Menjamu Gelisah, Kumpulan Sajak Karolina J. Pepo
Cari Berita

Menjamu Gelisah, Kumpulan Sajak Karolina J. Pepo

MARJIN NEWS
5 September 2018

Foto: Dok.Pribadi
Berdiri di depan pintu rumah sambil mengurai senyum manis dengan ramah.
Kepada siapakah?
Entahlah.

Bisikan manja untuk terperangah kepada yang masih jauh.
Seakan demikian tidak pernah punah.

Tik tok jam dinding selalu berbunyi.
Melaju tanpa henti.

Terdengar risih, tapi biarlah dia begitu.
Nampaknya jam dinding tak pernah pusing dan enggan melihat bahwa di rumah itu ada yang sedang terjerumus dalam penyakit penantian.

Ah mungkin saja jam dinding tak mau peduli akan apa yang terjadi di sekitarnya.
Tik tok jam dinding terus berbunyi dan melaju sampai tiba waktunya dia pun berhenti dan diam.

Resah meradang
Amarah pun memuncak
Begitu banyak pertanyaan yang muncul menggoda telinga untuk mendengar, bukan saja mendengar tapi memahami lalu senantiasa mengajak mulut untuk menjawab.
Pertanyaan-pertanyaan itu terasa dingin merasuk sukma.
Seakan rancangan gagasan seketika membeku.
Melulu lantahkan segala ingatan.
Merintis rintik-rintik air mata pada angan yang sudah tercerai berai.
Menjamu gelisah pada harapan yang sudah terpisah-pisah.
Menjelma lelah pada cita yang sudah tersobek-sobek dalam buku karangan.

Coretan pena
Agustus, 2018

Engkau

Sungguh hati resah
dalam lembah gelisah
Jiwa pilu penuh
Rindu yang selalu ku sembah

Pena saja tak usai ku gerakan tuk lukiskan kisah
Mata juga tak mampu memandang yang jauh

Ah sedih
Itu kian merambah
Aku bak tak bertuah
Kini berselimut keluh kesah

Ruteng, 2018

Mulai Resah

Pandangan buram di penghujung malam kelabu.
Yang terlihat hanya bersemayam kelam kalbu.

Seakan terasa gundah mengiringi tidur lelap.
Remuk jiwa.
Sekejap berharap tidak ada mimpi.

Tak tahu akan paginya yang kemudian.
Mungkin juga hilang bersama resah yang tak berujung.

Ruteng, 2018

Amarah

Nada-nada rindu ini berlalu.
Seakan pergi bersama aura kemarahanmu.
Semuanya lelap diterpa angin.
Sejenak ku hanya ingin diam dalam gelap keheningan.
Ingin ku siram debu.
Tuk sedikit menutup duka.
Mulut seperti dijahit,tuk bungkam tak mampu mengurai kata.
Katamu adalah racun.
Yang kuserap dan seketika 'ku terbius rasa sakit.


Ruteng, 2018