Lan Dari Xaverian: Tetesan Bintang
Cari Berita

Lan Dari Xaverian: Tetesan Bintang

27 September 2018

Pada sebuah pertemuan, ketika sore sedang asyiknya bercengkerama dengan jingga dan malam, angin melantunkan melodi cemburu pada empat mata yang bertatap mesra mengabarkan cinta antara keduanya. (Gambar: Wulandari).


Di antara kalian, apa ada yang percaya pada cinta yang tumbuh dari sekedar tatap?
Atau jatuh pada cinta yang membuat orang jadi gila? 
Jika tidak, kita sependapat.

Aku sempat berpikir demikian. Bahwa benar yang dikatakan orang-orang yang merasionalisasi perasaan bernama cinta. 
Aku bagian dari mereka. Bagian dari mereka yang menertawai orang-orang yang mendadak aneh karena cinta. Bertingkah konyol, senyum - senyum sendiri, dan kekonyolan lainnya. Mereka seperti mendadak gila.

Tentu punya alasan menertawai mereka, tidak begitu tabu untuk jadi bahan canda yang ditertawakan. 
Bagiku, perasaan bernama cinta itu hal biasa yang tidak perlu diperlakukan berlebihan pada manusia. Tidak perlu jadi gila karena jatuh cinta, apa lagi jadi bodoh. 
Dulu, aku begitu bangga dengan definisiku tentang cinta. Sangat bangga malah. Itu dulu. 

Kalian tahu, sekarang bagaimana? 
Aku sedikit malu menceritakannya. 

***

Lan Dari Xaverian, bintang yang hadir di antara kegelisahanku dengan perasaan. Kegelisahan ketika mereka yang konyol itu menertawai aku dan bilang aku konyol dan bodoh.
Menurut kalian siapa yang konyol? Siapa yang bodoh? Entahlah. 

Aku lanjutkan dulu tentang sang bintang, Lan Dari Xaverian.
Tidak begitu hebat, tidak begitu cantik, tapi padanya aku menemukan keteduhan tempat kepergianku menemukan kepulangan. Pada pertemuan pertama, dia bukan siapa-siapa. Gadis biasa, yang mungkin tercipta dari benih-benih indah dan rindu. Itulah kenapa, setelah sapa pada temu, aku seprti berlayar pada rindu dan dia adalah muara dari rindu itu. Tak bisa ditolak, dia adalah keindahan itu. Ingin menyangkal, tapi aku tak bisa buat apa-apa. 


Kalian tahu bgimana itu bisa terjadi. 
Tak perlu banyak referensi, dia tidak bisa dijelaskan seperti tugas kuliah. Atau dinalarkan dalam nalar akademik. 
Cukup pada tatap dan sapanya. Tatapnya, matanya memberi arti tanda titik, tempat aku harus berhenti selamannya. Sementara ucapnya seperti delir-delir kasih, menyenangkan. Di sana, tempat riuhku menemukan ketenangan. 
Ajaib bukan? 

Aku bukan orang yang pandai berbicara tentang psikologi, bahkan tentang psikologiku sendiri. Bukan berarti aku tak bisa berandai-andai tentang perasaan dan kehidupanku. 
Kalian tahu, bagaimana aku menjelaskan perasaanku padanya? 
Jika kalian tanya, jawabku tidak bisa. 
Sepertinya cintaku jatuh padanya. Itu keyakinanku, tapi tidak bisa aku jelaskan. Karena, kalau aku jelaskan kalian akan tertawa dan bilang, konyol dan bodoh. 

Yah, Lan Dari Xaverian membuatku seperti bodoh. Di hadapanya aku seperti luluh dan tak bisa apa-apa. Jika sedang sendiri aku seperti berada didekatnya, dia menari ria di imajinasiku. 
Itulah, pada akhirnya, aku kalah dengan orang-orang yang pernah aku tertawakan. 
Sekarang, aku bagian dari mereka. Bagian dari mereka yang ditertawakan orang-orang. 

Hidup memang unik, dia selalu punya cara untuk memberi tahu, apa lagi tentang kebenaran. Itulah tentang aku dan Lan Dari Xaverian.

***

Pada sebuah pertemuan, ketika sore sedang asyiknya bercengkerama dengan jingga dan malam, angin melantunkan melodi cemburu pada empat mata yang bertatap mesra mengabarkan cinta antara keduanya. 


Lan Dari bersua denganku, bercakap tentang kisah kami memperjuangkan hidup, menaklukkan tantangan sampai pada bagaimana kami bermimpi dan mewujudkannya. Sungguh, kami dengan bahagia bercerita. Hingga pada akhirnya sore tak lagi jingga, mungkin dia cemburu, hingga mengubah diri menjadi gelap. Tak apalah, hanya alam orang-orang yang gelap, tidak dengan alamku, aku menemukan tetesan terang di matanya. Seperti bintang-bintang yang menetas indah dalam dirinya. Sungguh.


Oh iya, Itu dulu ya tentang Lan Dari Wulandari. Aku ingin menikmati malam ini dengannya dulu. Bukan apa-apa, aku ingin temui dia dalam imajinasi dan merebahkannya pada tempat paling nyaman di hati.

Sampai jumpa di Lan Dari Xaverian bagian kedua, dia tak akan selesai dalam kata-kataku. Kalian percaya saja.* 




PenaBiru