Mengaku Salah Prosedur, PLN dan Vendor Minta Maaf kepada Warga Satar Mese Utara
Cari Berita

Mengaku Salah Prosedur, PLN dan Vendor Minta Maaf kepada Warga Satar Mese Utara

MARJIN NEWS
26 September 2018

Foto: Istimewa
Ruteng, Marjinnews,com -- Polemik pengembangan aliran listrik ke beberapa desa di wilayah Satar Mese Utara akhirnya mencapai titik temu antara warga yang merasa dirugikan dengan pihak PLN dan Vendor sebagai pengerja pengembangan aliran listrik tersebut.

Pada Selasa (25/9) kemarin, pihak PLN dan warga melakukan mediasi di kantor Desa Gulung yang dihadiri oleh Camat Satar Mese Utara, kapolsek Satar Mese Utara, UUPK II NTT, pihak PLN, Vendor, tokoh masyarakat dari 4 Desa dan warga yang lahannya dilalui proyek aliran listrik tersebut.

Dihadapan warga, Kepala Desa Gulung yang berlaku sebagai mediator menyampaikan permohonan maaf atas pengerjaan proyek kelistrikan di wilayah itu.

Ia menjelaskan, proyek kelistrikan yang tengah dilakukan oleh pihak PLN bersama Vendor ada kesalahan prosedur.

Sebagai bentuk pengakuan kesalahan dari pihak pengembang proyek listrik tersebut, pihak pengembang bersedia memberi kompensasi sesuai kemampuan mereka.

Kepada marjinNews, Yohanes Deme mengaku puas, akhirnya tuntutan mereka tidak sia-sia.

"Hari ini antara kami sudah ada titik terang. Kami merasa puas dengan keputusan hari ini," ujarnya.

Ia menerangkan sebagai pihak yang bermasalah terkait perluasan jaringan listrik yang melewati Desa Todo, Desa Golo Renda, dan Desa Golo Ropong, hari ini menjadi keputusan terakhir dan menjadi final.

Sebelumnya, pengerjaan untuk pemasangan jaringan listrik ke wilayah Satar Mese Utara terpaksa dihentikan untuk sementara waktu.

Penghentian itu dilakukan akibat belum adanya titik temu kesepakatan antara pihak pengembang atau vendor pengerjaan pemasangan listrik dengan warga di Desa Gulung, Satar Mese Utara yang merasa dirugikan.

Warga bersikukuh agar pengerjaan listrik di wilayah itu dihentikan untuk sementara.

Mereka masih menuntut ada ganti rugi terhadap tanaman milik mereka yang ditebang sepihak oleh pihak pengembang beberapa waktu lalu.

Masalah antara warga Desa Gulung dengan pihak pengembang listrik ini sudah dua kali melakukan mediasi namun selalu gagal.

Pada mediasi sebelumnya warga Desa Gulung memberikan tiga tuntutan mereka kepada pihak Vendor atas nama CV Telaga sebagai pengerja pemasangan jaringan listrik tersebut.

Pada Senin (17/9) lalu janji untuk merealisasikan tiga tuntutan warga
tersebut kembali gagal.

Pihak Vendor yang dihadiri oleh Arif sebagai perwakilan dari pihak Vendor CV Telaga dan Bagus Kepala PLN menemui kembali warga Desa Gulung untuk membahas hasil mediasi seminggu yang lalu yang di lakukan di kantor desa Gulung yang dimediasi oleh Kades Gulung Rius Prau sebagai Mediator.

"Dari 3 tuntutan yang diberikan kepada pihak pengembang pada satu minggu yang lalu hanya satu poin saja yang baru diberi jawaban," ujar Yohanes Deme kepada MarjinNews Senin (17/9).

Yohanes Deme menerangkan, untuk dua poin lainnya, belum dipenuhi pada hari ini oleh pihak PLN dan pengembang.

"Kami sebagai masyarakat yang dirugikan terkait proyek listrik tersebut oleh PLN atau vendor belum memberikan jawaban yang memuaskan," ujarnya.

Namun kata Jon, kesepakatan yang didapati hari ini antara kedua belah pihak yaitu masih menunggu lagi jawaban yang pasti dalam jangka waktu selama dua hari terhitung sejak Senin (17/9).

"Tuntutan terakhir kami hari ini bahawa PLN sebagai pihak yang melakukan instalasi listrik yang melewati kebun kami, pihak PLN bersedia memasang pelakat ulang terkait himbauan larangan utuk pekerjaan sementara dihentikan. Pengerjaan baru bisa dilanjutkan setelah masalah klear," terangnya.

Untuk diketahui, Pembangunan jaringan PLN di daerah Satar Mese Utara, Manggarai, NTT tidak berjalan dengan mulus.

Warga merasa dirugikan karena menganggap pihak PLN  melakukan penebangan sepihak terhadap tanaman milik mereka.

Yohanes Deme warga asal Tampar, Desa gulung, Satar Mese Utara merasa dirugikan dan keberatan terhadap tindakan yang dilakukan oleh PLN.

"10 tahun lebih yang lalu orang tua kandung saya sudah menanam beberapa jenis tanaman seperti nangka dan mahoni. Sekarang tahun yang ke 11 tanaman itu sudah tumbuh menjadi pohon yang besar. Belum saatnya untuk dipanen atau dipakai atau digunakan, tiba-tiba secara sepihak PLN melakukan penebangan dengan alasan untuk kepentingam umum untuk masyarakat yang membutuhkan penerangan listrik," terangnya kepada MarjinNews pada Jumat (31/8).

Atas keberatan itu pihak Yohanes Deme kemudian melaporkan PLN ke Kepala Desa Gulung sebagai kepala wilayah dari tempat kejadian itu dan juga ke pihak kecamatan sebagai kepala wilayah Satar Mese Utara. (*)

Editor: Remigius Nahal