Menakar Peluang Politisasi Isu SARA Menuju Pilpres 2019
Cari Berita

Menakar Peluang Politisasi Isu SARA Menuju Pilpres 2019

Marjin News
2 September 2018

"Gerindra akan menyoroti banyak hal terkait persoalan ekonomi yang menjadi persoalan saat ini, terutama masalah kesenjangan di masyarakat," tutupnya (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta, marjinnews.com - Pengurus Pusat PMKRI melalui Lembaga Kajian, Penelitian, dan Pengembangan (LKPP)  menyelenggarakan kegiatan diskusi publik bertajuk "Menakar Peluang Politisasi isu SARA Menuju Pilpres 2019" pada hari Sabtu, 01 September 2018. 

Diskusi ini menghadirkan narasumber antara lain Martin Hutabarat dari DPR RI Fraksi Gerindra, Firman Jaya Daeli dari PDIP dan pernah menjadi anggota komisi politik dan hukum DPR RI, Rohim Ghazali dari PP Muhammadiyah, dan Hadi Suprapto Rusli, pengamat politik Indo Barometer. Diskusi dipandu oleh Orin Lado Wea.

Ketua LKPP PP PMKRI, Alfredo Nabal dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran kaum muda dalam mencermati dinamika politik hari-hari ini. 

"Kaum muda perlu terlibat aktif dalam menanggapi persoalan-persoalan politik di tanah air, terutama pada momentum menjelang pesta demokrasi 2019. Keterlibatan kaum muda, terutama melalui wacana-wacana yang dihadirkan dalam ruang publik, mampu menjadikan demokrasi kita semakin bermartabat. Diskusi publik kali ini mencoba untuk mewujudkan hal ini melalui tema yang begitu aktual," tegas Alfredo.

Selanjutnya, Martin Hutabarat menilai, politisasi isu SARA dalam proses politik menuju pesta demokrasi tahun 2019 tidak akan terjadi. Martin lebih menyoroti persoalan hoax yang menimbulkan kekeliruan persepsi di masyarakat yang menciptakan ketegangan-ketegangan horizontal di masyarakat. Ia juga menyatakan dengan tegas posisi Gerindra yang menolak politisasi isu SARA. 

"Gerindra akan menyoroti banyak hal terkait persoalan ekonomi yang menjadi persoalan saat ini, terutama masalah kesenjangan di masyarakat," tutupnya

Sementara itu, Firman melihat isu SARA yang kerap dimanfaatkan dalam politik praktis disebabkan oleh ketidakmampuan politisi dalam menggaet suara dari masyarakat. 

"Isu SARA menjadi jalan paling mudah untuk menarik konstituen," terang Firman.

Menyoal politisasi isu SARA, Rohim dan Hadi menyampaikan hal senada. Mereka menilai, isu SARA akan tetap ada dalam setiap kontestasi politik. Yang membedakannya hanya seberapa besar isu itu dimainkan. Lebih lanjut, Hadi menyampaikan, isu SARA menuju pilpres 2019 sangat kecil. Ini terjadi karena posisi Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi.* (VP/MN)