Moni: Gadis Penjual Kenikmatan, Sebuah Cerpen Karya Eman Jabur

Foto: Ilustrasi
Seorang gadis muda selalu berdiri di pinggir bangunan yang hampir mirip seperti Diskotik, Bar, atau apalah, sejenis tempat hiburan pokoknya. Dia begitu cantik dan tentu begitu lihai membelai kesunyian. Setiap malam yang dia lakukan adalah menjajakan kenikmatan. Di kota ini, kota yang sering pula orang menyebutnya sebagai kota tak bertuan, gadis seperti dia sangatlah banyak.
Di kota ini tempat dimana berbagai suku, ras, agama dan kepercayaan bersetubuh.

Entahlah, mungkin di sini lebih baik ketimbang di pulau Jawa sana, karena di sini orang tidak lagi peduli dengan perbedaan. Tetapi ada kemungkinan masuknya budaya dari luar yang menghancurkan moral para pribumi seperti yang terjadi dengan gadis  penjual kenikmatan di atas contohnya. Tekanan ekonomi serta tuntutan gengsilah yang menarik para gadis ayu itu untuk menjual kenikmatannya kepada para turis di kota ini.

Diantara semua gadis ayu penjual kenikmatan itu, yang terbaik dan tercantik adalah gadis yang kerap kali berdiri di pinggir bangunan tempat hiburan itu. Ia adalah bidadari lupa diri. Ia adalah putri yang tersesat.

Suatu ketika, saat kabar meletusnya Gunung Agung tersebar ke seluruh penjuru dunia, kunjungan para wisatawan baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara mengalami tingkat penurunan yang sangat memprihatinkan. Keadaan demikian menyebabkan banyak karyawan hotel, restoran, bar, kafe dan sebagainya yang di PHK. Miris sekali tentunya.

Dampak dari kabar meletusnya Gunung Agung membuat banyak orang galau, tidak terkecuali gadis penjual kenikmatan  itu. Dia mengeluh pada kesepian “kenapa? bahkan pekerjaan tak bermoral seperti ini begitu susah mendatangkan uang. Kenapa, nasib buruk begitu betah berpijak pada jalan hidupku? Kenapa? Kenapa Tuhan?”

Gadis itu menjadi sedih hatinya. Dia mulai memikirkan gaya hidupnya yang terlalu glamor, yang hingga membuatnya terseret pada pekerjaan yang tidak pernah dia inginkan. Tetapi tentu saja, bekerja sebagai penjual kenikmatan merupakan pilihannya.

Di dunia ini ada begitu banyak pilihan yang bukan merupakan sesuatu yang kita inginkan. Keterpaksaan adalah sebuah tawaran yang tidak bisa ditolak.

Dalam keadaan yang membingungkan itu seorang pria tampan mendekati gadis itu. Pria itu bukan bule, melainkan blasteran, campuran Belanda-Indonesia. Bapaknya orang Belanda sedangkan mamanya orang Indonesia.

“Apa yang dilakukan oleh gadis cantik seperti dirimu di sini?” Tanya pria itu.
“aku? Aku sedang menjual kenikmatan. Sudikah kau membelinya?”
“Apa aku tampak seperti binatang? Jawab pria itu dengan balik melempar tanya. “Kamu masih bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih layak” lanjutnya.
“Sudahlah. Pergi saja kau dari sini. Aku tidak membutuhkan penceramah sepertimu.”

Pria itu kemudian pergi tanpa berpamitan. Dia mungkin kesal dengan ucapan gadis itu, sementara gadis itu kembali membelai kesunyian. Pada setiap tanya keluhnya pada kesepian dia masih sempat berharap. “semoga ini hanya mimpi. Semoga pekerjaan yang sedang aku geluti hannyalah bunga tidur yang layu”. Entah kenapa harapan konyol itu semakin kuat menghantuinya. Gadis itu mungkin terpengaruh ucapan pria tadi.

Beberapa saat kemudian gadis itu pun meninggalkan tempat itu. Dia kembali ke penginapannya. Ada begitu banyak lelah yang dipikulnya hari ini. Lelah yang amat berat baginya adalah karena tidak berhasil mendapatkan uang, kemudian disusul dengan perasaan sesalnya akan kehancuran masa depannya. Malang sekali nasib gadis itu. Dia merupakan korban pergaulan bebas yang sedang nge-trend di zaman now ini. Di penginapannya dia duduk di depan teras, sebatang rokok dia nyalakan. Kepulan asap rokoknya merepresentasikan kepenatan hatinya.

Sudah dua batang rokok yang habis diisapnya, tetapi kepenatan hatinya enggan untuk hilang. Matanya pun enggan untuk merem. Kekacauan hidupnya telah sampai pada puncaknya. Jika sebelumnya yang kacau hanya moralnya saja sekarang malah lebih parah. Sisi finansialnya pun telah merangkak sampai pada tingkat yang membahayakan.

Dia sudah tidak membayar penginapannya selama satu bulan, dan kalau keadaan seperti ini (baca: menurunnya jumlah wisatawan) terus berlanjut, maka sudah tentu bulan berikutnya juga pembayaran penginapannya akan menunggak juga. Kasihan sekali gadis itu. Padahal dulunya dia merupakan idola banyak lelaki.

Konon katanya gadis itu adalah mahasiswa disalah satu perguruan tinggi di kota ini. Belum sampai pada gelar S1, pergaulan bebas telah lebih dulu menariknya, hingga akhirnya dia jatuh. Bunga adalah nama temannya yang telah mengajaknya untuk menekuni pekerjaan seperti ini. Sekarang temannya itu telah pergi ke suatu tempat yang amat jauh. Dia pergi dengan suaminya, yang merupakan lelaki penggiat seks bebas juga.

“Moni”. Itulah nama gadis penjual kenikmatan itu. Dia merupakan gadis yang datang dari Kampung yang jauh. Kampung yang konon katanya merupakan tempat segala prestasi buruk membumi. Tempat di mana keterbelakangan menjadi semacam budaya. Tempat di mana menjadi sarang bagi banyak orang tak pendidikan bersembunyi. Tempat di mana para koruptor memanen hasil dengan gampang. Tempat di mana kemiskinan berpijak.

Pokoknya Kampung itu sangat payah jika di bandingkan dengan Jakarta. Entah apa dan siapa yang menyebabkan semua itu, tak seorang pun ingin mencari tahu, atau ada yang tahu tapi pura-pura tidak tahu. Entahlah…

Tetapi sebenarnya di tempat asal Moni masih ada kejayaan yang tidak disadari oleh penduduknya. Misalnya, kekayaan budaya yang luar biasa banyak dan unik, potensi tempat wisata yang cukup menjanjikan, tekstur tanah yang cukup subur dan kekayaan alam yang tentunya sangat banyak. Namun apalah arti semua itu tanpa sumber daya manusia yang memadai. Mungkin peribahasa klasik “tikus yang kelaparan di lumbung padi” sangat cocok untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk di Kampungnya.

Namun yang patut diangkat jempol adalah toleransi antar suku, ras dan agama di sana sangat kental. Tidak heran jika Kampungnya pernah dinobatkan sebagai Kampung dengan tingkat toleransi paling tinggi. Bukan hanya itu, sifat sosial dan saling menghargai di sana adalah suatu keharusan yang tulus. Ramah dengan pendatang juga merupakan budaya yang terlanjur mengakar.

Sebetulnya semua kelebihan di atas bisa menjadi modal yang dapat mendongkrak industri pariwisata di sana. Tapi, ahh.. sudahlah… kemampuan mengelola suatu potensi dengan tingkat keahlian yang cukup mumpuni masih sangat jarang di sana.

Padahal jika kemampuan mengelola sumber daya alam, budaya dan pariwisata diasa, niscaya Kampungnya bisa menjadi seperti kota tak bertuan ini, kota dengan seribu pura, kota dengan jumlah wisatawan paling banyak, kota dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi. Tetapi sepertinya itu masih jauh. Masih hanya sebatas harapan semu.

Sebetulnya jika dilihat sekarang, rupanya sudah mulai tampak kesadaran para penduduk di Kampungnya untuk bangun dari keterpurukkan. Seperti misalnya ada kesadaran dari orang tua akan pentingnya pendidikan, sehingga mereka menyekolahkan anaknya, bahkan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Moni adalah salah satu anak yang dikirim oleh orang tua yang berasal dari Kampung itu. Tetapi yang dilakukan Moni di sini malah menjual kenikmatan. Sayang sekali tentunya.

****
“Tubuh wanita adalah sampah dengan penuh kenikmatan” itulah kalimat yang sering menjadi menu ejekan para pelanggan untuk Moni usai mereka menikmati selengkangannya. Bagi Moni itu sudah biasa. Segala macam kalimat pedih yang menyayat hatinya adalah suatu kehitaman dari pekerjaannya. Dia sudah sadar dengan konsekuensi pekerjaan yang diambilnya. Dia menyesal, ya dia menyesal. Namun penyesalannya masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan cintanya akan uang dan kemewahan.

Beberapa minggu kemudian tepatnya pada malam hari Moni si penjual kenikmatan keluyuran seperti biasanya. Dia menyusuri lorong-lorong kegelapan. Meraba celah demi celah aurah para lelaki penggiat seksual. Dia begitu berharap bisa mendapatkan pelanggan dengan bayaran yang mahal. Namun nasib buruk lagi-lagi memeluknya.

Dia betul-betul tidak mendapatkan satu pelanggan pun. Bahkan yang sekedar mendekat untuk tawar menawar saja tidak ada. Malang sekali. Lalu dia pergi berdiri di samping bangunan itu, bangunan tempat hiburan. Tempat yang menjadi temannya dalam membelai kesunyian. Tembok bangunan itu adalah saksi bisu akan kekacauan hidupnya.

Karena tidak ada satu pun lelaki hidung belang yang mau menikmatinya, Moni pun bermaksud untuk pulang, tetapi seorang pria tampan menghampirinya. Moni merasa tak asing dengan tampang pria tampan itu. “sepertinya aku mengenal pria ini, semoga saja dia mantan pelangganku” gumanya dalam hati.

“Enu, kamu masih ingat sa kah?
Moni kaget. Bagaimana mungkin pria dengan tampang  bule ini bisa bicara menggunakan logatnya.
“Lupa-lupa ingat. Kamu kok bisa menggunakan logat Manggarai? Kamu dari mana? Dan kita pernah bertemu dimana?”

“Jelaslah. Saya kan orang Manggarai. Hanya saja saya punya bapa orang Belanda sedangkan saya punya mama orang Ruteng. Kita pernah ketemu dini juga e. Dua minggu yang lalu kalau sa tidak salah ingat.”

“Ooo iyaa, sa ingat sudah. De nana4 jangan cerita-cerita diorang lain tentang sap pekerjaan e”. Pinta Moni.
“sante5 saja. Mari!,, kita duduk di sana saja dulu. Sambil cerita-cerita” ajak pria tampan itu. “Oh iya, sap nama Fridus. Enu punya nama siapa?”, lanjutnya.

Moni mengangguk. “sap nama Moni ee. Nana, kenapa pas ketemu pertama dengan sa tidak langsung pakai logat Manggarai?”

“Soalnya waktu itu kah sa belum yakin kalau enu Moni orang Manggarai.
Malam itu mereka menceritakan banyak hal. Cerita tentang hitam dan putihnya kehidupan, tentang cinta, tentang masalah negara, tentang masalah sosial, tentang budaya dan tentang dunia malam. Mereka tampak begitu akrab.

Ketika sudah subuh mereka balik ke penginapan masing-masing. Sampai di penginapannya Moni merasakan sesuatu yang aneh. Ada semacam rindu untuk Fridus yang dihembuskan angin subuh. Namun Moni sadar dengan posisinya. Dia hanya bunga yang terus diisap oleh kumbang-kumbang penggila seks.

Dia hanya wanita bayaran, wanita dengan nilai jual paling murah meriah. Wanita yang tak dirindukan. Namun siapa sangka ternyata Fridus menyukai Moni. Bukan karena Fridus penggila seks, namun karena ada cinta yang tak bisa ditolak oleh hatinya. Ketulusan akan cintanya untuk Moni dia ungkapkan melalui pesan WhatsApp.

“Enu,,, semenjak sa ketemu ite6 di samping tempat hiburan itu, jujur saja sa tidak bisa menyangkal kebenaran tentang sap perasaan ke ite. Sa menyukai ite enu. Sa tidak peduli dengan masa lalunya ite. Sa mau menerima segala kekurangannya ite enu. Sa mencintai enu dengan tulus. Enu mau toh jadi sap pacar?

Membaca pesan itu Moni senang bukan main. Hatinya mekar berbunga. Namun lagi-lagi dia menyadari keadaannya. “pantaskah seorang pelacur seperti aku jatuh cinta?” tanyanya dalam hati.

Tetapi dia juga tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Dia tidak bisa menolak cinta Fridus untuknya. "Iya. Sa mau nana. Asalkan nana bisa menerima sa dengan tulus ikhlas”.

****
Sebulan telah berlalu, selama itulah Moni dan Fridus memadu kasih. Saat itu Moni sudah mulai merasa seperti wanita normal lainnya. Merasakan cinta. Merasakan gairah kasmaran yang menembus batas-batas kesunyian.

Moni sangat bersyukur bisa mendapatkan lelaki seperti Fridus. Tetapi belum lama Moni mengecup kebahagiaan itu, sebuah kabar buruk menyusup dan mengambilnya. Fridus, pria yang menyelamatkannya dari gelapnya dunia malam di temukan tewas karena gantung diri di penginapannya.

Belum tahu apa penyebab dia bunuh diri, sebelum akhirnya sebuah buku catatan harian ditemukan tergeletak di atas meja. Di buku harian itu, di halaman terakhir yang berisi tulisan, ada kutipan singkat “Enu Moni, sa kena HIV, jadi sa pergi duluan, sa tahu ite akan menyusul. Sampai ketemu di Surga. I miss you”

Keterangan:
1Enu = panggilan untuk perempuan dalam bahasa Manggarai
2sa = saya 
3sap = saya punya / punya saya
4nana = panggilan untuk laki-laki dalam bahasa Manggarai
5sante = santai
6ite = kata ganti orang dalam bentuk paling sopan dalam bahasa Manggarai

Oleh: Eman Jabur
Penulis adalah Mahasiswa di Universitas Warmadewa, Bali

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,111,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,149,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,540,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,62,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,272,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,201,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,90,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1034,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,24,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,91,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,45,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,6,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Moni: Gadis Penjual Kenikmatan, Sebuah Cerpen Karya Eman Jabur
Moni: Gadis Penjual Kenikmatan, Sebuah Cerpen Karya Eman Jabur
https://1.bp.blogspot.com/-ue7u0KmywMw/W4v5873WdmI/AAAAAAAACT4/zFN_4-NaUQkUumdqwzzBM-75XjOPpxm0wCLcBGAs/s320/20180902_225407.png
https://1.bp.blogspot.com/-ue7u0KmywMw/W4v5873WdmI/AAAAAAAACT4/zFN_4-NaUQkUumdqwzzBM-75XjOPpxm0wCLcBGAs/s72-c/20180902_225407.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/09/moni-gadis-penjual-kenikmatan-sebuah.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/09/moni-gadis-penjual-kenikmatan-sebuah.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy