Warga Satar Mese Utara Protes PLN
Cari Berita

Warga Satar Mese Utara Protes PLN

MARJIN NEWS
1 September 2018

Foto: MarjinNews
Ruteng, Marjinnews.com --Penebangan sepihak terhadap tanaman milik warga Gulung, Satar Mese Utara yang dilakukan oleh PLN untuk penyaluran arus listrik ke beberapa wilayah di Satar Mese Utara berbuntut panjang.

Warga yang merasa dirugikan itu pun pada hari ini Sabtu (1/9) memasang plang di areal penebangan itu agar PLN menghentikan segala bentuk pengerjaan listrik di wilayah tersebut.

Kepada MarjinNews, Yohanes Deme menjelaskan bahwa pihaknya meminta agar PLN tidak boleh melakukan pengerjaan sebelum masalah penebangan sepihak oleh PLN itu kelar.

Sebelumnya, Yohanes Deme  yang merasa dirugikan akibat tindakan PLN itu melakukan aksi protes ke Camat Satar Mese Utara.

Warga asal Tampar, Desa gulung, Satar Mese Utara itu merasa dirugikan dan keberatan terhadap tindakan yang dilakukan oleh PLN.

"10 tahun lebih yang lalu orang tua kandung saya sudah menanam beberapa jenis tanaman seperti nangka dan mahoni. Sekarang tahun yang ke 11 tanaman itu sudah tumbuh menjadi pohon yang besar. Belum saatnya untuk dipanen atau dipakai atau digunakan, tiba-tiba secara sepihak PLN melakukan penebangan dengan alasan untuk kepentingam umum untuk masyarakat yang membutuhkan penerangan listrik," terangnya kepada MarjinNews pada Jumat (31/8) malam.

Atas keberatan itu pihak Yohanes Deme kemudian melaporkan PLN ke Kepala Desa Gulung sebagai kepala wilayah dari tempat kejadian itu dan juga ke pihak kecamatan sebagai kepala wilayah Satar Mese Utara, namun hingga sekarang belum ada tindak lanjut.

Salah satu anggota keluarga Yohanes Deme, yaitu Odi Jemat bahkan sudah mendatangi langsung ke pihak PLN.

"Jawaban sementara PLN yaitu akan mengganti rugi semua tanaman yang ditebang," terang Yohanes.

Lanjut Yohanes, "tetapi pihak PLN memberi catatan, penyelsaian dengan cara mediasi di kecamatan yaitu oleh Camat Satar Mese Utara," ujarnya.

Atas informasi tersebut Yohanes Deme sebagai pemilik tanaman yang ditebang sepihak oleh PLN itu untuk sementara menyatakan setuju.

"Selaku pihak yang dirugikann untuk sementara kami menerima usulan itu. Jika kemauan PLN menjadikan pihak camat sebagai mediator," ujar Yohanes.

Tetapi  Yohanes Deme juga merasa belum puas karena waktunya tidak jelas, kapan mediasi itu akan dilaksanakan.

"Sejak Kamis pengaduan kami sampai hari Senin proses mediasi itu tidak terealisasi," ujarnya.

Pihak Yohanes pun berencana akan melaporkan masalah ini ke pihak kepolisian, jika mediasi itu tidak terealisasi.

"Selaku ahli waris dari pemilik tanaman yang ditebang sepihak oleh PLN itu, kami siap lapor ke Polisi jika proses mediasi tidak kunjung terealisasi," tutupnya. (*)