluang itu tiba. Aku ikuti proses seleksi untuk kerja di Unit Hemodialisa sebuah hospital degan managemen Canada di sana. Tidak banyak perawat Indonesia yang kerja bersama kami. Hitungannya hanya belasan orang. Selebihnya, seperti diketahui, mayoritas orang Filipina dan India.

Selama ini, banyak sejawat kita yang salah persepsi tentang keragaman professional yang kerja di Saudi. Bahwa hanya orang Islam yang kerja di sana. Khususnya bagi teman-teman non-muslim di Indonesia. Nyatanya tidak demikian.

Rekan-rekan asal Filipina rata-rata Katolik, seperti aku. Yang dari India juga kebanyakan Hindu dan Kristen. 

Jadi tidak benar, bahwa non-muslim sulit atau susah untuk kerja di sana. Memang, untuk kerja di Madina dan Makkah, dua kota Suci tersebut wajib Islam, namun selebihnya, tidak. Lagi pula, di tempat kerja kami, tidak pernah ada isyu tentang agama atau kepercayaan ini. 

Aku sangat bersyukur dengan lingkungan kerja ini. Teman-teman yang luar biasa cara pandang, wawasan serta kekayaan budaya yang mereka miliki, menambah nilai plusku sebagai professional muda asal Indonesia. 

Aku ingin di Saudi sebagai batu loncatan. Karena itu, belum juga dua tahun kerja di sana, aku balik ke Indonesia, mengikuti seleksi persiapan program G to G ke Qatar, negara petro dollar yang menawarkan kehidupan kami agar lebih baik. 

Kalau mau tanya hasil dari Saudi untuk apa, well……aku sempat perbaiki dapur rumah kami, aku bisa beli sedikit lahan, bisa bantu adik serta sepupu. Sungguh, kebanggaan yang luar biasa. Tentu saja HP dan Laptop baru. 

Hahahaha……..

Lewat kesempatan ini aku ingin sampaikan pesan kepada generasi muda keperawatan yang susah mencari kerja, khususnya non-muslim. Cobalah lebih terbuka dalam berfikir. Raihlah peluang besar luar negeri, yang sebenarnya jauh lebih gampang ketimbang ngejar PNS di negeri ini. 

Sosok seperti Bapak Syaifoel Hardy merupakan contoh bentuk kepedulian terhadap profesi yang jarang kita temui, yang dari beliau anda bisa konsultasi. Walaupun aku tidak pernah dilatih atau jumpa beliau, namun pesan-pesan yang disampaikan lewat medsos, sarat akan mulianya tujuan beliau, dalam mendorong kemajuan kesejahteraan perawat Indonesia, lewat program kerja di manca negara.

Akan halnya kampus, memang selama ini kampus banyak yang belum memiliki program terstruktur tentang penjemputan peluang kerja di luar negeri. Ke luar negeri, bukan sekedar pintar bahasa Inggris. Akan tetapi, ada bekal lain yang perlu disiapkan jauh lebih awal, seperti pembuatan CV, persiapan interview, Prometric Test Overview, Transculural Nursing hingga job searching technique. Jika materi ini diberikan sebelum wisuda, betapa sangat beruntung nasib generasi muda keperawatan kita sebelum kerja. 

Lulus Ukom dan STR, nyatanya tidak cukup untuk menghadapi ketatnya persaingan masuk universitas kehidupan. 

Aku, sebagai perawat muda, bangga menjadi warga Indonesia, dari NTT, Katolik, dan bisa kerja di Saudi Arabia.”

Ruteng, 7 Sept 2018
Seperti yang disampaikan Yohanes Fadli, Ruteng-NTT, kepada
SYAIFOEL HARDY. (*)

Editor: Remigius Nahal