Rensi Ambang Ditahan, Keluarga Eky Masih Tidak Puas dengan Kinerja Polres Manggarai
Cari Berita

Rensi Ambang Ditahan, Keluarga Eky Masih Tidak Puas dengan Kinerja Polres Manggarai

MARJIN NEWS
29 September 2018

Foto: Screenshoot Video
Ruteng, Marjinnews.com -- Kasus Video "Supaya Laos" yang menjerat Rensi Ambang, Polres Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah menetapkan penyanyi kawakan itu menjadi tersangka serta menahannya sejak Rabu (26/9).

Ia ditahan karena diduga menjadi pelaku dalam kasus penyanderaan, pengeroyokan dan pemukulan (persekusi) Melkior Merseden Sehamu alias Eki (27 tahun), pada 24 Agustus 2018 silam.

Penahanan terhadap RA, justru menimbulkan pertanyaan di benak masyarakat dan keluarga korban.

Terlebih keluarga korban, mempertanyakan keseriusan dan keprofesionalan Polres Manggarai dalam mengusut kasus itu.

Pasalnya yang melakukan persekusi kepada Eki bukan hanya RA tetapi istri dan anaknya bernama Ronal Ambang.

Mus Hambur, Tua Golo Kampung Nobo, Desa Nampar Macing, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat yang merupakan paman kandung dari Eki mengatakan anak dan istrinya RA harus ditahan juga.

“Dari video yang RA viralkan sendiri itu kan terjadi pengeroyokan juga yang melibatkan istri dan anaknya. Mengapa mereka tidak dijadikan tersangka dan tidak ditahan ? Ada apa dengan Polres Manggarai ?” Ujar Mus.

Regina Raninai, warga Jakarta Pusat asal Manggarai menyayangkan Polres Manggarai yang lambat mengusut kasus ini. “Seharusnya sejak awal RA dan semua yang terlibat ditangkap. Lalu sekarang hanya RA yang dijadikan tersangka dan ditahan ? Mana istri dan anaknya yang ikut memukul ?” kata Regina.

Salah satu kuasa hukum Eki, Yance Janggat, mengatakan, langkah polisi menahan RA tergolong terlambat. Sebab, ini kasus penyekapan, penganiayaan dan pengeroyokan yang disebarluaskan melalui medsos, sehingga sungguh menyakiti rasa keadilan masyarakat. Selain itu, kasus ini bukan delik aduan itu, tetapi delik umum.

Yance mengaku belum puas dengan cara kerja Polres Manggarai. Kenapa ? Pertama, polisi hanya menetapkan RA sebagai tersangka tunggal. "Para pelaku lain di mana ? Dalam video yang disebarkan RA sungguh sangat jelas siapa-siapa pelaku. Mengapa polisi tidak menetapkan istri dan anak RA sebagai tersangka ?" tanya Yance.

Kedua, Yance mempersoalkan polisi yang hanya menyerat RA dengan Pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan yang ancaman hukumannya maksimal cuma dua tahun bui. Menurut Yance, RA dan pelaku lainnya juga harus dijerat dengan Pasal 333 KUHP tentang penyandaraan dan Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan serta Pasal 27 UU ITE.

"Dari video yang diviralkan jelas sekali korban disekap dan diayaniaya serta dikeroyok. Oleh karena itu, seharusnya RA dan pelaku lainnya dijerat dengan Pasal 333 KUHP tentang penyandaraan dan Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan serta Pasal 27 UU ITE," kata dia.

Kasat Reskrim Polres Manggarai, AKP Satria Wira Yudha, ketika dikontak, Jumat (28/9) mengatakan, berdasarkan hasil gelar perkara, RA dikenakan pasal 351 ayat (1) dengan ancaman dibawah lima tahun penjara.

Terkait dasar penetapan pasal tunggal pada kasus kekerasan yang disiarkan secara langsung di media sosial itu, Yudha menjelaskan,kasus ini merupakan delik murni.

“Berdasarkan visum, tidak ditemukan luka berat seperti yang ramai diberitakan seperti tulang rusuk patah dan gigi terlepas. Hasil visumnya ditemukan luka gores pada bagian mulut sehingga ketentuan pasal 351 ayat (2) tidak terpenuhi,” terangnya.

Lebih lanjut Yudha menjelaskan, meskipun ancamannya dibawah lima tahun penjara, namun pasal ini memuat pengecualian, sehingga tersangka bisa langsung ditahan.

Ia menambahkan, penahanan terhadap tersangka bukan karena tekanan atau intervensi dari pihak manapun, tetapi murni kewenangan penyidik karena sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Tidak ada intervensi dari pihak manapun. Kewenangan menersangkakan dan menahan orang itu murni kewenangan penyidik sesuai ketentuan yang berlalu,” tambahnya. (*)

Editor: Remigius Nahal