Orang Indonesia di Balik Platform Blockchain yang Dipakai LINE
Cari Berita

Orang Indonesia di Balik Platform Blockchain yang Dipakai LINE

21 September 2018

Foto: Istimewa
Teknologi, marjinnews.com - Baru-baru ini beredar luas di media internasional tentang Splend, platform jaringan blockchain. Hal ini terjadi pasca LINE mengumumkan penambahan platform blockchain global yang terdesentralisasi, TRON (TRX), ke token digital atau BITBOX. Penambahan tersebut merupakan proyek koin pertama yang lolos dari proses peninjauan yang dilakukan oleh komite open-listing BOTX.

"Upaya pengintegrasian TRON (TRX) dan BITBOX memungkinkan untuk terhubung dengan proyek blockchain yang memiliki pertumbuhan paling cepat di dunia," ujar CEO LINE Tech Plus, Youngsu Ko, dalam keterangan tertulis, 15 Agustus 2018. LINE Tech Plus adalah anak perusahaan LINE yang berbasis di Singapura.

Tidak banyak yang tahu, dibalik kesuksesan platform Splend adalah orang Indonesia sebagai pendiri dan CEO platform tersebut. Dia adalah Rick Bleszynski.

"Saya bersyukur beberapa teknologi karya saya dapat memberi kontribusi bagi pengembangan beberapa perusahaan besar IT di Amerika seperti LSI Logic, Intel, Cisco dan lainnya, yang diproduksi secara massal untuk kebutuhan swasta hingga pemerintah Amerika, dan siapapun di dunia yang membutuhkan pengembangan dalam infrastruktur IT," ujar Rick baru-baru ini.

Platform Splend dapat memberikan kemampuan untuk mengatasi masalah seperti skalabilitas, keamanan dan latensi. Jaringan blockchain memasuki kondisi yang sama seperti pada era Internet di tahun 90-an, di mana problem kelambatan, ketidakamanan, dan biaya tinggi menjadi isu penting.

Rick merupakan orang asli Indonesia yang tinggal di Silicon Valley, Amerika, sejak 1978. Dia berkarya di bidang pengembangan teknologi mikroprosesor dan infrastruktur internet selama hampir 30 tahun. Sebelumnya Rick adalah pendiri dan Chairman Bay Microsystems. Dia juga merupakan pendiri dan CTO Softcom Microsystems yang diakuisasi oleh Intel Corporation pada 1999.

Pria berkumis itu juga sempat berkarir sebagai mikroprosesor arsitek di beberapa perusahaan besar IT seperti LSI Logic Corporation dan Velonex Corporation. Karya-karya Rick merupakan terobosan baru di eranya dan memberi kontribusi dalam pencapaian penguasaan pasar yang signifikan, serta keuntungan besar secara finansial.

Infrastruktur blockchain mengalami banyak tantangan, hal itu menghambat Splend atas kelanjutan pengembangan dan adaptasi secara masif. Namun, dengan motto 'We Blockchain Blockchains' Splend justru akan menjawab tantangan tersebut, dan yakin mendorong percepatan berkembangnya jaringan blockchain hingga seperti komputer dan Internet saat ini.

Rick memiliki 8 paten yang terdaftar di Amerika terkait dengan prosesor dan jaringan pita lebar (broadband network). Paten tersebut di antaranya #7,742,405 dan #7,310,348 untuk Network Processor Architecture dan patent #6,311,212 untuk System and Methode for on-chip Storage of Virtual Connection Descriptors.

Splend mengembangkan platform teknologi yang dinamai Integrated Blockchain Architecture (IBA). IBA merupakan pendekatan sistem terskala yang membagi fungsionalitas blockchain antara perangkat lunak dan keras untuk memecahkan bottleneck yang terjadi dan memberikan kinerja transaksi yang optimal.

IBA mampu memproses transaksi blockchain secara cepat untuk jutaan pengguna dan piranti secara simultan. "Kami yakin bahwa blockchain akan menjadi jaringan baru yang terpercaya, sehingga harus mampu memproses ratusan juta transaksi per detik untuk jutaan pengguna secara simultan," lanjut Rick.

Platform IBA merupakan keberhasilan Splend mengkolaborasikan para ahli yang berpengalaman dengan berbagai latar belakang, sehingga dapat memecahkan masalah serupa pada dua revolusi platform komputasi dunia sebelumnya, baik di era komputer maupun Internet.

Splend juga berhasil mewujudkan jawaban bagi tantangan dan kebutuhan di era blockchain saat ini dan di masa depan. "Teknologi kami jauh lebih unggul dibandingkan para pesaing lainnya," tambah dia. (TEMPO/MN)