Sidang Penculikan Bule Bulgaria, Begini Keterangan Saksi Korban
Cari Berita

Sidang Penculikan Bule Bulgaria, Begini Keterangan Saksi Korban

MARJIN NEWS
28 September 2018

Foto: Istimewa
Denpasar, Marjinnews.com -- Proses persidangan kasus penculikan terhadap warga Bulgaria bernama George Jordanov kembali bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar.

Pada Kamis (27/9) tiga terdakwa warga negara asing dan empat warga lokal kembali dihadirkan untuk mendengar keterangan saksi korban.

Mereka ialah, Kahraman asal Turki; Thomir Asenop Danaelov alias Toni asal Bulgaria; Kemal Kapuci asal Turki; Yusuf Efraim Kiuk asal Baubau; Deti asal Singkawang; dan Justen Jorans Kapitan alias Justin asal Kupang.

Pada sidang kali ini, dipimpin oleh Ketua hakim IG Partha Bargawa didampingi hakim I Made Pasek dan Ida Ayu Adyana Dewi,

Selanjutnya, ketua hakim IG Partha Bargawa memberi kesempatan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eddy Arta Wijaya untuk bertanya kepada saksi korban.

Pada kesempatan itu, Jaksa Eddy menegaskan kembali keterangan saksi korban sesuai Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan menunjukan sejumlah alat bukti.

Goerge menceritakan awal kejadian penculikan tersebut. "Saat itu saya berada di Mcdonal (di Jalan Dewi Sri, Kuta, Badung). Lalu, saya menyebrang jalan menuju ke mini market untuk membeli rokok. Ketika saya keluar dari mini market, salah satu dari mereka (terdakwa Ken) mendekati saya dan menyanakan apa yang kamu lakukan disini, dan langsung memukul saya," katanya.

Goerge juga mengaku, bahwa yang memukul dirinya lebih dari satu orang dan tidak sempat melawan. "Saya tidak tahu siapa yang pukul karena saya menuntup wajah saya dengan tangan. Saat itu saya juga sempat lari, tapi ada yang menarik tas saya sehingga saya terjatuh," akunya.

Dalam kesempatan yang sama, terungkap juga kesadisan para terdakwa saat saksi korban di sekap dalam kamar kos di Jimbran. Mulai diikat pakai kabel, tangan diborgol hingga dipukul pakai palu. Bahkan, terdakwa Justin memukul saksi korban sampai gigi rotok.

"Karahman memukul saya, sulit saya jelaskan karena banyak yang dia lakukan ke saya," kata Goerge. Jaksa Eddy juga menunjukan palu yang digunakan para terdakwa untuk memukul saksi korban. "Palu itu digunakan untuk memukul lutut sya tapi saya tidak ingat beberapa kali, yang saya ingat pemilik rumah yang hentikan," katanya.

Selain itu, saksi korban juga mengaku jika yang melapor ke Konsulat Bulgaria bukan dirinya tapi temannya. Pelaporan itu karena salah satu terdakwa WNA asal Turkey menelpon teman saksi korban untuk minta uang tebusan sebsar 2000 euro. "Mereka mengambil handphone saya, lalu salah satu dari mereka menelpon menelpon teman syaa meminta uang tebusan 2000 euro," katanya.

Sementara saat ditanya oleh penasehat hukum para terdakwa, Edwin Siregar dan Tim, saksi korban banyak menjawab tidak ingat.

Namun saat ditanya kenapa tidak sempat melawan atau berteriak minta tolong pada saat disekap di kamar. Saksi korban mengaku merasa tertekan dan diancam mengunkan senjata api. "Saat itu Ken menunjukan senjata," kata Goerge. "Anda yakin ke menunjukan senjata?" tanya PH, "Iya,saya yakin" sambil menirukan gerakan Ken.

Namun hampir semua keterangan saksi korban ini dibantah oleh para terdakwa. Bahkan salah satu terdakwa, Kharahman, meminta majelis hakim atau penuntut umum mengecek status saksi korban di Konsulat Bulgaria. "Tolong cari tahu keberadaan saksi  ini di kedutaan besar karna dia  ini pelaku kriminal. Dia sudah beberapa kali masuk penjara," kata Kharahman. Hanya tudingan terdakwa Kharahman itu langsung dibatah ketua Hakim, karena bukan bagian dari perkara ini. "Itu silakan dimasukan ke dalam pembelaan nanti," kata ketua hakim Partha Bargawa.

Dalam dakwaan sebelumbmnya JPU dari Kejati Bali, mendakwa para terdakwa dengan dakwaan alternatif.  Dakwaan pertama, para terdakwa diduga melakukan tindak pidana penculikan yang diatur dan diancam dalam Pasal 328 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal delapan tahun.

Sedangkan dakwaan kedua atau yang terakhir, mereka diduga melakukan penyekapan yang ketentuan pidananya diatur dalam Pasal 333 ayat (1) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan lama ancaman hukumannya sama dengan Pasal 328. (*)

Editor: Remigius Nahal